Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Mengunjungi Nek Tini


__ADS_3

Nek Tini mengajak Abi masuk. Duduk disebuah kursi yang terbuat dari rotan yang nyaman. Seperti janjinya, Nisa tak pernah melepaskan genggaman itu dari Abi.


"Siapa?" lirik Nek Tini, pada wanita cantik nan mungil itu. Ya, sangat beda dengan Rere yang tinggi semampai.


"Ini, Istri Abi, Nek." jawab Abi. Sedikit terbata melawan rasa ragunya.


"Kapan menikah?" Nenek merubah mode wajahnya. Bukan kecewa, hanya saja, Abi seolah menyembunyikan semuanya dari sang Nenek.


"Tiga bulan," ucap Abi, datar. Nek Tini hanya menghela nafasnya.


"Abi tak akan pernah bisa melupakan Rere." imbuh Abi.


"Nenek tahu, Abi ngga akan pernah lupa. Rere tak akan tergantikan," balas Nek Tini. Tatapan nya tampak kosong, enggan menoleh kemanapun dan fokus pada titik depan arah matanya.


Suasana tampak hening. Nenek dan Abi belum berbicara lagi sekama beberapa menit. Nisa pun hanya bisa diam di posisi itu. Ia adalah anak baru, yang tak tahu apa-apa. Ia tak berani bicara, atau bahkan menjadi penengah ketegangan itu.


"Nama kamu, siapa?" akhirnya Nek tini menatap Nisa dan bertanya.


"Nisa, Nek." jawabnya, canggung. Genggaman tangan pun semakin erat pada Abi.


"Sejak kapan kenal Abi?" pertanyaan Nenek mulai menjalar.


"Mantan karyawan, Nek. Baru seminggu kerja, diajak nikah..." jawab Nisa jujur. Karena memang seperti itulah adanya.


Nenek lagi-lagi menghela nafasnya. Tanpa berucap sepatah kata pun, Nenek pergi meninggalkan keduanya dan masuk kedalam kamar. Terdengar, ketika Nenek menghempaskan pintunya dengan kasar.

__ADS_1


"Mas?" panggil Nisa, yang masih saja tegang.


"Ayo pulang," ajak Abi. Nisa pun segera berdiri, mengikuti langkah suami nya kembali.


"Tapi, itu Neneknya. Ngga pamit dulu, nanti nyariin."


"Ngga akan," Abi terus berjalan dengan tenang, sembari terus menggandeng istrinya.


Rasanya, tangan Nisa sampai berkeringat karena Abi tak pernah melepaskan nya sama sekali. Hingga Nisa memberanikan diri melepaskannya sendiri.


Abi menoleh, memberikan tatapan tajamnya yang mematikan.


"Nisa, cuma mau lap keringet." sanggahnya, dengan mengusap tangan di celana yang Ia pakai. Tapi, Abi kembali meraihnya dan mengelapnya dengan sebuah sapu tangan yang Ia kantongi.


"Itu... Sapu tangan...."


"Kotor,"


"Tinggal kau cuci," Abi menggenggamkannya di tangan Nisa. Pertanda, Ia merelakan sapu tangan itu untuknya.


Nisa mengulur senyum. Sebuah pertanda lagi ketika Abi mulai melepas bayang-bayang lekat Rere dari fikirannya. Dengan semangat, Ia mengantongi sapu tangan itu di saku joggernya.


"Huaaamzzz... Capek," Nisa meregangkan ototnya. Abi terbelalak, ketika Nisa mengangkat tangan dan sedikit membuka bagian tubuhnya.


"Eeeeh!" Abi spontan menurunkan tangan Nisa, dan merapikan kaos pendek itu.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kelihatan,"


"Kan ngga ada orang," goda Nisa.


"Ada aku,"


"Tiap hari juga lihat kan, isinya..." Nisa mendekat, dengan terus mencolek dada Abi yang bidang.


"Nisa...." tatapnya datar. "Jangan macam-macam,"


"Kalau Ini?" Nisa mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan pinggangnya yang ramping.


Abi hanya melotot dan menurunkan tangannya lagi. Tapi jahilnya Nisa, justru mengangkat yang sebelahnya. Seperti itu terus, bergantian.


"Ini, ini... Begini?" Nisa seolah tengah menantang kemarahan Abi.


"Atau.... Ini?" Nisa mengangkat kedua tangannya. Hingga pusar dan perut ratanya terlihat di mata Abi.


"Kau ini!" sergah Abi, mengatupkan kedua tangan Nisa dengan memeluknya.


"Eh, ampuuuun!" pekik Nisa, merasa di cengkram tubuh suaminya dengan begitu kuat.


"Ini yang kau maksud, larangan adalah perintah? Kau menantangku?" gendong Abi, ketika Nisa meloncat ke tubuhnya. Nisa pun terkekeh karena kelakuan gemas suaminya. Meski Abi hanya membalasnya dengan senyuman ringan diujung bibirnya.

__ADS_1


"Kenapa, masih susah sekali tertawa?" gumam Nisa dalam hati.


__ADS_2