
"Ma, Abi pulang," panggilnya yang telah masuk ke dalam rumah. Mama sofi pun menyambut dan melipat jas nya untuk segera di cuci.
"Nisa, mana?"
"Tidur," jawab Sang Mama padanya.
"Jam segini, tidur?" dengus Abi.
"Ih, kamu! Nisa daritadi itu ngga diem. Beberes rumah bantuin Mama sama Bik Nik. Lihat, rumah udah bersih mentereng begini." tunjuknya, ke seisi rumah yang memang telah begitu rapi itu
" Iya Ma, maaf. Abi hanya bertanya. Abi akan segera menyusul Nisa di kamarnya," jawab Abi, yang kemudian naik ke atas.
Ia mengetuk pintu beberapa kali, namun tak ada jawaban. Ia pun akhirnya membuka pintu perlahan, dan memasukkan kepalanya terlebih dahulu. Ngeri, jika Nisa dtengah melakukan sesuatu di dalam sana yang akan membuat nya tersentak kaget.
"Nisa?" panggilnya, hingga Ia menemukan sang istri masih tergeletak di ranjang mereka.
"Nis... Nisa, hey..." Abi mencoba mengguncangi tubuh Nisa, dan berusaha membangunkannya. Meski sukar, namun akhirnya Nisa terbangun meski dengan mata yang masih begitu lengket.
"Hmmm, Mas udah pulang?" sapa nya, dengan mengulurkan tangan. Abi pun membalasnya, dan Nisa segera mencium tangan itu dengan lembut.
__ADS_1
"Kau, belum mandi?" Abi memicingkan matanya menatap Nisa yang lusuh.
"Belom," geleng Nisa. "Kan, tadi lagi tidur, mana mungkin mandi."
"Yaudah, sana mandi." Abi menyibakkan selimut itu, agar Nisa segera menuruti perintahnya.
Sementara Nisa mandi, Ia duduk bersandar di sofa kecilnya. Bermain gadget, dan meregangkan ototnya yang terasa kaku, dan sebenarnya butuh sedikit pijatan. Biasanya, Alex yang begitu terampil, dan mereka akan bergantian melakukannya.
Kreeeek! Nisa keluar. Kali ini hanya mengenakan handuk sebatas dada dan Sepuluh centimeter diatas lutut. Dengan rambut nya yang Ia bungkus dengan kantung khusus, dan otomatis memperlihatkan leherya yang jenjang. Dengan percaya dirinya, bersenandung tanpa melihat keadaan diruangan itu.
*Tata rata boom, Boom, Boom... Retetet. Toret toret tetet.... Oyeah oyeah.... Tatarata boom, boom, boom.*
Abi melihatnya, mematung dan menelan salivanya kuat-kuat. Sesekali menoleh kanan kiri, dan Ia sadar jika memang sedang sendiri. Terus diam, dengan gadget yang masih bertengger diatas tangannya. Tapi, tak Ia mainkan sama sekali.
Tak munafik, nalurinya sebagai lelaki pasti muncul. Apalagi, Nisa adalah istri sahnya. Matanya semakin terbelalak, tatkala Nisa sedikit berjinjit mengambil pakaian yang ada diatas. Dengan tubuh pendeknya, itu sangat sulit hingga Ia harus beberapa kali meloncat hingga handuknya semakin naik tinggi nyaris memperlihatkan Auroranya.
"Haish!" gerutu Abi, yang serasa gemas melihat Nisa tak berhasil juga dengan targetnya.
"Aaaaah, kenapa tinggi sekali. Aku tak dapat menjangkaunya," keluh Nisa, yang berkali-kali gagal dengan aksinya. Bahkan, handuk mulai terasa kendor dan harus Ia topang dengan tangan yang satunya lagi.
__ADS_1
"Kalau susah, minta tolong. Jangan diam saja," tangan Abi mendadak datang dan meraih pakaian Nisa yang ada diatas tadi.
"Nih," Abi memberikannya.
Sekarang, giliran Nisa yang mematung. Bahkan, tangannya gemetar dan wajahnya memucat.
"Kau, kenapa?" tanya Abi.
"Mas, daritadi di kamar? Lihatin Nisa?" tanya nya gugup.
"Ya, daritadi aku disana,"tunjuk Abi pada sofanya. Ia pun mendekatkan bibir nya ke telinga Nisa, dan berbisik dengan begitu lembut."Kau, pandai bergoyang, rupanya."
"Aaaaarrrrrgghhhh!" seketika Nisa berteriak, dan spontan memukuli dada Abi. Mau tak mau, Abi harus meraih tangan Nisa dan menahannya.
"Kenapa ngga ditegur? Kan jadi lihat!"
"Memang kenapa, kalau aku lihat?"
"Iiih, Nisa malu....." omel nya. Namun, aksinya yang brutal itu justru memperparah keadaan. Handuknya justru terlepas, dan jatuh ke lantai. Mata Abi seketika membulat dengan begitu sempurna. Menatap keatas dan bergantian kebawah.
__ADS_1
"Aaaaaarrrrrrgggggghhhhh! Mas Abi!"