
"Ini, Ma, teh nya." Dita pun duduk, tepat di hadapan Mama Sofi saat ini diruang makan, dan hanya berdua karena Bik Nik tengah istirahat lebih dulu karena tak enak badan.
"Teh nya manis, makasih." ucap Mama, yang menyesap teh hangat itu dengan bibir keriputnya.
Tampak Dita tengah gelisah. Beberapa kali membuka dan menatap layar Hpnya.
"Mikirin siapa?"
"Ma, maaf... Abi kenapa ditinggal? Mama dengar sendiri, tandi Nisa ngamuk dan marah-marah. Apalagi, Abi paling tak bisa dengar orang meninggal di dekatnya."
Mama sofi hanya mengulurkan senyum datarnya. Ia pun meraih Hp, dan menekan panggilan pada Abi. Beberapa kali, hingga akhirnya Abi menghubunginya balik.
"Ma?"
"Ya, sayang? Bagaimana Nisa, Nak?"
"Nisa baik-baik aja. Baru saja bisa istirahat, dan tidur. Meski mungkin, belum lelap."
__ADS_1
"Abi sendiri, bagaimana?"
"Abi ngga papa. Abi masih bisa mengatasi diri Abi sendiri, untuk sekarang." tatap Abi, pada Nisa yang tidur diatas lengannya, dengan posisi membelakangi Abi.
"Ya, syukurlah, jika Nisa tak apa. Abi jaga diri ya, sayang..."
"Ya, Ma." Abi menutup telepon nya. Ia pun membelai dan mengecup kening Nisa dengan penuh rasa sayangnya. Meski sesekali Nisa masih terisak dalam tidurnya.
Mama meletak kan Hpnya, tampak Ia menghela nafas begitu panjang dan lega.
"Ma?" tanya Dita, penasaran dengan respon Mama sofi yang tampak begitu tenang. Padahal, Ia sangat takut Abi kembali dengan traumanya disana.
"Maksud Mama?" Dita tertunduk, tampak begitu sungkan.
"Biarkan Abi bersama Nisa. Jangan pernah, kamu mencoba untuk mengusik mereka."
"Ma, Dita ngga...."
__ADS_1
"Mama tahu, kamu cinta Abi. Mama bilang itu wajar, karena memang kamu yang menemaninya selama ini. Tapi, Mama tak akan pernah bisa mendukung itu. Nisa, untuk Abi."
Tangan Dita seketika gemetar, meraih teh dan meminumnya perlahan. Ketika Abi berkata, Ia masih bisa menyela. Tapi ketika Mama bicara, semua rasa takutnya semakin menjadi.
"Ketika Abi bilang akan mengawasimu, Mama sudah terlebih dulu memperhatikan semuanya."
"Ma, Dita....."
"Mama sudah anggap kamu anak Mama, sama seperti Alex. Manfaatkan itu dengan baik, jangan sampai Mama mebalik hati."
"Ma, Dita pamit." Dita meraih tangan Mama Sofi dan menciumnya. Ia pun segera pergi dari rumah itu, tanpa sepatah katapun. Hingga suara mobil hilang dari pendengaran Mama sofi.
"Aaaaaaaarrrrrrrrgggghhhh!!!" Teriak Dita sekuat tenaga. Dalam keadaan yang amat sunyi, menembus kegelapan malam. Air matanya pun mengucur begitu deras, membasahi pipinya. Isak tangisnya, memenuhi seisi mobil. Untungnya hanya Ia sendiri disana.
Alex menelpon nya, ketika Abi mendapat tiket pesawat dadakan. Meminta Dita menjemput dan membawanya segera kerumah Nenek Nisa. Ia juga sempat menenangkan ketika Abi mulai pucat dan ketakutan. Tapi sayang, semuanya memang akan kembali pada Nisa. Persis seperti yang Mama sofi katakan.
Kekuatan mobil pun begitu cepat Ia pacu, seolah Ia tak lagi takut akan sebuah kematian.
__ADS_1
"Andai mati, bisa membuatmu memberi sedikit perhatianmu padaku, Bi. Kau bisa menangisiku, dengan segala ketulusan yang kau berikan. Aku mau itu, Bi."
Ia memukuli setirnya, dan tampak begitu frustasi. Untung saja, nasib belum membawanya pada kematian, hingga Ia masih selamat sampai dirumah. Ia masuk, dan merebahkan dirinya dengan begitu kasar di ranjang, menelan obat yang biasa Abi minum sebagai penenang.