
Masih banyak tamu berdatangan. Mereka melayat Nenek Nisa, karena Beliau termasuk tetua di kampung itu. Meski sudah mendengar bahwa Nenek sakit keras dan dirawat intensif selama berbulan-bulan, tapi mereka tak bisa menjenguk karena peraturan yang Abi berikan.
"Maaf, hanya tak ingin Nenek terganggu." ucap Abi, pada orang itu.
"Iya, tak apa, Pak Abi. Tapi...."
"Ada apa, Pak Rusli?" tanya Nisa.
"Pak Abi seperti familiar. Apa kita pernah ketemu?" Pak Rusli memperhatikan wajah Abi dengan seksama.
Abi hanya diam, tak tahu harus memulai semuanya darimana. Hanya tak ingin, jika Nisa terkena imbas dari semua tindakan nya.
"Ehmmm, Pak Rusli?" Nisa berusaha menengahi.
"Ya, Nisa?"
"Masih inget, sama perusahaan yang mau banguan Apartemen disini?"
"Oh, ingat. Kenapa?"
"Ehmm, Mas Abi Direkturnya." jelas Nisa, meski sedikit sungkan.
__ADS_1
Pak Rusli pun akhirnya menghela nafas panjang, dengan segala ingatan yang kembali mencuat. Tatapan ramahnya, seketika berubah sedikit sinis pada Abi yang sempat Ia demo tempo hari.
"Jadi Anda?"
"Iya," angguk Abi, tampak tegang dengan mengusap perlahan kedua pahanya.
"Apakah, ada tujuan tertentu menikahi Nisa? Mau memanfaatkan Nisa?"
"Kami memang saling memanfaatkan awalnya. Tapi.... Bukan masalah tanah disini." jawab Abi sejujurnya.
Pak Rusli menoleh ke Nisa, mendapat anggukan darinya. Berharap, agar Pak Rusli tak membahas itu lagi saat ini. Bahwa Pak Rusli ingat jelas, ketika Nenek memukul kepala Abi dengan balok kayu itu. Ia hanya takut, Abi memanfaat kan Nisa untuk balas dendam. Karena menurutnya, orang kaya memang arogan dan selalu ingin menang sendiri.
"Ku pegang kata-katamu." ancam Pak Rusli. Ucapan yang sering dikatakan Abi pada yang lain, kini terucap dari orang untuk dirinya.
Abi menelan salivanya, dengan Nisa menggenggam tangannya dengan erat. Berusaha memberi kekuatan untuk bicara. Padahal, Nisa sendiri tengah lemah saat ini.
Ia pun memulai percakapan lagi. Ia memenuhi janjinya pada Nisa, seperti yang Ia ucapkan semalam. Ia melepaskan tanah ini, meski harus kesulitan mencari gantinya..
"Kau, benar-benar mencintainya?" tanya Pak Rusli.
"Saya tak mencintainya," Nisa seketika melepas genggaman tangan itu. Tapi, Abi langsung kembali meraihnya. "Nisa hidup saya. Saya tak bisa tanpa dia."
__ADS_1
Pak Rusli hanya mengangguk, menatap keduanya yang memang begitu serius. Ia bahkan baru tahu tentang pernikahan keduanya, meski sudah berjalan sekian lama. Ia tahu benar bagaimana Nisa. Kehidupannya sedari kecil, yang nyaris selalu tertekan dan penuh derita.
"Hanya tak ingin, Nisa menderits lagi. Sudah cukup baginya, jangan sampai ada yang menyakiti ketika dewasa."
"Saya... Tak akan buat Nisa menangis lagi." janji Abi pada ketua kampung itu, di saksikan oleh beberapa orang yang kebetulan juga ada disana.
Para tamu kemudian pergi. Meninggalkan mereka berdua di dalam rumah itu. Nisa menuju sebuah lemari tua, dan mulai membereskan nya agar bersih. Karena Ia akan meninggalkan rumah itu lagi untuk kembali ikut dengan Abi pulang.
Abi spontan membantunya. Meski alergi debu, dan terpaksa harus mengikatkan sapu tangan kehidungnya. Setidaknya Ia berusaha.
"Sayang?" panggil Abi dengan mesra.
"Ya, Mas?"
"Ini, album siapa?" ucapnya, memegang sebuah album kecil berisi foto yang bahkan sudah memudar.
"Eh, ini Nisa..." ucap nya, mengambil sebuah fotonya ketika masih balita.
Abi tanpa sadar tertawa, menatap foto bocah kecil dan kucel itu. Begitu aneh, dengan rambut yang berantakan.
"Eeh, Mas ku ketawa." kaget Nisa yang begitu bahagia.
__ADS_1
"Engga, hanya lucu aja." Abi tampak menahan tawanya.
"Tapi cakep. Ayo, ketawa lagi, Nisa suka." rengek nya.