Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Ngga jadi kencan?


__ADS_3

"Kak Adhim? Dia, perawat Nenek. Tadi, Nisa tanya kabar."


"Ya, baiklah," timpal Abi. Nisa pun keluar, dan pintu kamar Dita terbuka saat itu. Abi melarang untuk menutupnya.


"Kau mencintainya?" tanya Dita, sembari mengunyah bubur yang Abi suapkan. Namun, Abi tak menjawabnya. Ia fokus mengaduk bubur agar segera dingin hingga lebih mudah untuk dinikmati.


"Kalau tak cinta, kenapa menikahi dia?" tanya Dita lagi.


"Mengapa mempertanyakan cinta?"


"Aku hanya bertanya. Kenapa bisa menikah tanpa cinta?"


"Aku sudah pernah begitu mencintai. Tapi, Ia justru pergi. Apalagi?" Abi menyuapkan kembali bubur ke mulut Dita.


"Hanya satu yang ku tahu... Kami saling membutuhkan."


Dita kembali diam. Ucapan Abi cukup beralasan, meski Ia masih menyayangkan keputusan itu.


Semangkuk bubur habis. Abi membereskan mangkuk nya di nakas dan memberikan air putih untuk Dita. Perhatian kecil, yang pasti akan membuat hati wanita bergetar. Apalagi bagi Dita untuk Abi.


"Hari sudah petang... Pulanglah. Aku bisa sendiri. Toh, sudah ada stok makanan."

__ADS_1


Abi bergeming. Meraih sapu tangan dan membersihkan kotoran di bibir Nisa. Bahkan Ia membersihkan wajah Dita yang tampak kusam dari keringat yang menetes. Banyak, justru di tambah dengan air matanya yang mulai mengalir.


" Kenapa menangis?" tanya Abi. Nada bicaranya masih begitu tenang dan datar.


"Kau, memang benar-benar tak peka!"


"Kau membentakku?" tatapnya tajam.


"Kau harusnya tahu, siapa yang membuatku sampai seperti ini." Dita mendekat pada Abi, dan meletakkan telapak tangannya ke wajah itu. Wajah yang selama ini menjadi sebuah kekaguman untuknya. Dekat, namun begitu sulit untuk diraih.


"Dita, jangan macam-macam." Abi meraih tangan itu dan menahannya.


Dita hanya diam, semakin mendekatkan wajah keduanya.


"Kalau mau berduaan, ngapain ngajak Nisa kesini!" kesalnya, menghentakkan kaki lalu pergi.


"Dia cemburu?"


"Entah. Jika iya, kau harus bicara padanya."


"Silahkah saja..." tantang Dita, dengan senyum devilnya.

__ADS_1


Abi segera berdiri. Berlari keluar kamar itu dan segera menyusul Nisa setelah mengambil kunci mobilnya. Nisa yang langkahnya kecil, segera dapat dengan mudah disusul Abi yang kemudian meraih tangannya.


"Kau kenapa?"


"Keneapa? Masih tanya kenapa? Seorang istri melihat suaminya di kamar cewek, terus begitu dekat. Mas tanya lagi kenapa?"


"Aku disana bersamamu. Kami tak melakukan apa-apa."


"Sedekat itu! Sedekat itu katanya ngga melakukan apapun. Bohong!" sergahnya. "Hanya ada  Dua alasan kita ke toilet, Mas. Buang air besar, atau buang air kecil. Ngga ada yang lain."


Abi menyipitkan matanya. Berusaha mencerna makna apa yang Nisa ucapkan padanya. Meski terkesan aneh dan jorok, tapi memiliki makna yang besar.


"Pulang,," Abi membukakan pintu mobilnya untuk sang istri. Dan meski mendengus kesal, Nisa tetap menurutinya. Masuk, dan duduk dengan wajah yang cemberut dan bibirnya yang berkerut.


"Jadi, kita mau kemana?" tanya Abi, di sepanjang perjalanan.


"Katanya pulang. Yaudah, pulang."


"Tak jadi... Kencan?"


"Engga, males...." ketus Nisa, menyilangkan kedua tangannya di dada.

__ADS_1


Abi hanya memainkan bibirnya. Terasa aneh pada tingkah Nisa yang memang sudah aneh baginya. Menatap gadis itu yang begitu kesal seperti gadis yang baru saja di selingkuhi kekasihnya. Bahkan, hingga mereka tiba dirumah pun, Nisa masih seperti itu.


Masuk dengan langkah yang keras, dan langsung naik ke atas meniggalkan Abi yang masih menatapnya tenang.


__ADS_2