
"Bagaimana proyek kita, tentang Apartemen itu?"
"Tunggu Nenek Nisa sadar. Aku akan memanfaatkannya untuk membujuk mereka semua. Setidaknya, Ia berhutang budi padaku."
Dita mendelik. Ia memang tahu pasal Abi yang membantu semua perawatan Nenek Nisa. Tapi Ia tak tahu, jika Abi memiliki rencana seperti itu.
"Kau, menikahi Nisa untuk itu?" Dita memicingkan matanya.
"Tidak. Bukan karena itu. Aku pun baru tahu, setelah kami Deal untuk menikah. Manfaatkan saja," Abi menyunggingkan senyum tipis dibibirnya. Dita hanya menggelengkan kepala dengan rancana yang Abi fikirkan sendiri tanpa persetujuannya itu.
Rapat demi rapat telah mereka jalani. Hari kini mulai senja, dan mereka menghabiskan waktu sejenak di di restaurant itu. Mereka sering melakukan nya bersama, untuk penghilang lelah. Biasanya bersama Alex. Ya, mereka selalu bertiga kala itu.
Hp berdering. Abi pun segera mengangkatnya. Tak lain adalah Nisa, yang seolah menggantikan sang Mama yang harus memintanya pulang segera. Namun, Abi merasa ada yang janggal kali ini. Nisa terdengar begitu manja dan merasa aneh dengan nada bicaranya.
"A-aku akan pulang. Ya, sebentar lagi." ucap Abi.
"Okey, Nisa tunggu dirumah. Bye Mas," balasnya dengan begitu lembut.
"B-baiklah," jawab Abi, lalu mematikan teleponnya.
"Mama?" tanya Dita.
__ADS_1
"Nisa. Dia meminta ku segera pulang,"
"Kenapa, ekspresimu aneh? Itu kan istrimu. Harusnya kau senang." Dita menghabiskan kopinya. Ia pun meraih tas dan segera berdiri dari kursinya.
"Ayo... Aku tak ingin ada yang bilang aneh-aneh tentang kita. Sudah rumit, hidupku." ucapnya, meninggalkan Abi yang masih menggenggam Hp di tangannya.
Keduaya berpisah di lobi. Dita telah ditunggu supirnya di depan, dan pulang kerumah masing-masing.
"Ya, Bi. Semua telah tergantikan. Tapi, aku tak seperti Mama mu, yang justru senang kau bersama dia. Maaf, aku belum seikhlas itu."
**
"Abi, kok jam segini baru pulang? Mama udah khawatir dari tadi," sambut Mama Sofi. Tampak begitu khawatir saat Abi pulang kemalaman dari biasanya.
"Di kamar. Dia nunggu kamu daritadi. Kamu udah makan malam?"
"Belum, tadi hanya ngopi berdua dengan Dita."
"Mama siapin makan malamnya dulu,"
"Ya," jawab Abi, yang kemudian naik menuju kamarnya.
__ADS_1
Abi masuk, mendapati Nisa tengah duduk santai dengan Hpnya. Tersenyum sendiri menatap layar Hp seperti tengah menonton sesuatu.
"Kau tak menyambutku datang?" tegur Abi, yang melipat sendiri jasnya.
"Eh, iya, Mas... Maaf," Nisa langsung berdiri dan mencium tangan suaminya.
"Ciumnya?" tanya Nisa, memberikan keningnya yang lebar untuk Abi kecup.
"Aku?"
"Ya iya lah, Mas. Masa minta cium sama suami tetangga. Ayo, cium," manjanya Nisa.
"Aku belum mandi, nanti saja." tolak Abi, membuat Nisa mengerucutkan bibirnya. Bahkan Abi meninggalkan nya untuk segera pergi ke kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dan kembali merenungkan Nisa disana.
"Kenapa makin aneh? Makin agresif padaku. Apa, itu ajaran Mama?" gumamnya.
"Mas, ganti nya udah Nisa siapin. Nisa mau kebawah dulu, buat makan malam." pekik Nisa.
"Ya," balas Abi dari dalam kamar mandi. Ia keluar setelah semua selesai, melihat sebuah celana tidur dengan kaos oblong, beserta blezer nya disana. Itu memang style Abi. Nisa rupanya sudah banyak belajar mengenai suaminya itu.
"Cepat juga, beradaptasi denganku." ucap Abi, yang lalu memakai semuanya dengan rapi. Ia segera menyusul Nisa yang menunggunya dibawah sana.
__ADS_1
"Ayo makan, ini Nisa yang masak. Khusus buat kamu," tawar sang Mama, dan Nisa duduk dengan manis di kursi biasa Ia duduk. Yaitu, disebelah Abi.