Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Harus bangkit


__ADS_3

Nisa menutup panggilannya. Ia terdiam sejenak, memikirkan yang Adhim katakan. Bahwa, Adhim melihat sebagai sesama Pria yang memperhatikan tatapan Abi pada Nisa.


"Cemburu? Hhh, ngga percaya kalau cemburu. Yang ada, Dia cuma ngga suka aku ngga nurutin kata-katanya." cebiknya kesal. Ia kembali merebahkan diri, meringkuk memegangi perut nya.


**


Abi dan yang lainnya, telah tiba di lokasi proyek. Sebuah ruko, yang memang Ia buat untuk investasi masa depan sang Mama.


"Kau yakin akan melanjutkannya?" tanya Alex.


"Ya, untuk Nisa..."


"Hah, Nisa? Bukannya, buat Mama?" potong Dita.


"Mama tak mau. Ia memberikannya untuk Nisa. Aku hanya bisa menurutinya," Abi pun melangkah masuk ke lokasi. Tanah itu masih begitu kosong, hanya diberi pagar dengan seng sebagai tanda pembatas jika itu telah Ia beli dari pemiliknya terdahulu.


"Siang Pak Abi..." sapa seorang mandor, yang siap untuk bekerja sama dengan nya untuk proyek ini.


"Pak Haris, bagaimana?"


"Ya, mungkin bulan depan akan segera dilaksanakan. Tunggu semua bahan sampai, dan akan langsung kami kerjakan. Sesuai design, kan?"


"Ya, seperti itu..." jawab Abi, mengingat Design yang Rere berikan padanya. Ia lah yang ingin ruko itu terlaksana, untuk masa depan mereka berdua nantinya.


Semuanya sempat terbengkalai, akibat semua musibah dan sakit nya Abi. Dan dengan segala keinginan untuk bangkit, Ia pun berusaha keras mendirikannya kembali.


"Bi, kita makan siang dulu. Sudah lama, tak makan bertiga." rangkul Alex padanya.

__ADS_1


"Dimana?"


"Di cafe langganan kita. Kangen makan disana," imbuh Dita.


"Baiklah," angguk Abi, tampak memberikan senyumnya.


Cafe Boombastis. Cafe penuh kenangan antar ketiganya. Ber empat, ketika Rere masih ada. Mereka duduk santai dan mulai memesan makanan masing-masing. Bersenda gurau disana, meski tak bisa seperti biasanya. Abi masih lebih banyak diam daripada bicara, sembari sesekali membuka Hpnya.


"Ngecek Nisa?" tanya Alex.


"Ya," jawabnya singkat.


"Makan dulu, Abi... Sini, aku suapin." tawar Dita, menjulurkan sendok dengan sesuap makanan di mulut Abi.


Abi menerimanya dalam sekali suap. Namun, Abi langsung mengambil sendok itu dari Dita. Merasa itu bukan ranah Hak dan kewajiban Dita padanya.


"Bukankah, aku biasanya tak pernah makan siang?" ucap Abi padanya.


Dita tertunduk, sedikit rasa perih menggores dihatinya. Alex yang sadar akan ketegangan itu, kemudian berusaha mencairkan suasana.


***


🥀


🥀


"Hari ini kontrol cidera?" tanya Nisa.

__ADS_1


"Bersamamu...."


"Iya, Nisa tahu. Makanya, tangannya lepas dari pinggang, biar Nisa bisa cepetan ke kamar mandi."


Abi melirik kebawah. Dan benar saja, tangannya menggenggam erat pinggang Nisa, yang tengah asyik merapikan dirinya.


"Ah, maaf..." ucapnya, sedikit gugup.


Melepaskan tangannya.


"Lagi," pinta Nisa, kembali meraih tangan.


"Katamu ingin mandi,"


"Bentar lagi, kan ini belum..." Nisa merapikan rambut Abi, dan menaikkan poninya dengan rapi.


"Sudah..." ucap Nisa, mengakhiri pekerjaannya. Ia langsung beranjak dari ranjangnya, lalu berlari ke kamar mandi dengan handuknya. Abi tak keluar, melainkan duduk di sofanya dengan memainkan Hpnya.


"Dita... Hari ini saya telat. Ada jadwal periksa cidera saya."


"Baik, Pak. Semoga cideranya segera membaik." balasnya, yang telah ada di kantor mereka.


Abi menutup panggilan, lalu diam dan menunggu istrinya disana. Suara merdu si artis kamar mandi, membangunkan lamunannya. Ia menatap Nisa, yang keluar dengan handuk menutup sebatas dada dan Paha. Tengah asyik memilih dressnya untuk pergi menemani sang suami.


"Ah, ini saja..." pilihannya jatuh pada sebuah dress Abu-abu dengan bunga yang bertebaran. Ia pun segera memakainya, dengan terus menari sesuai lagu yang Ia nyanyikan. Namun, terhenti ketika Abi menghampiri.


"Mas, belum kebawah?"

__ADS_1


"Belum... Aku menunggumu," balas Abi, meraih resleting dress Nisa dan menaikkan nya. Bahkan, tak segan memberi sebuah kecupan di bahu indahnya.


__ADS_2