
Nisa bergegas naik ke taxi yang telah Abi pesan kan untuknya. Dan tak perlu waktu yang lama, Nisa telah sampai dirumah mereka. Ia langsung menyerbu meja makan, karena rasa lapar nya sudah tak dapat di toleril lagi saat itu. Bik Asih pun segera dengan sigap mempersiapkan semua yang Nisa pesan di meja makan.
Bik Asih pun menggeleng gemas, menatap Nisa makan siang dengan begitu lahapnya. Dengan hidangan sederhana yang Bik Asih buat sesuai dengan anjuran Mama Sofi, yang diam-diam selalu mengontrol keadaan Nisa dirumah barunya.
"Aduh, kenyangnya..." ucap Nisa, mendongak kan kepala sembari mengelus perutnya yang kekenyangan.
"Sudah, Non?" tanya Bik Asih, mulai menghampiri nya.
"Udah, Bik. Bibik udah makan?"
"Iya, ini mau makan. Beresin dulu yang ini,"
"Makasih," ucap Nisa, yang kemudian beralih ke sofa dan memainkan Hpnya disana.
Ia mendengarkan musik, sembari membaca beberapa novel online kesukaannya. Tak lupa, sesekali mengirim pesan pada sang suami, mengabarkan dirinya saat ini.
"Eeegghhh... Kok ngga enak ya, perutnya? Malah eneg. Apa kebanyakan makan?" keluhnya, ketika rasanya ingin bersendawa, tapi justru tertahan di tenggorokan. Yang beralih menciptakan rasa mual tersendiri di ulu hatinya.
"Nah, gini nih. Makan telat, tapi abis itu makan kebanyakan. Kan eneg," omelnya pada diri sendiri. Ia pun segera naik ke kamar, mencari stok obat maghnya. Setelah ditemukan, Ia segera menelan satu butir dan mengistirahatkan dirinya diranjang.
Semua rasa menghilang. Moodnya untuk kembali membaca pun hilang, hanya ingin merebahkan diri dan diam tanpa melakukan apapun.
"Non Nisa, ngga papa?" tanya Bik Asih.
__ADS_1
"Ngga papa, Bik. Jangan bilang Mas Abi, ya? Kasihan, kalau cemas. Nisa ngga papa kok."
"Iya, Non." jawab Bik Asih, yang kemudian keluar dari kamarnya.
Nisa hanya bisa kembali membaringkan tubuhnya dan tetap diam disana. Hingga tersebesit rasa rindunya pada sosok Dita. Ia pun meraih Hpnya kembali dan mencoba mencari tahu kabar wanita itu.
"Bu Dita?"
"Hmmm?" jawab Dita, terdengar datar padanya.
"Sibuk?"
"Katakan, apa yang kau inginkan?"
Dita seketika menjauhkan Hp dari telinganya. Menatap hp itu, dengan tatapan yang aneh. Terkejut, rasanya ingin segera membanting hp itu agar Nisa tak bisa lagi menghubunginya.
"Bu?" panggil Nisa. Dita akhirnya mendekatkan lagi hp itu di telinganya, meski rasanya begitu malas mendengar suara Nisa.
"Ya? Ada apa?"
"Nisa tanya, Sibuk ngga?"
"Aku pengangguran sekarang. Kenapa?"
__ADS_1
"Kerja lagi yuk? Sama Mas...."
"Jika tak penting, akan ku matikan telepon nya." ancam Dita.
Nisa hanya memainkan manyun bibirnya. Ia bingung, harus mengajaknya bicara masalah apa lagi. Rasanya, seperti tengah menghadapi Abi di masa lampau, sebelum Ia berhasil menaklukan hatinya.
"Bu Dita...." panggilnya lembut, dengan nada yang sedikit bergelombang.
"Iya, Nisa? Apa kau gabut? Kau tak ikut Abi?"
"Pulang... Mas Abi sibuk, mau cari tanah. Nisa cuma ikut ke kantor, cuma mau lihat gelagat Feby. Cemburunya Nisa sama Feby, lebih parah dari kesal nya Nisa sama Bu Dita. Ketika yang jujur dan galak, lebih bisa dipercaya, dari pada yang diam tapi menghanyutkan." Nisa begitu gamblang, mengungkapkan semua rasa dalam hatinya itu.
Dita mendengarkan isi hati Nisa kali ini. Ia menangkap sesuatu yang aneh. Ya, gelagat Feby yang di ceritakan Nisa barusan. Hingga Ia bertanya apa alasan Nisa merasakan itu pada Sosok Feby, yang Ia tahu bahwa gadis itu adalah teman akrab Nisa ketika baru masuk ke kantor itu.
Hingga akhirnya, Nisa menceritakan tragedi coklat kala itu padanya.
"Coklat?"
"Iya... Feby bahkan sempet kasih coklat sama Mas Abi. Tapi, Mas Abi buang karena ngga suka."
"Dia tahu, Abi membuangnya?"
"Itu... Nisa ngga tahu. Tapi, Nisa ambil. Saat itu, Nisa omelin Mas Abi." jelasnya.
__ADS_1