
"Toko gaun nya gede banget," kagum Nisa.
"Butik, bukan toko. Masuk," gandeng Abi lagi. Seperti takut jika Nisa akan lari pergi darinya.
"Selamat siang, Pak Abi, Nyoya...?"
"Saya Nisa," jawab nya dengan ramah.
"Iya, Nyonya Nisa. Mari masuk. Bu Dita sudah menunggu di dalam,"
"Terimakasih," balas Nisa dengan begitu ceria. Sementara Abi, tak perlu di katakan lagi, jika Ia hanya mengangguk dengan tatapan lurus ke depan.
"Bi, kau sudah datang?" sambut Dita, berdiri dari sofanya.
"Ya, mana gaun nya? Nisa harus segera mencoba, agar tahu bagian mana yang harus di perbaiki. Waktu kita tak banyak," pinta Abi.
Nisa bersembunyi di belakang badan Abi. Ia masih sedikit takut dengan Dita, apalagi dengan tatapan sinisnya ketika Ia melihat Nisa. Seperti ingin menghampiri dan mencakar-cakarnya dengan gemas.
Dita memberi kode pada teman nya, dan segera mengambil gaun itu. Gaun putih polos dari bahan satin yang lembut, begitu elegan dan tak banyak acesoris.
"Wuaaah," tatap kagum Nisa.
"Seperti nya, pas. Ukuran kaki sama, dan postur tubuh sama. Maaf, aku mencobanya tadi." ucap Dita, dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Untukmu, Bi. Sebuah celana dan jas Abu-abu. Sudah ku pilihkan, sesuai ukuran yang biasa kau pakai,". Ucap Dita, memberikan sebuah setelan untuk Abi. Tampak berat, ketika Abi menerima nya dan hendak mencoba dikamar gantinya.
"Ya, terimakasih." ucap Abi.
Mereka masuk ke kamar ganti masing-masing. Menyesuaikan diri dengan gaun dan pakaian masing-masing. Abi keluar lebih cepat, karena memang tak terlalu sulit untuk memakainya. Sedangkan Nisa, keluar di menit berikutnya bergaun lengkap. Meski rambut dan wajah belum dipoles make up seperti seharusnya.
"Mas, udah." panggil Nisa, berjalan santai ke arah calon suaminya.
Abi menatapnya dalam diam. Memperhatikan Nisa dari ujung kepala hingga ujung kaki. Terpesona, dengan keanggunan gadis yang bagi nya konyol itu.
"Benarkan cara jalanmu." ucap Abi, tanpa memujinya sama sekali.
"Cantik ngga?" tanya Nisa.
"Cantik," balas Abi, dengan menatap layar Hpnya.
"Apa sih?"
"Cantik ngga? Ngomong yang bener." paksanya.
"Cantik! Tadi kan udah lihat. Kenapa maksa, hanya untuk sebuah pengakuan?"
"Itu penting!" sergah Nisa. "Perhatiin, kalau cewek lagi ngomong. Apalagi calon istri."
__ADS_1
"Sudah ku bilang, cantik. Kau saja tak puas," tukas Abi.
Dita hanya menghela nafas, dan memijat dahi, ketika melihat tingkah mereka berdua.
"Hey, sudah?" tanya nya, tampak begitu lelah saat ini.
Abi menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Ya, sudah. Aku akan menggantinya kembali." jawab Abi, lalu pergi.
Tatapan Dita beralih pada Nisa. Tatapan yang tak kalah dingin dengan yang diberikan Abi padanya. Namun, ini terasa lebih menusuk ke ulu hatinya.
"Kenapa dingin sekali, seperti sikapnya?" gumam Nisa, seketika membayangkan tatapan Abi padanya..
"Sudah?" tanya Dita.
"Iya, sudah. Ngga ada yang kurang, semua pas."
"Ada," jawab Dita. "Cara berjalanmu."
Nisa pun menggoyang-goyangkan kaki nya. Tak bisa membayangkan, apalagi yang akan Dita berikan padanya. Cara berjalan mungkin. Cara berjalan bak seorang model yang anggun dan berkelas. Dan tentunya, akan membuatnya lelah hari ini.
"Ganti bajumu," pinta Dita dengan sedikit lembut. Wajar, karena ada Abi yang tengah berjalan menghampiri keduanya.
"Kau mau menunggu, atau tinggal, Bi? Aku akan mengajari Nisa, cara berjalan yang benar. Dia butuh latihan itu." tanya Dita.
__ADS_1
Abi tampak bingung dan ragu. Apalagi, untuk meninggalkan Nisa bersama Dita disana. Di satu sisi, pekerjaan nya memang begitu banyak menunggu disana.
" Tidak, Mas Abi. Jangan biarkan Nisa disini sendiri bersama Dia," tatap Nisa, dengan penuh harap. Sedangkan Abi, membalas tatapan nya dengan penuh pemikiran.