Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Apa yang kau sembunyikan?


__ADS_3

"Apa yang kau sembunyikan?" tanya Alex, sembari menyetir dan tatapannya fokus ke depan. Begitu penasaran dengan apa yang Dita buat hari ini.


"Tak ada. Aku tak menyembunyikan apapun. Hanya menunggu waktu saja."


"Hey...." tegur Alex, tapi Dita tetap pada pendiriannya.


Keduanya tiba di rumah Abi. Alex meminta Dita untuk membantunya memilihkan pakaian ganti untuk pria itu, karena Dita yang lebih paham tentang semuanya. Dita pun memberikan sebuah paper bag berisi pakaian Abi pada Alex.


"Hey..." Alex meraih lengan Dita, dan menggenggamnya dengan erat.


"Abi menyuruhku pulang."


"Dia bukan Bosmu lagi, jadi aku bisa menahanmu sekarang."


Dita membalik tubuhnya, dan mereka beradu pandang sekarang.  Alex melangkah mendekat, tangan nya tetap menahan Dita agar tak mundur menghindarinya. Tampak Dita gugup, sesekali mencoba membuang muka dan menghindari tatapan intens pria itu.


"Kau tak dapat menyembunyikan apapun dariku," usapnya mesra, menyingkirkan beberapa helai rambut Dita dan menyelipkan nya di belakang telinga. Dita tengah mencoba mengatur nafasnya sendiri, yang terasa sulit untuk Ia kotrol dengan keadaan yang tengah Ia hadapi.

__ADS_1


" Apa mau mu? "


" Jangan bertanya, Dita. Karena kau tahu, meski aku tak pernah menjawabnya dengan bibirku."


"Ngga usah ngawur, Lex.  Aku malas, jika nanti harus berurusan dengan para pacarmu. Malas, jika aku dilabrak ketika hidupku mulai akan tenang." Dita menepis tangan Alex, dan berjalan dengan cepat menjauh darinya. Bahkan, setengah berlari keluar menghampiri mobil yang Ia parkir di halaman rumah mewah itu.


Alex hanya memasang senyumnya. Mencium tangannya yang baru saja Dita lepas, dan menghirup aroma tubuh itu yang begitu khas. Setidaknya, Dita merespon perasaan nya kali ini.


"Hanya tinggal prosesnya, Dita." gumamnya sendirian.


Alex segera pergi, dan menyusul Abi kembali ke Rumah sakit.


Abi terlentang, setengah duduk di brankar Nisa. Lengan kirinya menjadi bantal sang istri, dengan tangan yang tak henti mengusap rambut dan sesekali mengecupi dahinnya. Sedang kan tangan kanan nya, sibuk  dan fokus dengan Hpnya.


Tak perduli jika malam telah larut, Abi terus saja mencari informasi mengenai pemesan makanan itu. Meski sulit karena kebijakan dari cafe  mengenai hak konsumen, tapi terasa begitu gampang bagi Abi. Tak menyebutkan nama saat itu juga, tapi Abi mendapatkan informasi si pemesan dengan nomor Hp.


"Segera cari, siapa pemilik nomor Hp itu."

__ADS_1


"Baik, Pak." angguk salah seorang anak buah Abi di kantor. Meski mereka telah pulang, tapi beberapa diantara mereka siap 24jam untuk melayani Bos mereka.


"Mas?" Nisa membalik tubuhnya, kini menghadap Abi.


"Ya, sayang?"


"Nelpon siapa?"


"Seseorang. Ku tugaskan untuk mencari info pemesan makanan itu. Dia berani memakai nama Dita untuk mencelakaimu. Tak akan pernah aku biarkan."


Tangan kiri Nisa memang terpasang infus. Tapi masih bisa mendekap tubuh Abi dan menenggelam kan wajahnya disana. Tak perduli dengan bau Abi yang belum mandi. Tapi memang rasanya begitu nyaman dan hangat seperti itu.


Abi menaruh Hpnya di meja. Tangan kanannya meraih bahu Nisa, dan mengusapnya dengan lembut begitu hangat. Nisa pun memejamkan matanya lagi, apalagi baru saja mendapatkan obat tambahan dari perawatnya. Abi pun perlahan memejamkan mata, meski status nya stabdbye untuk tetap siaga menjaga istrinya.


Kreeek! Pintu terbuka. Alex masuk, dan langsung diam mematung menatap kembali apa yang Ia lihat dan menghela nafas dengan begitu panjang.


Ia tampak begitu kesal, ingin melempar paper bag itu ke arah mereka berdua. Menahan segala kecemburuan di hatinya, meremas tangan nya sendiri bahkan menggigitnya dengan gemas. Ia bahkan menghentak kan kakinya beberapa kali. Berakhir, dengan duduk meluruskan kakinya bersandar tembok ruangan besar itu.

__ADS_1


Ia tampak begitu pasrah, meski rasanya ingin menangis sejadi-jadinya.


__ADS_2