Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Perginya Dita


__ADS_3

"Tak ingin tinggal lebih lama?" Abi mendekap Nisa dalam pangkuannya.


"Engga," geleng Nisa. "Sakit kalau terus disini. Mending balik aja, ada Mama disana."


"Bahkan kau mengajariku untuk berdamai dengan keadaan."


"Beda, Mas, ini bukan masalah...." Abi menarik pinggul Nisa, hingga kini semakin dekat tanpa jarak dengannya. Pelukan pun semakin erat dan hangat.


"Mau ngapain?" lirik Nisa, menyipitkan matanya. Abi hanya menggelengkan kepalanya, berusaha menutupi keinginannya sendiri.


"Pulang?" tanya Abi, seolah tak ingin terlalu lama berduaan dirumah itu. Apalagi, Nisa pun sudah berpamitan lagi dengan para tetangga dan penjaga rumahnya. Memasrahkan semuanya pada Bu Tami, dan sesekali akan datang menjenguk.


Keduanya pulang dengan menaiki taxi yang telah di pesan.


"Karena pembatalan lokasi, maka aku akan lebih sibuk dari biasanya. Ini adalah salah satu konsekuensi dari pengorbanan ini." tutur Abi, yang fikirannya mulai menerawang jauh kembali pada pekerjaan. Apalagi, Ia harus berhadapan lagi dengan Tuan Liam dan Pak Rafael nanti.


" Maaf, kalau Nisa ngerepotin lagi."


"Aku sudah berjanji padamu. Maka aku akan menepatinya. Asal kau tetap disampingku, apapun keadaannya."


"Iya," angguk Nisa. Keduanya telah tiba dirumah, disambut peluk hangat dari sang Mama. Beliau ingin menghampiri, sebenarnya. Tapi Abi melarang karena mereka lah yang akan kembali.

__ADS_1


"Kita adakan do'a disini?" tawar Mama.


"Ngga usah, Ma. Nanti malah ngerepotin. Mandiri aja, kalau Mama mau ikutan ya ngga papa. Yang penting doanya." tolak Nisa dengan lembut, sembari menyimpan beberapa pakaian yang Ia bawa dari rumah Neneknya.


"Baiklah... Asal itu buat Nisa tenang dan nyaman. Mama akan dukung itu,"


"Makasih, Ma," Nisa melanjutkan pekerjaannya. Ia pun menatap sekilas, Abi yang masih sibuk dengan Hpnya. Beberapa kali berusaha menelpon, namun tak kunjung mendapat jawaban.


Nisa masih diam, tak mau terlalu ikut campur untuk yang satu ini. Karena beberapa masalah, juga tak harus Ia campuri.


"Sayang," panggilnya begitu lembut, mendekat pada sang istri. Tampak rona bahagia di wajah Mama sofi, menatap anak dan menantunya yang semakin larut dalam kasih sayang satu sama lain.


"Ya, Mas?"


"Iya, hati-hati, ya. Hari mulai sore,"


"Ya, kau juga jaga diri," kecupnya di kening sang istri, tak lupa mencium tangan Mama sofi yang masih disana.


Abi keluar dan mulai memacu mobilnya. Begitu cepat, karena memang begitu penting saat ini.


"Mana Dita?" tanya Abi, yang telah tiba dikantornya.

__ADS_1


"Disana, pak. Di ruangannya. Sedang.... Ehm, sedang berkemas." ucap Manda.  Abi segera menghampirinya masuk.


"Apa maksudmu akan pergi?"


"Tak pergi jauh, hanya keluar dari perusahaan ini." jawab Dita, begitu datar dengan terus membereskan semua perlengkapannya.


"Kau mau meninggalkan aku? Pekerjaan kita masih banyak. Kau kenapa?"


Dita mengangkat kepala hingga mengadah ke atas. Menghela nafas begitu panjang, dan mengusap netra. Yang tanpa sadar jatuh di pipinya.


"Aku capek, Bi."


"Kau hanya perlu ambil cuti."


"Tidak... Aku tak mau," sergah Dita, mulai beres dengan semua tugasnya.


"Semua berkas, sudah ku titipkan Manda. Kau tinggal mengangkatnya menggantikan aku. Atau, cari yang lain, yang sesuai dengan kriteriamu."


"Tidak bisa... Kau lah sekretarisku. Aku tak bisa dengan mudah menggantikan mu."


"Tapi aku lelah! Sangat lelah, Abi. Kau sama sekali tak memahamiku. Bahkan berusaha mencari tahu tentang bagaimana aku pun, tidak sama sekali."

__ADS_1


"Kau hanya membenci Nisa. Dan kau membencinya tanpa alasan!"


"Aku Mencintaimu. Aku mencintaimu, dan bahkan semua orang disini tahu akan hal itu. Aku mencintaimu, bahkan dari dulu. Duluuuu sekali, dari sebelum kau mengenal istrimu."


__ADS_2