Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Apa, tangan mu tak panas?


__ADS_3

Feby tampak gugup, menatap keintiman mereka berdua. Entah, rasanya seperti ada sebuah jarum atau bahkan sembilu yang menusuk ulu hatinya.  Ia pun tetap berjalan, mendekati keduanya untuk memberikan dokumen yang telah di janjikan..


"Ini, Pak..."  Feby meletak kan nya tepat diatas meja Abi. Namun, Abi tak menoleh sama sekali, meski kata terimakasih terucap dari bibirnya yang terus sibuk dengan sang istri.


Ia Akhir nya mengundurkan dirinya sendiri,  dari ruangan itu. Keluar dengan perasaannya yang pilu.


"Feb, kenapa?" tanya Manda, yang kebetulan lewat di depannya.


"Ngga papa. Cuma... Itu, emang Ibu Nisa harus ikut setiap hari? Berasa, kayak manja banget ngga sih? Lebay gitu." tuturnya, mengajak Manda duduk di kursi yang ada di hadapan mereka.


Manda sebenarnya tak ingin terlalu menimpali. Apalagi, dadanya sudah mulai sakit karena sudah tiba waktunya untuk menjenguk sang bayi ditempat penitipan. Ia pun tak terlalu mendengarkan segala ucapan Feby padanya.


Sebisa mungkin, Manda mengelak dari obrolan itu. Hingga untungnya, Alex datang melewati mereka. Hingga Feby pun akhirnya diam.


"Sedang apa, Kalian?" tatap Alex, tampak begitu tegas.


"Maaf, Pak, ngga papa." angguk Manda, lalu pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


Alex pun menatap tajam pada Feby, membuat gadis itu salah tingkah dan langsung beralih kembali ke kursinya.


Alex baru turun dari ruangannya. Ya, ruangannya berada di atas, tepatnya di lantai Tiga. Tak seperti ruangan Abi dan Dita, yang berada di bawah. Bukan tanpa sebab dibuat seperti itu. Tapi, semua berawal dari Dua tahun yang lalu, dimana pertama mereka pindah ke kantor yang besar itu.


Kala itu, ruangan Abi berada di atas, seperti layaknya Bos lain. Tapi, justru menimbulkan bahaya baginya. Ketika bayangan Rere datang, Ia bahkan begitu frustasi dan nyaris melompat dari balkon ruangannya. Semua lantas cemas, dan memindahkan ruangan Abi pada akhirnya.


Kreeekkk! Pintu ruangan Alex buka. Ia menemukan Nisa dan Abi duduk dengan tangan yang nyaris tak lepas seharian. Setidaknya, itu lah yang Ia lihat seharian ini, ketika selalu diantara mereka.


"Tangan mu tak panas? Atau, tangan itu tak berkeringat?" goda Alex. Seketika Nisa melepasnya, tapi ditahan Abi.


"Ada apa?" Abi akhirnya mendongak kan kepala pada sahabatnya itu.


"Ya, ide bagus. Tapi...." Abi menoleh pada istrinya yang selalu setia dengan Hpnya.


"Hah, gimana? Nisa pulang?"  tanya Nisa spontan, karena menangkap kode yang Abi berikan.


"Aku takut kau lelah. Bagaimana?" bujuk Abi, dengan segala rasa khawatirnya.

__ADS_1


"Baiklah, Nisa pulang.  Tapi...."


"Apa?" tanya Alex,  "Masalah itu, biar aku yang jaga. Ngga akan lagi, ada gadis-gadis yang akan menggoda suamimu. Tenang, serahkan dia padaku."


Alex menepuk dadanya sendiri, agar membuat Nisa yakin membiarkan Abi pergi.


Ya, karena pengalaman yang memberi pelajaran. Bahwa di setiap pertemuan, akan ada wanita cantik yang akan digunakan sebagai alat mereka membujuk rekan kerjanya. Nisa paham itu. Dan sebagai pria dewasa, rasanya Abi sesekali akan terjamah oleh mereka.


"Jangan lupa makan siang,"  Nisa kembali memperingatkan..


"Tenang, akan ku suapi bila perlu." sahut Alex lagi, mengundang tatapan tajam Abi padanya.


"Hey, aku hanya menjalankan perintah, kau tahu itu." sanggahnya.


Setelah yakin, Nisa pun beralih dari kursinya. Mengecup punggung tangan Abi, dan beralih ke wajahnya. Kecupan di kening, pipi, dan bibir. Seperti sebuah ritual harus bagi mereka. Apalagi, dengan satu tambahan dari Abi. Apalagi kalau bukan pipi bakpau yang menggemaskan itu..


"Udaaah," sergah Nisa, mendorong wajah Abi menjauh darinya. Sedangkan Abi, hanya tersenyum gemas dengan respon itu. Tak sadar, dengan keberadaan Alex yang menatap mereka dengan begitu mengenaskan.

__ADS_1


"Keparaaaaat!" racaunya sendirian.


__ADS_2