Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Sang penggoda


__ADS_3

Wins Cafe.


Nisa lagi-lagi diajak ke tempat yang penuh dengan makanan. Seolah nasib sedang memanjakan dirinya dengan sebuah syurga yang selama ini terhalang oleh keuangannya yang seret.


"Kali ini membahas mengenai proyek yang di pegang Alex. Diluar kota. Jadi, kita akan segera mengirim hasilnya pada dia, setelah pertemuan." ujar Dita. Menghentikan mobilnya tepat di parkiran dengan rapi.


Abi kembali melakukan rutinitasnya seperti biasa. Masuk dengan tangan nya yang tak pernah lepas dari Nisa.


" Janji, atas nama Tuan Abi dan Tuan Hans?" Tanya Dita, pada petugas yang ada di depan.


"Oh, mari saya antar. Beliau, sudah menunggu sejak tadi." tawarnya dengan begitu sopan.


Ketiganya mengikuti dari belakang. Tampak wajah Dita sedikit tegang, mungkin tak enak hati dengan telatnya merela kali ini.


"Siang, Tuan. Maaf, kami telat..." ucap Dita, duduk di dekat clientnya itu. Abi pun demikian. Duduk tepat di depan Tuan Hans bersama Nisa di sebelahnya.


"Wah, Pak Abi. Akhirnya datang juga. Ini?" tunjuknya pada Nisa.


"Ini Istri saya, Nisa."


"Ah, baiklah." Tuan Hans menjabat tangan Nisa dengan ramah. Namun, tatapan Nisa tertuju pada seorang gadis yang sedari tadi menatap suaminya. Menatap tajam, bahkan nyaris tanpa berkedip sama sekali.

__ADS_1


Apalagi, dengan penampilannya yang serba terbuka. Baju berlengan tipis, dan belahan dadannya terbuka. Nisa tak tahu, Ia memakai apa dibawah sana.


"Ini sekretaris saya, Nina." ucap Pak Hans.


Nina pun mengulurkan tangannya. Begitu lembut dengan lirikan mata yang begitu dalam pada Abi. Entah gaya apa yang Ia pakai, hingga sedikit menonjolkan kedua bukit kembar itu ke mata suaminya.


"Apa-apaan?" gerutu Nisa dalam hati, lalu meraih tangan itu untuknya.


"Saya Nisa. Dan ini, Mas Abi. Suami saya," jawabnya dengan tatapan penuh ancaman.


Nina kembali pada tempatnya, lalu duduk rapi melirik sinis pada Nisa. Seperti itu terus, selama rapat mereka berlangsung. Dan membuat Nisa curiga, jika itu bukan sekretaris sang Tuan yang bersamanya.


"Apa kau?" Dita memberikan tatapan, seolah tengah membentak Nisa dengan ucapan itu.


Nisa hanya tertunduk, lalu menggelengkan kepalanya, "Ngga papa..."


Mereka berdua, seperti tengah berbicara dari hati ke hati lewat telepati.


**


"Haus," Nisa menarik-narik lengan baju Abi.

__ADS_1


"Tak sopan, makan disiini." bisik Abi.


"Nisa keluar aja, boleh?"


"Yasudah. Pesan dan minum diluar."


"Baiklah..." balas nya riang.


"Jangan Es...." ucap Abi, mematahkan semangat istrinya.


Nisa pun keluar, dengan semangat yang goyah. Seperti tak ingin melanjutkan pencarian akan pereda rasa hausnya itu.


"Pak Abi... Pak Abi kenapa? Terluka?" tanya Nina, yang mendadak berganti posisi di sebelah Abi. Sok memberi perhatian pada tangan kiri yang masih memakai sarung tangan dan terbalut perban itu.


"Hanya kecelakaan, sedikit. Tolong, jangan disenggol." jawab Abi, datar. Tapi, wanita itu seolah merasa tertantang dengan cueknya sang Tuan muda. Tampan, tenang, berwibawa dan dewasa.


"Sudah dibilang, jangan sentuh luka itu. Kau tak dengar?" bentak Dita, yang duduk berlawanan dari keduanya.


"Aku hanya ingin melihatnya. Aku ingin mengurangi rasa sakit ditangannya," tatap tajam Nina, membalas Dita.


"Kau mau, rasa sakit itu beralih padamu?" tangan Dita mengepal, dan Ia mengerutukkan kedua tangannya, seolah siap untuk memberikan sebuah pelajaran bagi sang penggoda.

__ADS_1


__ADS_2