
"Dia tahu, kau mengambil coklatnya?"
"Sepertinya engga..." geleng Nisa. "Nisa ambil, Nisa marah sama Mas Abi waktu itu karena ngga hargai pemberian orang. Nisa belum tahu, Pak Bos kayak gimana."
"Baiklah... Istirahatlah, tunggu Abi pulang." ucap Dita. Suaranya melemah, dan terdengar sedikit lembut kali ini. Nisa hanya tersenyum dan mengangguk, lantas pamit dan menutup telepon nya.
Nisa kembali berbaring, merasakan perutnya yang benar-benar tak enak saat ini. Sesekali, Ia ke kamar mandi, karena Ia fikir akan muntah. Tapi nyatanya tidak, hanya mual dan perih yang Ia rasakan. Baginya, itu pengaruh lemon tea dan telat makan barusan..
"Massss, Nisa sakit..." keluhnya, kembali berbaring di ranjang sembari menatap kebali foto Abi di layar Hpnya. Mengusapnya beberapa kali, lalu perlahan pun matanya mulai terpejam. Seperti baru saja mendapat tiupan pemejam mata dari kejauhan sana. Ingin menelpon, tapi Nisa yang harus menahan diri kali ini. Ya, benar... Ia harus menahan diri dari segala rindunya, demi segala perjuangan Abi untuk nya..
***
Sementara itu, Dita tampak begitu sibuk di rumahnya. Meski pengangguran, Ia tampak sibuk, dengan segala pekerjaan yang ada. Mengotak atik laptop, sembari terus menghubungi beberapa koleganya. Hingga Ia terdiam sejenak, mencerna semua curhatan Nisa padanya tentang Feby.
"Dia......." Dita memikirkan semua kejadian yang berhubungan dengan wanita itu.
"Ya, Dia yang getol menyarankan aku untuk keluar dari perusahaan. Apa itu maksudnya? Ingin menggantikan ku? Aku gila, aku sadar. Tapi rupanya, ada yang lebih gila dariku..." tawanya sendirian.
__ADS_1
Dita terus bekerja sendirian, kembali menelpon beberpaa kolega hingga ada satu yang tepat dan berbalik menghubunginya. Apalagi kalau bukan perkara tanah itu. Diam diam perduli, meski masih begitu ego untuk langsung berdiskusi pada dua sahabatnya itu.
"Terimakasih, Pak Dom. Saya akan segera menuju lokasi yang anda berikan," ucap Dita, dan segera mematikan panggilannya. Ia segera bersiap memenuhi janji nya untuk bertemu orang itu.
***
"Makan lah," Alex mengulurkan sesendok makanan le mulut Abi, ketika mereka tengah makan siang bersama. Apalagi, Abi terlalu sibuk dengan gadgetnya saat ini sembari menunggu tamunya datang.
"Kenapa dia telat?" tanya Abi, menerima suapan itu dari Alex dan segera mengunyahnya.
"Permisi, Pak Abi, Pak Alex...." sapa seorang wanita. Berpenampilan begitu rapi, dengan rok pendeknya yang minim dan rambut tergerai dengan indah.
"Ya?" sapa Alex padanya.
"Saya, skeretaris pribadi Pak Danang. Saya diutus, untuk menemani Bapak disini, selagi Pak Danang telat."
"Baik, duduklah." ucap Abi.
__ADS_1
Entah apa maksudnya, seorang kolega mengirim sekretarisnya untuk menemani rekannya. Alasannya, karena telat. Padahal, mereka bisa saja datang bersama saat itu tanpa menunda pekerjaan yang lain. Apalagi, sekretaris itu tampak hanya duduk tanpa menjelaskan apapun pada Abi dan Alex. Tak seperti sekretaris pada umumnya.
"Kenapa diam?" tanya Abi, menunggu presentasi dari gadis itu.
"Nunggu Bapak... Ehm, Pak Danang. Beliau, yang membawa berkasnya."
"Lalu, kenapa kau datang jika Bosmu tak ada?"
"Eehm...." Gadis itu tertunduk dan diam. Sesekali mengipas dan mengibas lehernya yang jenjang. Entah, seperti sengaja memperlihatkan kecantikan dan kemolekan tubuhnya pada dua bujangan itu.
"Hey, ayolah, makan...." Alex meraih dagu Abi, mencengkram dan memaksa mulutnya terbuka.
Happ! Satu sendok makanan pun masuk ke dalam mulut Abi. Tampak senang ketika Alex dapat memberi pria itu makan siang.
"Uluuuuh, pinternya. Ucuk ucuuuuk!" Alex menggelitik dagu Abi, dan sesekali menggodanya. "Sayangnya siapa ini?"
Gadis itu hanya melotot, berpaling pandang sembari sesekali menelan salivanya kuat-kuat.
__ADS_1