Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Aku, tak akan tergoda


__ADS_3

Nisa masih berusaha mengobrak abrik lemari pakaian dalamnya. Tak menemukan apapun, dan benar-benar semua telah diganti. Ia tak mungkin memakai pakaian barusan, karena terlanjur Ia lempar ke dalam wadah baju kotornya. Dan kini, hanya mengenakan handuk kimononya dan ragu untuk keluar.


"Nisa! Kenapa lama sekali? Kau butuh kamar mandi juga," panggil Abi dari luar.


Nisa pun gugup, terlalu bingung untuk memberikan jawaban pada suaminya di luar. Hanya, Ia nekat membuka pintu dan mengeluarkan kepalanya disana.


"Ehmmm, Mas..." panggil, Nisa begitu lirih.


"Ya, kenapa?"


"Mas, baju Nisa ngga ada. Baju tidurnya, udah diganti sama...."


"Sama apa? Tinggal pakai, apa masalahnya?"


"Masss, tapi ganti nya pakai baju itu." Nisa tampak begitu sulit menjelaskan pada Abi.


"Apa sih? Tinggal ngomong aja."


"Haish, masa ngga ngerti?" Nisa meraih salah satu pakaian itu, dan memberikan nya pada Abi, "ini..."

__ADS_1


Abi meraihnya dan membuka lembar demi lembar. Tersedak, tercengang, bahkan terbatuk hingga air matanya keluar membasahi pipinya.


"Apa-apaan! Emang ngga ada yang lain? Ini kerjaan siapa?" omelanya, meremass kuat lembaran lingerie itu.


"Nisa ngga tahu. Tapi, Ini Nisa gimana? Cuma pakai handuk kimono."


"Keluar... Aku mau pakai kamar mandi. Bi-biasa saja, aku tak akan tergoda." tukas Abi, meski tampak benar Ia pun canggung.


"Yaudah," jawab Nisa. Ia pun perlahan membuka pintu dengan lebar, lalu melanggang santai keluar dari tempatnya..


Abi kembali tersedak, bahkan sepertinya lebih parah dari yang barusan. Terbatuk kecil dan nyaris tak bisa berhenti. Apalagi, Nisa dengan kimono nya yang hanya terikat dengan tali di bagian depannya. Salah melangkah, Aurora akan terbuka dan menampakkan keindahannya di depan mata Abi.


"K-kalau mau, pakai saja bajuku. Ada dilemari. Daripada..."


"Daripada apa?" sahut Nisa.


"Tidak, pakai saja."


"Baiklah," Nisa pun langsung membuka lemari Abi. Ia mencari kaos  oblong dan sebuah celana pendek untuk Ia pakai. Meski Abi tampak kurus, tapi tubuhnya tinggi dan berotot. Kaos oblong itu pun tampak menenggelamkan tubuh Nisa. Hingga Ia seperti Ia tengah memakai sebuah daster.

__ADS_1


Abi keluar, menatap Nisa dengan kaos nya. Ia pun semakin menelan saliva, membuat jakunnya naik turun dileher panjang itu. Nisa kini duduk bersila, sembari memainkan Hpnya. Tanpa sadar memperlihatkan pahaa mulus nya di hadapan Abi. Apalagi, kaos oblong yang dipakai itu tampak begitu besar, hingga sedikit turun memperlihatkan leher Nisa yang jenjang dengan rambutnya yang terikat asal dibelakang kepala.


"Mas, udah?" sapa Nisa.


"Udah, dan aku mau tidur." jawab Abi canggung.


"Nisa tidur dimana? Kan, tempatnya cuma satu. Masa Nisa balik ke kamar sebelah?"


"Tidur disini saja. Tapi, jangan menggangguku. Aku, butuh istirahat."


"Okey!" jawab Nisa dengan begitu ceria. Ia pun dengan semangat menggelar satu selimut lagi yang akan Ia pakai sendiri. Lalu, menyusun bantal guling untuk memberi jarak antara keduanya.


"Ngga papa kan, Nisa kasih bantal? Atau, Mas mau sesuatu?" tanya Nisa, sedikit mendekat dan menatap mata Abi yang semakin pucat."


"Ma-maksudmu, apa? Jangan macam-macam."


"Macam-macam apa? Orang Nisa cuma mau nawarin minum, atau obat. Soalnya, ada di deket Nisa. Tuh," tunjuknya dengan jari, pada nakas yang tepat ada disebelahnya.


"Oh," jawab Abi singkat, lalu membalik tubuhnya membelakangi Nisa.

__ADS_1


__ADS_2