
"Ma, nanti tolong ajak Nisa ke salon. Buat perawatan," pinta Abi, sembari memberikan credit cardnya pada sang Mama.
"Biar, Mama aja yang bayarin. Toh, buat menantu kesayangan. Perawatan sampai kinclong," Mama Mengedipkan mata pada Nisa, tapi gadis itu tak menanggapinya.
"Nisa, kenapa? Sakit?"
"Engga, Ma. Lagi males aja, ngga tahu kenapa." jawab Nisa, memanyunkan bibirnya.
"Katakan jika ada yang diinginkan. Aku tak punya ilmu telepati yang bisa membaca pikiranmu," ucap Abi. Seperti biasa, nada bicaranya begitu santai. Seolah tak ada beban apapun dalam fikirannya.
Nisa hanya diam, melanjutkan menyantap sarapan yang ada di depan matanya. Dan mengantar Abi, ketika tiba waktunya berangkat kembali.
" Jangan kemanapun hari ini. Ingat, kita akan ke pesta."
"Ke Rumah sakit pun, ngga boleh?"
"Engga. Salon, dan pulang..."
"Kalau melanggar perintah?" tantang Nisa. Abi pun memberikan tatapan tajamnya yang menakutkan. Mendekati wajah Nisa dan membuatnya mundur sedikit demi sedikit menunduk kan wajahnya. "Serem,"
__ADS_1
"Aku sendiri yang akan menjemput, dan membawamu pulang. Faham?"
"Iya, faham... Pengekang,"
"Menggerutu lagi?"
"Engga," geleng Nisa, lalu meraih tangan Abi dan mengecupnya.
Entah apa yang membuat Abi mengekangnya hingga seperti ini. Padahal yang Ia tahu, Abi bahkan tak mencintainya. Untuk apa, hingga Abi tak mengizinkan dirinya keluar sendirian. Harus dengan dia, atau dengan Mama sofi. Bahkan, dengan ancamannya yang membuat sekujur tubuhnya merinding.
Nisa memutar badan. Berjalan menuju Mama Sofi yang tengah membereskan meja makan, dibantu Bik Nik yang tengah mencuci piring di tempatnya.
"Nisa bantu?"
"Memangnya, Mas Abi selalu membawa siapa?" tanya Nisa, dengan memainkan jarinya.
"Siapa lagi, kalau bukan Mba Dita. Lima tahun lebih, kemana-mana sama Mba....."
"Bibiiiik," tegur Mama pada sang asisten. Apalagi, ketika raut wajah Nisa mulai berubah. Keningnya berkerut, dan bibirnya maju Lima csntimeter dari biasanya. Dan tanpa sepatah kata apapun, Nisa menghentak kan kakinya. Pergi naik ke kamar tanpa pernah lagi menoleh kebelakang.
__ADS_1
"Kan... Bibik sih,"
"Ngga papa, Nyah. Biar, dia tahu bagaimana Dita dan Mas Abi. Dia harus tahu sejak saat ini, menghindari kecemburuan yang semakin menggila. Eeeh, ngomong apa, Bibik ini?" tepuknya, pada bibir sendiri dengan tangan penuh busa.
Mama sofi sesekali menatap keatas, memperhatikan kondisi Nisa. Entah cemburu, atau memang tak suka ketika harus dibanding-bandingkan dengan yang lain. Tapi Bibik ada benarnya. Nisa harus terbiasa dengan itu semua. Karena semua orang tahu, Abi selalu bersama Dita. Dan bahkan tak pernah ada penggantinya sebelum Nisa masuk diantara mereka.
"Kalau ngambek, gimana coba?" Mama padanya. Bibik hanya memberikan sebuah senyum. Meyakinkan, jika Nisa bukan lah gadis lemah seperti itu.
Dan benar saja. Terdengar langkah ceria Nisa, kembali turun dari kamarnya.
"Maaa, ayo..." ajak Nisa, sudah ada lagi di depan Mama Sofi.
"Kirain ngambek,"
"Engga, buat apa Nisa ngambek?"
"Yaudah, bentar."
Mama Nisa beralih sebentar. Mempersiapkan dirinya untuk pergi bersama sang menantu kesayangan.
__ADS_1
Ada kesempatan Nisa bertanya mengenai Abi. Tapi entah kenapa, Nisa merasa Mama bukanlah orang yang tepat untuk menceritakan semua masa lalu anaknya.
" Tidak, bukan.... Dan jangan. Mama adalah orang yang paling sensitif, ketika membicarakan Mas Abi dan masa lalu nya." tatap Nisa, pada sosok yang mulai mengambil hatinya itu.