Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Hampa ditengah keramaian.


__ADS_3

"Bagaimana aku bisa tenang, ketika Dia ada disana? Aku mohon, Re. Aku mohon pergi, sebentar saja." permintaan dari hati yang terdalam, dari seorang Abi yang tengah berjuang demi hari ini. Ya, setidaknya hari ini. Apalagi semua orang tengah menatapnya dengan penuh harap dan jantung yang berdebar begitu kuat.


Kata demi kata diucapkan. Sambutan, dan semua telah diutarakan u tuk pembukaan acara. Abi tampak begitu mengontrol dirinya, dengan sama sekali tak menoleh ke sebelah kanannya. Ia hanya fokus dengan kata-kata yang sudah semalaman Ia hafal dengan baik.


Tiba saat nya penghulu menikahkan mereka. Mengulurkan tangannya pada Abi, meski Abi tampak begitu gugup menyambutnya. Gemetar, berkeringat dan begitu dingin.


"Sabar, Mas Abi. Ini sekali seumur hidup, kan? Kalau gemetar, besok-besok jangan lagi, ya?" goda pak penghulu, berusaha menenangkan Abi dengan candaannya. Namun, bukan karena hal sepele macam itu yang membuat Abi gemetar.


Penghulu mengeratkan genggaman tangannya, membuat sedikit hentakan untuk memancing fokus Abi di hadapannya. Ijab di ucapkan dengan lantang dan jelas, hanya tinggal menunggu Abi membalasnya dengan nada yang sama.


Harap-harap cemas diwajah Nisa. Apalagi menatap Abi yang masih tampak begitu ragu dengan tatapan kosongnya.


"Udah ku bilang, jangan secepet ini. Seminggu itu bentar banget buat persiapan pernikahan," gerutunya dalam hati. Namun, yang Ia cemaskan tak sesuai kenyataan. Abi terdengar mengucapkan nya dengan begitu lantang, bahkan dengan satu tarikan nafasnya.

__ADS_1


Mata Nisa terbelalak menatapnya. Ia fikir, Ia akan gagal menikah mendadak hari ini. Tapi nyatanya, semua orang berteriak dan bersorak sorai, menyatakan jika pernikahan itu telah sah. Ia pun telah menyandang gelar sebagai Nyonya Abi saat ini. Diam, antara bersyukur dan bingung. Tapi tetap berusaha tersenyum dengan semua orang yang memberinya selamat.


"Kalian sudah sah menjadi suami istri. Mba Nisa, cium tangan suaminya. Jangan lupa, Mas Abu cium kening istrinya. Kan udah halal. Selanjutnya, lanjut nanti malem aja." Pak penghulu kembali menggodanya dengan jahil. Membuat semuanya terbahak-bahak karenanya.


Abi dan Nisa melaksanakan semuanya. Nisa meraih uluran tangan Abi dan menciumnya. Lalu, Abi dengan begitu hangat meraih Nisa dan mengecup keningnya. Begitu hangat, tak dingin seperti biasanya. Seolah tak ada keterpaksaan sama sekali dalam diri Abi.


"Aku tak menyangka, dia bisa sehangat ini." ucap Nisa dalam hati.


Sorak sorai semakin kuat, membanjiri kebahagiaan yang ada. Namun, tidak dengan Dita. Yang tampak semakin kosong ditengah segala keramaian yang ada. Merasa hampa meski begitu banyak teman disana. Ingin menangis, tapi Ia memilih untuk menahan nya, dan melepaskan semua ketika telah tiba dirumahnya nanti.


*


Sesi berfoto dimulai. Keduanya dengan bangga memperlihatkan surat nikah, dan cincin mereka ke depan kamera.

__ADS_1


"Mas, senyum." tegur Nisa padanya.


"Biar saja. Orang tahu aku seperti apa. Begini saja, sudah baik mereka menilaiku." jawab Abi.


"Yaudah... Nisa cuma ngasih tau." cebiknya kesal.


"Hey, fotonya yang mesra." tatap tajam Alex pada keduanya. Pasalnya, mereka berdiri terlalu jauh, untuk ukuran pengantin baru yang harus nya begitu berbahagia.


"Jangan menggoda, Lex." tegur Abi, dengan wajah datarnya.


Alex bergeming. Ia justru berjalan mendekat, dan mempererat keduanya. Dan kini, tak ada jarak untuk mereka. Bahkan, dengan jahilnya Alex menarik lengan kiri Abi, dan meletakkan nya tepat di pinggang Nisa.


"Alex!" geram Abi.

__ADS_1


"Uuluuuuh, mesranya. Di tium dong, istlina." Alex memanyun-manyunkan bibirnya, berasa paling imut sedunia.


__ADS_2