
"Kau mau apa?" tanya Abi, dengan fokus mengunyah makanannya.
"Hah, apa?" Nisa memiringkan kepala.
"Iya, kau mau apa? Tumben, memasak untuk ku?" tanya nya datar.
Nisa mendengkus kesal, lalu memainkan bibirnya dengan begitu gemas. Tatapannya pun tajam.
"Kenapa lagi? Aku salah?" tatap Abi.
"Nisa masakin, sengaja mau buat suami senang. Kenapa malah ditanya begitu? Ngga bisa hargain perjuangan istri sendiri?"
"Eng-aku... Aku hanya bertanya."
"Tapi pertanyaannya ngeselin," Nisa berdiri dari tempat duduknya, tapi Abi menarik tangannya agar kembali duduk.
"Aku tak senang, jika makan sendirian. Temani hingga selesai," ucapnya. Nisa hanya memutar bola matanya, dan duduk dengan diam menatap Abi menghabiskan semua makanan yang Ia sediakan. Sedikit rasa senang, karena semua tandas tak tersisa.
"Suka, sama masakan Nisa?"
"Ya, kau sudah memasaknya. Tandanya harus aku habiskan. Terimakasih,"
__ADS_1
Nisa kembali kesal, hingga mengerutkan dahinya. Menggenggam tangannya kuat, seolah ingin sekali mencengkram suaminya hanya sekedar meluapkan segala emosi di jiwanya.
"Eeeeeerrrrrgggghh!" kesalnya, hanya bisa Ia tahan dalam hati.
"Aku keruang kerja, kau tidur saja duluan."
"Hhh," Nisa menghela nafas nya panjang., "Iya," jawabnya pasrah, sembari membereskan piring kotor yang ada di meja.
"Sayang, gimana?" tanya Mama Sofi, mengambil alih piring kotor di wastafelnya.
"Suka, Ma. Tapi... Masih begitu aja. Ngga ada seneng-senengnya," curhat Nisa dengan segala kesalnya.
"Sayang," sebut Mama sofi, dengan begitu lembut. Membalik badan, dan menatapnya lekat diantara kedua bola mata mereka.
"Suatu kemajuan dari usahamu. Setidaknya, jika Abi mau menghabiskan semua yang kamu berikan. Abi itu slektif. Apa yang Ia tak suka, maka Ia tak akan pernah menyentuhnya."
"Iya, Ma? Maaf, Nisa udah..."
"Nisa hanya butuh penyesuaian. Justru Mama yang harusnya minta maaf. Bahkan dengan adanya Nisa disini saja, Mama sudah begitu bersyukur. Berharap semua perubahan itu, Nisa yang bawa."
Nisa hanya menganggukkan kepala. Berharap dapat melakukan apa yang Mama mertuanya harapkan padanya. Tak ada yang lain, karena setidaknya untuk membayar semua yang Abi berikan padanya.
__ADS_1
" Udah, biar Mama yang cuci piringnya."
"Tapi, Ma...."
"Nisa masuk, pakai baju dinasnya. Pakai parfum yang wangi, dan lakukan apa yang Mama ajarkan." bujuk Mama sofi.
Nisa sekali lagi hanya mengangguk, meski belum terlalu mengerti dengan apa yang Mama perintahkan padanya. Terkadang, Ia merasa geli dengan itu semua.
Semua telah diuturi. Nisa memakai sebuah lingerie pendek dengan belaahan dada rendah. Modelnya pun transpararan, dengan tali yang sangat tipis.
"Ieeewh! Apaan?" Nisa geli, menatap dirinya sendiri. Akhirnya, Ia memakai belzer dari baju halal tersebut. Ia kemudian duduk, menunggu Abi masuk dan menyambutnya.
Dan tak menunggu lama, meski hampir Satu jam lamanya. Setidaknya, Abi lebih cepat dari jam biasa Ia kembali. Derap langkah terdengar dari telinga tajam Nisa, yang lalu duduk manis di ranjang mereka. Rambut di biarkan tergerai panjang, dan blezer sedikit diturunkan memperlihatkan bahunya yang indah.
Kreeek! Pintu dibuka oleh Abi. Jantung Nisa pun semakin bergemuruh dibuatnya. Menerka-nerka, apa yang akan dilakukan Abi padanya. Bersyukur, jika rayuan itu berhasil untuknya.
Abi tak kalah tegang saat itu. Menatap Nisa setengah terbaring miring, menopang tubuh dengan siku nya. Abi menatapnya tajam, sembari terus menghampiri istri yang mengulurkan senyumnya disana.
"Nisa, kau kenapa?" tanya Abi, begitu heran.
Nisa tak menjawab, hanya berdiri dan membuka blezernya dengan menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
"Gadis nakal. Mau menggodaku?" tatap Abi padanya. Jarak mereka pun semakin dekat. Nisa mengulurkan tangan merangkul leher Abi dengan mesra.
"Nisa menggoda suami Nisa sendiri. Boleh?" tatapnya genit, memainkan jari di dada suaminya yang bidang.