
"Tidak bisa begini! Ini tidak adil namanya," Pak Jay tampak frustasi, ketika harapannya terpatahkan begitu saja. Berteriak dengan histeris, menunjuk wajah Abi dengan penuh rasa benci.
Abi hanya diam, terus menatapnya dengan wajah datar. Bahkan, tampak tak perduli sama sekali dengan apa yang Pak Jay lakukan.
"Aaaaaaarrrrrgggh!" teriak Pak Jay, dengan suara yang begitu melengking memekak kan telinga.
"Abi, kau tak papa?" tanya Alex. Menurut pesan, Ia harus menghampiri Abi ketika diam sendirian.
"Aku tak apa. Ayo, kembali ke rumah." ajak Abi, berdiri dan langsung melangkah pergi.
Satu urusan, setidaknya telah selesai. Meski Ia tahu, belumlah selesai sepenuhnya. Karena Pak Jay bukan orang yang gampang menyerah. Abi hanya malas, jika Ia menghasut warga yang lain untuk menentangnya.
"Aku istirahat sebentar. Setelah ini, Aku ingin berkeliling melihat hotel."
"Baiklah, aku akan mengantarmu." ucap Alex, yang terus di belakang Abi.
"Rajin sekali, ada apa?" Abi berhenti, dan menoleh pada sahabatnya dengan segala rasa curiga yang ada.
"Tidak... Tidak ada apa-apa," geleng Alex, malas menatap wajah sahabatnya itu.
Hari sudah siang. Ia masuk ke kamar, dan Alex memesankan makan siang untuk mereka. Tak hentinya Abi menatap laptop, dengan segala pekerjaan yang menunggunya disana. Yang kini diambil alih oleh Dita.
" Bagaimana disana?" tanya Abi.
"Ya, disini aman. Rapat pun dapat ku kendalikan dengan baik, bersama Manda. Santai saja," Dita mengulurkan senyum manisnya, meski Abi meresponnya datar.
__ADS_1
"Kau sedang apa?"
"Istirahat," jawab Abi, begitu singkat.
"Jangan lupa makan, nanti kau sakit. Tak ada yang...."
"Ah, aku ingat Nisa. Bisa kau pesankan makanan? Di restaurant biasa. Tapu jangan daging, Nisa alergi."
"Ya, baiklah...." angguk Dita, meski lagi-lagi hatinya tertekan perih..
Dengan panggilan yang masih menyala, Dita mulai memesan makanan untuk Nisa. Ia pun memperlihatkan segala menu yang ada, hingga Abi dapat memilihnya sendiri untuk sang istri.
"Sudah, itu saja."
"Baiklah," Dita mulai memesannya.
"Ya, Hay juga..."
"Kamu sedang apa?" Alex tampak begitu lembut padanya. Namun, Dita tak menjawab. Hanya fokus dengan Hp yang sedang Ia mainkan.
"Ish, di kacangin..." sinis Alex.
Abi pun mematikan Hpnya. Ia menuju meja makan dengan segala yang Alex pesan. Mulai menikmatinya meski hanya sedikit. Ya, biasanya Ia tak pernah makan siang. Hanya itu kebiasaan dari Nisa yang selalu memaksa dan menyuapinya.
***
__ADS_1
" Nisa... Sayang, ada kiriman makanan, nih." panggil Mama sofi.
Nisa yang tengah duduk di kamar, langsung berlari dan menghampirinya dengan begitu senang.
"Dari siapa?"
"Dari suamimu,"
"Anak Mama, kali."
"Ya sama aja. Kamu ini," colek Mama, dihidung bangir Nisa yang indah.
Terasa begitu bahagia, ketika Nisa mendapat perhatian seperti ini. Tapi, jika harus memilih. Ia memilih bersama dengan kulkas Dua pintu itu, daripada harus berpisah seperti ini.
Nisa duduk di meja makan, membuka semua hidangan dan melahapnya dengan nikmat. Tak lupa, mengirimkan foto cantiknya pada sang suami.
"Terimakasih, sayang... Muuaaaach!" tulisnya, dengan stiker dan emoticon love yang begitu banyak.
Abi hanya tersenyum, menatap foto itu dengan sesekali mengusapnya penuh rindu.
"Cieeeeeeee, Ahaay!" Goda Alex, pada sahabatnya.
Abi hanya menoleh datar padanya.
"Kau, sudah melupakan Rere?"
__ADS_1
"Tidak... Nisa tak memintaku melupakannya. Dia hanya memintaku, berdamai dengan keadaan, tanpa pernah melupakan."
Jujur, Alex masih bingung mencerna kata-kata itu. Tapi Ia hanya bisa mendukung bagaimana baiknya. Mengingat, segala perubahan yang mulai di tunjuk kan oleh Abi saat ini. Ia sangat bersyukur dan bahagia.