
Hampir Satu jam, Nisa berkutat di dapurnya. Semuanya Ia kerjakan sendiri, demi menciptakan makanan nikmat untuk sang suami. Namun, seperti merasakan sesuatu yang janggal ketika Abi tak kunjung kembali menemuinya.
"Katanya ngga lama?"
Ia pun segera mematikan kompor, dan melepas celemek dari tubuhnya. Berlari meski tak begitu cepat, menaiki tangga untuk segera tiba ke kamar mereka. Untungnya, pintu kamar tak Abi kunci.
Tak ada orang, hanya Nisa mendengar tangis Abi yang begitu lirih dari dalam kamar mandi.
"Mas! Mas didalem?" ketuk Nisa dari luar. Ia segera masuk, karena Abi tak kunjung menjawabnya.
"Ya ampun, kejadian lagi..." ucap Nisa, menghampiri Abi di dalam bathupnya. Duduk memeluk satu lututnya, dengan mata terpejam dan tangan kanan menutupi wajahnya. Tampak begitu frustasi, dan menahan segala rasa takut di dalam dirinya. Nafasnya pun tampak tak stabil.
" Mas?" panggil Nisa dengan begitu lembut. Abi sedikit tersentak, melepaskan tangan dari wajahnya. Ia menoleh ke sekitar, dan hanya ada Nisa saat itu.
"Aku butuh obatku, aku mohon, berikan..." pintanya dengan sangat.
__ADS_1
Nisa sadar, kali ini tak dapat menenangkan Abi dengan buterfly hugnya. Karena terkendala tangan Abi yang cidera. Ia beranjak dari tempat itu, melangkah cepat menuju nakas. Namun, Ia meletakkan obat itu kembali di sana.
"Jangan... Jangan obat lagi," ucapnya. Ia membalik badan, melangkahkan kakinya kembali pada Abi yang masih memejamkan matanya disana.
"Mana obatku?" tanya Abi dengan lemah.
"Nisa tak membawanya,"
"Jangan bercanda. Aku butuh obat itu sekarang, Nisa." mohon Abi dengan sangat
Lengan tangan kiri itu Ia raih. Ia lingkarkan ke lehernya dan sesekali mengusapkan kepala di lengan kekar itu. Tubuhnya pun bersandar dengan begitu nyaman di dada bidang Abi yang basah.
"Bagaimana?"
"Sama saja," jawab Abi, yang tengah berusaha mengatur nafasnya.
__ADS_1
Nisa mendongakkan kepalanya, meraih wajah Abi dan mengecup pipinya. Abi menurunkan pandangannya, menatap sang istri dengan segala tingkah nya disana.
"Kenapa semakin berani?" tanya Abi dalam hati.
Belaian tangan Nisa semakin turun, menelusuri setiap jengkal lengan kekar itu. Berhenti di jari jemari Abi dan menelisipkan jarinya, membawanya untuk mengusap wajah Nisa dengan lembut. Dan Ia kembali mencium telapak tangannya.
Terasa begitu hangat dan menenangkan. Apakah ini, ketenangan yang sebenarnya Abi perlukan seelama ini? Sebagai pengganti segala obat yang telah lama Ia konsumsi sesuka hatinya.
Abi akhirnya membalas pelukan itu. Tangan kanannya Ia eratkan ke tubuh mungil itu. Meski terasa begitu erat hingga membuat nya sesak, tapi Nisa memilih diam dan menikmatinya.
"Sampai kapan akan seperti ini?" bisik Abi, tepat ditelinga Nisa. Membuat jantungnya berdesir dengan begitu kuat.
"Sampai Mas sudah merasa tenang. Bagaimana?" tanya Nisa, yang sebenarnya sudah merasa begitu kedinginan saat ini. Abi sangat mengetahuinya, karena bibir manis itu sudah terlihat membiru dan pucat dari biasanya.
"Mandikan aku," pinta nya pada sang istri.
__ADS_1
Nisa pun merubah posisinya. Kini Ia duduk berhadapan dengan Abi, dan mulai membuka pakaiannya satu persatu. Masih saja canggung, karena Ia pun dalam posisi basah kuyup sekarang dengan pakaian yang transparan. Sedangkan Abi, terus menatapnya dengan tetap menjaga keseimbangan tangannya agar tak tersenggol dengan sesuatu.