
Alex tiba di lokasi proyeknya. Lokasi pembangunan hotel di daerag pesisir, dengan segala keindahan yang ada. Ia mengecek semua pembangunan yang bahkan nyaris rampung itu. Hanya tinggal merapikan dan memberi dekorasi di bagian depan, agar tampak semakin menawan dan terkesan mewah. Itu akan menambah daya tarik tersendiri bagi para pengunjungnya.
"Pak Alex," panggil seorang pria paruh baya. Mendatanginya dengan wajah sedikit angkuh dan terkesan sok kuat dengan segala kuasanya.
"Pak Jay, ada apa?" sapa Alex, berusaha agar tetap ramah. Padahal, Ia selalu emosi ketika menatap pria yang ada di depan matanya itu. Ia pun mengajaknya duduk, di sebuah kursi panjang dan mulai membicarakan pasal bisnis mereka.
"Ada apa, Pak Jay?" ulang Alex, pada pertanyaannya.
"Tak perlu basa basi, agaknya. Hanya ingin bertanya, bagaimana masalah harga tanah saya?"
"Loh, bukannya sudah di sepakati? Kenapa protes sekarang, ketika bangunan sudah akan selesai? Harusnya kemarin."
"Justru karena itu, saya kemari. Jika saya tahu harga akan naik, maka akan saya jual lebih mahal. Kalau seperti kemarin, ya saya rugi lah." jawabnya, dengan begitu enteng.
__ADS_1
Alex berusaha sekuat tenaag, agar emosinya tak terpancing kali ini. Karena semua akan rusuh, jika Alex mulai bertindak dengan emosinya yang gampang hilang kontrol.
" Bapak sudah tanda tangan perjanjian. Harga, wilayah, dan semua nya. Kita sudah deal. Jadi, Bapak tak bisa memaksa untuk melakukan apa yang Bapak mau." ucap Alex.
Sungut Pak Jay tampak tak senang. Ia seperti masih tak puas dengan ucapan yang diberikan Alex padanya. Bersikeras, jika Ia harus mendapat lebih dari yang Ia berikan.
"Apa yang Bapak inginkan lagi? Mengambil tanah yang sudah terbangun itu?" tanya Alex.
"Tidak, hanya meminta bayaran lebih. Sesuai harga yang saya tawarkan kemarin. Itu hak saya."
"Lalu, jika tahun depan harga naik lagi, Bapak akan menuntut kenaikan lagi. Seperti itu?" tukas Alex. "Bisnis tidak sebodoh itu, Pak Jay. Apalagi, kami sudah mempermudah akses untuk warga lokal. Tak ada yang dirugikan disini."
Memang sudah disepakati dengan begitu baik, dalam setiap lembar perjanjian. Bahkan, ketika warga yang ingin mengelola hotel itu. Merawat, bekerja, dan bahkan menjadi juru masak. Itu diambil dari warga sekitar. Hanya beberapa bagian penting, yang mendatangkan dari luar kota. Dibagian profesionalnya..
__ADS_1
Pak Jay hanya menatapnya, dengan penuh rasa kesal. Mungkin, Ia sudah terlanjur membayangkan, mendapat lebih besar dan lebih lagi dari apa yang harus nya Ia dapatkan.
" Apalagi, yang akan dituntut? Bahkan, hanya Bapak yang berani berbicara masalah ini pada kami. Aneh, tapi lucu." ucap Alex.
"Anda mentertawakan saya?"
"Ya, bagaimana tidak? Menuntut kenaikan harga tanah, setelah semua deal. Bahkan, pembangunan nyaris sempurna. Apa itu tak lucu? Hanya dengan Bapak, saya menemukan masalah ini. Serius..." timpal Alex, mulai menyulut rokoknya.
"Saya akan bawa ke pengadilan." ancamnya, tampak begitu menggebu-gebu.
"Ya, silahkan. Akan saya tunggu. Kita kumpulkan bukti masing-masing," tantang Alex. Dengan santai menghisap dan menghembuskan asapnya ke udara.
Pak Jay, langsung berdiri dan pergi dengan segala amarah di dalam hatinya. Emosi, dan mungkin akan menjadi provokator bagi yang lainnya..
__ADS_1
" Masalah baru. Dan aku harus siap. Jangan sampai, terlalu membebani fikiran Abi, lagi. Harus selesai, dengan caraku sendiri." gumamnya. Bahwa Ia tahu, jika Abi baru saja akan bangkit dalam hidupnya.
Ia kembali, untuk melakukan rutinitasnya.