
"Bagaimana Abi saat ini, sayang?" tanya Mama Sofi. Mereka tengah berjalan kaki nerdua menuju sebuah minimarket di dekat rumah, untuk membeli apa yang Nisa perlukan.
"Bagaimana, yang gimana?" Nisa meragu.
"Malamnya, siangnya, dan semua bayangan ketakutannya. Apa, masih sering hadir?"
"Jujur, Nisa ngga tahu perbandingan antara dulu dan sekarang. Nisa hanya tahu, Mas Abi yang sekarang, Ma. Ya, dalam beberapa moment, sering menangis tiba-tiba. Kadang diam mematung, dan harus segera disadarkan dengan cepat."
"Nisa, ngga takut?"
"Kenapa?"
"Mama tahu, Abi hanya trauma. Tapi, banyak orang bilang, Abi gila." tunduk Mama, yang tanpa sadar menitikan air mata.
"Mamaaa, kenapa nangis?"
"Mama capek, Sa. Mama capek, tapi capek untuk Abi. Rasanya lelah, melihat Abi seperti itu. Kasihan, ketika harus tergantung dengan obatnya seumur hidup. Hanya untuk bisa tidur dengan tenang."
Nisa menghentikan langkahnya. Memutar tubuhnya dan menghadap sang Mama, menatap matanya dengan hangat. Ia pun mengatakan, jika Abi sudah tak terlalu bergantung dengan obat saat ini. Bisa tidur dengan nyenyak, kapan pun Ia mau.
"Asal...."
"Asal apa?" Mama memicingkan matanya.
"Asal Nisa peluk," jawabnya, dengan pipi merah merona.
__ADS_1
Mama sofi tersedak tawa sembari nengusap air matanya. Serasa tak percaya, tapi Nisa pun tak mungkin berbohong padanya. Lima tahun dalam sebuah kebingungan, dan Abi luluh hanya dengan sebuah pelukan. Itu seperti sebuah keajaiban yang sangat di ragukan.
Mereka melanjutkan perjalanan. Jarak yang ditempuh cukup jauh, tapi lumayan untuk sekedar menghibur diri. Sayangnya, Mama sofi justru menceritakan kisah kecil Abi. Padahal, Nisa ingin tahu kejadian Lima tahun lalu. Sedikit rikuh, jika Ia yang harus bertanya.
*
"Tanganmu, bagaimana?"
"Masih harus rehat. Entah, kenapa lama sekali. Tapi, Nisa sesekali membuka dan memberi salep."
"Tampaknya, gadis itu sangat terampil."
"Gadis?"
"Ya, kenapa?"
"Apanya yang salah? Itu sama..."
"Tidak... Kata gadis, seperti kau memperhatikannya." jawab Abi, menoleh dan menatap Alex sedikit tajam.
"K-kau kenapa?"
"Tidak, hanya ingin menatapmu."
"Tapi itu mengerikan!" pekik Alex, yang justru geli dengan tatapan tajam Abi padanya.
__ADS_1
Abi menyipitkan matanya, perlahan kembali menoleh pada laptopnya yang memang sedari tadi menyala. Sedang Alex, sedikit gugup dan melonggarkan dasinya.
"Kau, cemburu?" tanya Alex.
"Dia istriku..."
"Berjuta kali kau ucap, aku tahu jika Nisa istrimu."
"Kenapa bertanya, jika Kau tahu jawabannya." jawab nya datar.
Alex hanya menghela nafasnya panjang. Sangat, dan sangat panjang. Andai Ia bukan sahabat terdekat Abi, pasti Ia sudah mengajak pria itu ke tengah lapangan, dan mengajaknya adu otot.
"Untung sudah sampai dikantor. Selamat," gumam Alex. Ia pun segera memarkirkan mobilnya, dan membuka kan pintu mobil untuk Abi.
Keduanya berjalan masuk, dengan penuh wibawa dan membuat orang terpesona. Apalagi, para karyawan wanita yang memang mengidolakan kedua pangeran tampan itu.
" Satu aja bikin mleyot. Apalagi Dua, meleleh...." ucap salah satu karyawan itu.
"Pagi, Pak...." sapa mereka dengan kompak. Abi hanya membalasnya dengan kedipan mata. Beda dengan Alex, yang mengangguk dan bahkan mengulas senyum manisnya.
Dita, rupanya telah menunggu diruangan Abi. Duduk manis, dengan segala dokumen yang sudah tersusun rapi. Senyumnya pun begitu lepas, bagai tak ada beban dalam hidupnya.
Atau, karena sang Nyonya Bos tak ada? Entahlah, hanya Dita dan tuhan yang tahu.
"Selamat pagi, Pak..." sapa Dita, dengan senyum seluas samudera.
__ADS_1
"Pagi, Ditaaaaa...." sapa Alex dengan begitu panjang dan ramah.
Dita hanya membalasnya, dengan senyum kecut hingga matanya terpejam.