
Abi tersenyum. Begitu indah di mata Nisa, membuat hatinya meleleh sejadi-jadinya. Apalagi, ketika Abi mengangkat tangan menyentuh dan mengusap wajahnya dengan lembut. Nisa menikmati semua sentuhan itu, dengan memejamkan matanya.
Tangan Abi pun turun sedikit kebawah, menelusuri leher Nisa yang jenjang itu.
"Kau, siap?" tanya Abi, dengan memainkan lidah di dalam mulutnya.
"Siap. Nisa sudah siap sejak...."
"Sejak apa?"
"Sejak malam pernikahan kita."jawab Nisa.
" Oh, ya?" tatap Abi, dan Nisa hanya menganggukkan kepalanya.
Abi melepas belaiannya. Menuju dirinya sendiri dan meraih blezer yang Ia pakai. Dibuka nya kancing blezer itu satu persatu, semakin lama semakin habis. Membuat senyum Nisa makin merekah.
"Yes, berhasil," girang Nisa dalam hati. Apalagi, ketika Abi melepaskan blezeer itu secara utuh dari tubuhnya.
__ADS_1
Namun, apa yang diharapkan tak sesuai kenyataan. Kemesraan tak berlanjut, dan Nisa hanya melotot melihat Abi yang memainkan blezernya. Dan siapa sangka, blezer itu justru Abi ikatkan ditubuh Nisa.
"Eh, loh, kok gini?"
"Lalu, kau mau apa? Siapa yang mengajarimu menggodaku? Mama?" tanya Abi, dengan mengikat lengan panjang blezernya di tubuh Nisa.
"Ya, ngga gitu. Nisa hanya melaksanakan kewajiban Nisa. Itu aja," balasnya, mulai terkekang dengan ikatan yang Abi berikan.
"Mas, lepasin. Kenapa begini? Nisa kayak orang gila yang mau dikerangkeng, sih?"
Abi bergeming. Ia justru menggendong tubuh Nisa, dan merebahkannya diatas ranjang. Lalu, menyelimutinya dengan rapi.
Abi tak menghiraukannya. Justru berbaring di samping Nisa dan menyelimuti tubuhnya dengan begitu hangat.
"Masss!"
"Hmmm?"
__ADS_1
"Awas, ya... Kalau kumat lagi, ngga akan Nisa tolongin. Terserah sana, mau nangis, mau apa."
"Aku sudah minum obatku, aku tak menangis malam ini." jawabnya dengan tenang, dengan memejamkan kedua matanya. Terlentang, dengan kedua tangan di dadanya.
"aaaaarrrkh... Menyebalkan!" racau Nisa dalam hati. Ikatan memang tak begitu kuat, tapi menyulitkan Nisa untuk bergerak dengan bebas.
Nisa akhirnya lelah sendiri, dan tidur dnegan begitu tenang meski masih terikat. Setidaknya hangat, karena Abi menyelimuti tubuhnya.
Namun, Abi akhirnya bangun di tengah malam, melepaskan ikatannya dari tubuh sang istri. Merapikan selimutnya agar tak dingin karena baju tidur tipisnya itu.
"Aku faham perjuanganmu. Tapi maaf... Aku hanya tak ingin kau sakit. Apalagi jika nanti, kau bersamaku, tapi aku menyebut namanya."
Meski ragu, Abi mengecup kening Nisa dengan begitu hangat. Bahkan mengusap rambutnya yang masih tergerai dengan begitu indah. Ia pun memeluk tubuh Nisa dengan erat sebagai pengganti rasa kecewa Nisa saat itu.
Nisa memang terpejam. Namun, Nisa dapat mendengar semua ucapan Abi dan merasakan pelukan hangat itu. Hanya berpura-pura acuh, menggeliat dan memiringkan tubunya. Agar apa? Agar Abi bisa menarik tubuhnya lagi dan semakin erat memeluknya dari belakang.
"Iya, ngga papa. Es batu di kutub aja, lama-lama mencair kok, Mas. Apalagi kamu. Aku hanya butuh nenyesuaikan diri lebih banyak. Dan... Mencari semua tentang masa lalu kamu. Darimana aja, aku akan berusaha."
__ADS_1
Malam itu, Abi tidur tanpa Rere yang datang menghampirinya. Entah, karena obat tidur atau karena hati Abi yang begitu damai. Rasanya memang sangat berbeda, ketika Abi ada di dekat Nisa. Tak pernah sepi, seolah gadis itu memang mengalihkan semua rasa hening yang selalu akan mengundang ketakutan Abi.