Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Ini asli, dan bukan mimpi


__ADS_3

"Dita, tolong belikan makan siang untuk ku." pinta Abi via telepon.


Dita begitu sigap. Memesankan makanan yang ada dikantin, lalu memberikannya pada Abi. Ia bersiap masuk, setidaknya berharap agar dapat merawat Abi kali ini. Namun, Ia bahkan tak menoleh ketika para karyawan memanggilnya.


Mereka ingin memberitahu jika Abi tak sendirian. Semua terlambat. Dita masuk, menatap Nisa yang tengah bersandar mesra di bahu suaminya. Dan langsung duduk tegap ketika Dita datang.


"Nisa, kamu ikut?" tatapnya datar.


"Iya, Mas Abi minta ditungguin." jawabnya dengan jujur. Disambut dengan segala penjelasan Abi, dengan segala alasan yang Ia miliki.


"Membuatnya terbiasa, agar ikut bersamaku kemanapun aku pergi." ucap Abi.


Dita hanya bisa kembali menganggukan kepalanya, dengan tersenyum getir diujung bibirnya. Lagi dan lagi, itu adalah tugasnya untuk ikut kemanapun Abi pergi. Dan meski Ia masih tetap ada, Ia hanya akan dibelakang Abi sekarang


" Ini, makan siangnya." ucap Dita, memberikan sekotak nasi pada Abi. "Maaf, hanya Satu. Kau tak bilang, jika Nisa ikut."


"Ya, ini untuknya. Kau tahu, aku tak suka makan siang," jawab Abi.

__ADS_1


"Iiih, makan. Ngga boleh kalau ngga makan. Kan mau minum obat," tegur Nisa. Ia membuka kotak itu, dan suapan pertama Ia berikan untuk suaminya.


"Aaak," pinta Nisa. Seperti tengah menyuapi seorang anak kecil dengan segala bandelnya.


Dita berusaha menghindari pandangan nya. Beberapa kali mendunduk kan kepalanya, dan membuang muka dari kedua insan itu. Menyilangkan kedua tangan di dada, dan memainkan kakinya dengan malas.


"Kau sudah makan?" tanya Abi.


"Belum.... Dan seprtinya aku mendadak tak selera makan," balas Dita, lalu pergi keluar dari ruangan itu dengan segala rasa jengkelnya.


"Eeerrrghhh!" Ia mengepalkan tangan nya dengan begitu gemas. Rasanya seperti ingin mencabik, menjambak, dan semua rasa yang Ia rasakan begitu ingin meledak seketika. Sayangnya, Ia melihat ketika semua karyawan yang menatapnya dengan begitu aneh.


**


"Kau lelah?" tanya Abi, karena Nisa sudah berjam-jam bersama disampingnya.


"Engga, ngga lelah. Aku terbiasa disini, apalagi jika bersamamu..." tatap Nisa, dengan terus mengedipkan nata genitnya

__ADS_1


Abi hanya melirik kan matanya yang tajam, mengarahkan jari telunjuknya ke kening Nisa, dan turun kehidung peseknya. Nisa menjulingkan matanya ketengah, menatap apa yang akan Abi lakukan kali ini. Dan benar saja, jari itu menyentil hidung Nisa.


"Aakkkh! Kebiasaan!" umpatnya. "Suka banget, lihat istrinya menderita. Menyebalkan,"


"Berhenti menggerutu,"


"Biarin. Ngga akan menggerutu, kalau ngga di pancing. Di sentil mulu. Sesekali di cium ngapa...." cebiknya kesal.


Abi menghentikan pekerjaannya. Tubuhnya terdiam sejenak dan menghela nafas sedikit panjang, sebelum Ia akhirnya menoleh pada sang istri. Tatapan pun luar biasa menegangkan, membuat Nisa menelan saliva dengan jantung nya yang berdesir. Tapi Ia tahan. Nisa sudah merasa lelah, terus saja diberi harapan palsu oleh suaminya itu.


"Ngga akan... Ngga akan ngarep lagi, udah." gumamnya dalam hati. Namun, Abi tampak semakin intens. Mendekat dan mengikis jarak diantara keduanya..


"Ngga usah PHP. Nisa males," ucapnya, sedikit menjauhkan diri dengan memundurkan kursi. Tapi, tertahan oleh kaki Abi. "Ckkk, ngeselin."


Abi meraih dagu Nisa dan sedikit mengangkatnya. Dan benar saja, kali ini Abi mengecuup bibir Nisa. Tak hanya sekali, tapi Dua kali bahkan lebih. Nisa hanya diam, terpana tanpa mampu menatapnya.


"Sudah?"

__ADS_1


"Wuaah, ini asli dan bukan mimpi..." takjub Nisa. Serasa tengah berada diantara banyaknya kembang api yang begitu ceria..


__ADS_2