Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Tak punya teman


__ADS_3

"Kenapa harus pegang tangan Nisa?"


"Kenapa?" Abi membalik pertanyaannya.


"Ya, Nisa nanya. Mas sepertinya ngga mau lepasin tangan Nisa yang imut dan lembut ini. Suka?"


"Jika aku tak menggandengnya, kau akan tertinggal jauh dari langkahku," Abi memberi alasan. Melepaskan tangan Nisa dan berjalan meninggalkan nya.


Benar saja. Nisa tertinggal jauh, dan bahkan harus berlari menyusul suaminya.


"Mas, kok ditinggal?"


"Kau yang meminta,"


"Nisa cuma nanya," tutur nya, lalu kembali meraih tangan Abi dan menggenggamnya dengan erat.


"Dah, begini..." ucapnya, lalu kembali berjalan santai di samping suaminya.


Mereka berdua menuju Rumah sakit. Atas bujukan Dita sebenarnya, tapi... Abi ingin dengan Nisa kesana. Sekaligus mengantar nya, untuk menjenguk sang Nenek yang masih terbaring dalam koma nya.


"Periksa tulangnya, sekalian."

__ADS_1


"Ya," turut Abi. Ia segera mendaftarkan kedatangannya Via online, pada dokter yang biasa menanganinya.


Mobil tiba di parkiran. Nisa turun dan membuka pintu untuk suaminya. Serasa memang tak pernah bisa jauh dari wanita itu, Abi langsung meraih tangan Nisa dan menggandengnya masuk ke dalam Rumah sakit.


"Selamat siang, Pak Abi...." Sapa salah seoarang suster disana. Kebetulan, pernah menangani Abi ketika dirawat dengan depresinya. Ya, sebelum memantapkan rujukan ke Rumah sakit jiwa..


"Suster, Eny. Apa kabar?" sapa Abi dengan ramah.


"Baik, dan sangat baik. Bapak sendiri, tampak nya sangat baik, bukan?" sang suster menatap Nisa dengan genggaman tangan Abi yang begitu erat padanya.


"Bahkan gadis yang selalu menjaganya waktu itu, tak pernah Ia lakukan seperti ini."


"Nisa mau ke Nenek,"


"Disini sebentar,"


"Masa harus ditemenin? Nisa nanti minta obat nya aja, ngga perlu ikut periksa. Gejalanya loh, sama."


Abi melepaskan genggaman itu. Menarik nafas dan mengetuk pintu ruangannya.


"Kau, boleh pergi. Jangan terlalu jauh,"

__ADS_1


"Iya, ngga jauh. Cuma keruangan Nenek aja,"


"Ya...." jawab Abi. Ia bahkan menatap Nisa, hingga benar-benar pergi dari pandangannya.


Nisa melangkah dengan ceria. Ruangan Nenek tak jauh dari tempat Abi periksa, meski harus melewati lorong yang panjang. Nisa melihat beberapa suster tengah mengganti infus, dan memberikan beberapa suntikan melalui selangnya. Ia mengetuk pintu, agar tak mengagetkan keduanya.


"Permisi," ucapnya lirih.


"Ya?" salah seorang suster menoleh padanya, lalu memberikan senyum begitu ramah.


"Mba Nisa, akhirnya datang. Udah lama ngga kelihatan,"


"Iya, maaf. Kemarin, Suami saya ada kecelakaan sedikit. Jadi, sibuk sama dia. Tapi kabar Nenek, tetap update kok. Dari Kak Adhim," balas Nisa.


Para suster membereskan perkakasnya. Nisa pun duduk tepat disamping sang Nenek, meski hanya dapat bercerita sepihak tentang dirinya saat itu. Senangnya, kesalnya, dan perjuangannya mendapatkan hati sang suami. Meski, Ia tak terlalu banyak berharap akan hubungan yang mereka jalani.


"Bagi Nisa, ini kewajiban sebagai istri. Nenek kan, mengajari Nisa seperti itu? Kalau Nisa jadi istri, harus melayani suami dengan baik. Cinta, atau tidaknya." ucapnya, sembari menggenggam lembut tangan keriput itu.


Rasanya lega, ketika Nisa dapat mencurahkan segala isi hatinya. Ia tak punya teman, atau bahkan sahabat dekat. Zaman Sekolah dan kuliah, Ia anak yang pendiam dan suka menyendiri. Lebih memilih duduk dan tak ingin bergabung dengan siapapun.


Bagaimana lagi. Karena kita bergabung, maka Ia akan selalu dibully dengan kemiskinannya. Lebih baik menjauh, bukan. Menjaga ketenangan hati sendiri.

__ADS_1


__ADS_2