Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Kau hadir lagi...


__ADS_3

Nisa begitu terkejut. Ia menenggelamkan wajahnya di tengkuk Abi, enggan menampak kan wajahnya pada Alex. Begitu malu, dan semua rasa campur aduk menjadi satu.


"Puas?" tanya Alex dengan segala rasa kesalnya.


"Ku fikir, sudah mati." jawab Abi, agak canggung..


"Mati, mati... Apanya mati? Kau tak perhatikan modenya? Alasan kau ini."


Abi menggaruki kepalanya yang tak gatal. Enatah, bingung harus berkata apa dengan semua moment ini.


"Pergi sana kau, ke kamar. Jangan menggangguku lagi. Hilang mood ku gara-gara kalian. Pacar jauh," gerutunya. Ia pun langsung mematikan panggilan video itu, dan menutup laptopnya.


Alex memejamkan. Perasaannya campur aduk. Segala kesal, kalah dengan segala rasa bahagianya. Menyaksikan Abi dan Nisa yang mulai intens. Ia bahagia, karena itu pertanda terbukanya hati Abi pada yang lain.


"Tak apa, perlahan. Aku hanya bisa mendukung dari sini, berusaha memberikan kalian waktu sebaik mungkin bersama. Aku percayakan Abi padamu, Nis." harap Alex, yang g begitu besar pada wanita itu.


Ia tak ingin berfikir macam-macam lagi. Kembali membuka laptop dan mulai lagi dengan segala pekerjaannya yang begitu menumpuk.


*

__ADS_1


Nisa mengangkat kepalanya, setelah mendengar Abi menutup laptopnya. Ia segera melepas pelukan, dan menurunkan kakinya dari pangkuan Abi.


"Mau kemana?" tanya Abi.


"Balik, ke kamar..." wajahnya masih tertunduk malu, mengingat kejadian barusan.


"Tunggu..." ucap Abi, membereskan mejanya dari segala yang berantakan.


Nisa hanya terpaku diam, berdiri di tempatnya. Nafasnya serasa cepat, dan jantungnya berdegup dengan begitu cepat. Entah, apa yang difikirkan. Padahal, Ia sendiri yang menghampiri suaminya barusan.


"Ayo," ajak Abi, mendahuluinya.


"Lah, ditinggal. Tahu gitu, ngga usah ditunggu," larinya kecil, mengejar langkah suaminya yang panjang. Hingga akhirnya Ia bisa menangkap genggaman Abi dengan erat.


"Bocil gini, kan sayang. Sayang ngga?" tanya Nisa, mengguncangkan tangan Abi dan menatapnya penuh tanya.


"Jawaaaab..." tegasnya lagi. Abi hanya tersenyum diujung bibirnya. Sedikit sekali. Seperti masih menahan perasaannya sendiri saat ini.


Nisa menghentikan langkah,  mengulurkan kedua tangan nya ke tengkuk Abi. Disambut oleh pria itu, dan menggendongnya di depan. Membawanya kembali ke kamar.

__ADS_1


***


"Re, beli cincin yuk..." ajak Abi, ketika keduanya tengah menikmati ice cream di sebuah taman yang indah..


"Emang punya duit?" goda Rere. Karena memang saat itu Abi masih belum memiliki pekerjaan tetap. Hanya membantu sang Papa dengan usahanya yang baru diretas.


"Ada, tapi ngga banyak. Cincin emas aja, berliannya besok." ucap Abi.


"Emang yakin banget, udah mau nikah? Gini loh, Bi. Kamu kan harusnya fokus bantuin Papa dulu. Aku nunggu kok, sampai setidaknya perusahaaan berkembang. Sabar aku tuh,"


"Hanya ingin mengikatmu, Re. Kesal rasanya, ketika begitu banyak pria mendekatimu. Manager, aparat, pejabat. Sedangkan aku, pengangguran yang bahkan usahanya belum memiliki apapun." galau Abi.


Rere hanya tertawa, tanpa membalas ucapan Abi. Berdiri mendekati danau dan bermain dengan air yang begitu jernih disana. Senyumannya begitu indah, dengan bibirnya yang merah. Rambutnya tergerai menutupi bahunya yang ramping.


"Jika aku ingin pergi, maka aku akan pergi sejak dulu, Bi. Aku tak akan meninggalkan seorang lelaki, jika bukan karena dia yang mengkhianatiku." ucap Rere, menoleh dengan senyuman terindahnya.


***


Tetesan air mata berlinang di pipi Abi. Suara rintihan kembali terdengar, begitu perih dari hatinya yang terdalam. Sesak, sakit, dan begitu pilu.

__ADS_1


" Aaaah!" Ia akhirnya membuka mata, dan mengusap pipinya yang basah.


"Kau, hadir lagi." gummam Abi, yang kembali bermimpi. Mimpi itu terasa begitu nyata, bagai membawanya pada masa lalu yang indah.


__ADS_2