Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Misa pegang dikit, boleh?


__ADS_3

Abi terdiam mematung. Hanya menoleh sedikit berusaha tak melihat apa yang sebenarnya baru Ia lihat di balik dinding buram itu. Nisa langsung meraih handuk dan membalut tubuhnya.


"Lihat apa, tadi?"


"Lihat semuanya," jawab Abi, memang terlalu jujur.


"Eeerrrrrghhh!" Nisa menggenggam tangan dan menghentakkan kakinya keluar. Bibirnya pun tak henti menggerutu, meluapkan semua kekesalannya kali ini.


"Menggerutu lagi. Bisakah tak menggerutu?" gumam Abi. Ia pun masuk ke dalam pemandian, dan mulai mengguyur kan shower ke seluruh tubuhnya. Terasa dingin, namun begitu menyegarkan.


"Hallo, Bu Dita? Mas Abi lagi mandi. Sebentar lagi berangkat ke kantor."


"Segera minta dia menghubungiku, ketika sudah selesai."


"Ya..." jawab Nisa, membalas kejudesan yang diberikan Dita padanya.


Ia telah dengan dressnya kali ini. Mama Sofi memintanya memakai dress agar lebih feminim dari biasanya. Dan tampak anggun sebagai istri seorang direktur. Meski tak terbiasa, Nisa merasa nyaman dan tanpa tekanan. Sesekali, menjadi dirinya sendiri dengan hotpans dan kaos oblongnya.


Ia beralih, menuju lemari Abi dan mempersiapkan semua keperluannya. Pakaian dalam, jas, celana dan kemeja putihnya. Tak lupa dengan dasi yang senada dengan warna jas Abu-abunya kali ini.


Tetesan air terasa jatuh di tengkuk leher Nisa. Ia meraba, lalu memutar tubuhnya. Rupanya, itu Abi dengan rambut basahnya, berdiri tepat di belakang Nisa yang tengah duduk bersimpuh merapikan lemari Abi. Ia lalu memejam kan matanya, karna tatapannya tepat pada sebuah aset yang begitu berharga. Hanya berbalut handuk sepinggang dengan tubuh yang masih separuh basah karena air dari rambutnya.

__ADS_1


"Sedang apa?" tanya Abi.


"Merapikan isi, disana," tunjuk Nisa, berusaha santai. Ada saja pengelihatan nya hari ini. Entah karena takdir yang harus membuat mereka mau tak mau terbiasa dengan itu semua.


Nisa berusaha berdiri, meski harus dengan meraba lemari karena matanya yang masih Ia tutup rapat.


" Buka matamu,"


"Malu...."


"Buka," pinta Abi, meraih tangan Nisa dan menggenggamnya. Nisa tersentak, dan spontan membuka mata.


"Wuuuaaaaahhh," kagum Nisa, dengan tangan refleks meraba nya dengan lembut.


"Hey!" Abi berusaha mencegahnya.


"Bentar, pegang dikit. Ngga papa, kan halal."


"Tak boleh! Jangan sembarangan pegang. Ini sensitif."


"Tak apa, sekali saja. Aku hanya membayangkan, memegang milik Oppa korea yang menjadi Biasku."

__ADS_1


"Itu lebih tak boleh lagi. Jangan jadikan aku pelampiasan Halu mu." Abi beberapa kali menepis tangan Nisa yang terus berusaha menyentuhnya.


"Bentar... Maunya gimana, coba?"


Abi geram, akhirnya meraih dan mencengkram kedua tangan Nisa. Perdebatan kecil terjadi diantara mereka. Bagai anak kecil yang di larang memakan permen oleh Ayahnya. Bahkan saling dorong karena Nisa rupanya memiliki tenaga yang kuat. Namun, keduanya justru jatuh tersungkur diatas ranjang.


"Kan, jatoh." ucap Nisa, yang kini berada di bawah tubuh Abi.


"Kau, kenapa selalu cari gara-gara?"


"Mana ada? Nisa cuma mau pegang. Apa salah?"


"Jika tak ku izinkan, jangan."


"Nisa pegang punya orang, boleh?" tatapnya, sembari menjulurkan lidah.


"Haish, Kau ini...." gerutu Abi, berusaha bangkit dan tubuh Nisa. Ia pun baru tersadar, jika Mama Sofi menatap mereka daritadi.


"Ma?" kaget Abi, susul Nisa yang menoleh padanya.


"Ah, engga... Mama ngga lihat apapun. Mama, baru dateng. Mama tunggu di bawah, ya?" ucap Mama Sofi, yang langsung membuang muka dan pergi.

__ADS_1


__ADS_2