
Mobil berhenti. Nisa pun mulai membuka mata nya perlahan. Tatapan nya langsung lebar, ketika melihat rumah yang begitu megah dengan nuansa serba putih di hadapannya itu.
"Wow," kagumnya.
Abi turun, tapi Ia lupa untuk membukan pintu Nisa. Untung saja, tak langsung Ia kunci dari luar, hingga Nisa dapat membuka pintu dan keluar dengan segera. Langkah kaki nya pun mengikuti Abi masuk ke dalam rumah itu.
Ia merasa seperti orang bodoh, yang tak tahu apa kegunaan dirinya hingga mau ikut Abi pergi dengan spontan. Menggerutu pun percuma.
"Ma, Mama!" panggil Abi dengan begitu terburu-buru. Ia menemukan sang Mama di ruang tengah, ditemani Bibik dan tengah menangis tersedu-sedu di sofa.
Abi mendatanginya, langsung menaikkan sedikit celana nya keatas dan berlutut di depan sang Mama dengan segala simpatinya.
"Mama kenapa lagi?" tanya Abi dengan lembut.
"Lihat ini!" Mama Sofi memberikan Hpnya. Dengan layar yang terbuka menampilkan sebuah berita dari media elektronik yang sering Ia baca.
__ADS_1
Ya, disana menampilkan sebuah gosip miring tentang Abi. Dimana mereka mengatakan jika Abi adalah pria yang tak normal. Bahkan, Mereka mengatakan Abi itu menyukai sesama jenis. Entah dari mana sumber nya. Abi geram, hingga mengepalkan tangannya. Ingin meraih sesuatu untuk melampiaskan semua amarah itu.
"Darimana berita ini?" lirih Abi.
"Jangan tanya darimana nya? Yang jelas, ngga ada asap kalau ngga ada api. Dan api itu, kamu yang patik sendiri, Bi."
"Kenapa Abi? Jelas-jelas Abi di fitnah. Abi akan cari mereka, dan beri pelajaran." ancambnya.
Sementara itu, Nisa tengah bersandar di pinggir pintu, menyaksikan perdebatan seru antara Ibu dan anak tersebut.
"Percuma! Mau kamu kasih pelajaran bagaimanapun, itu percuma Abi. Julukan itu udah melekat sama kamu. Rusak, Bi.... Rusak!" tangis Mama Bian semakin menjadi-jadi.
Bingung, marah, gelisah. Semua bercampur menajdi satu di hati Abi. Ingin segera pergi dan mengambil tindakan pada media. Tapi, Ia harus menenangkan Mama nya terlebih dahulu.
" Ma, mau Mama gimama? Abi juga bingung. Abi hanya bisa menindak mereka, Ma. Abi bukan pria seperti itu."
__ADS_1
"Nikah, Abi.... Menikah. Mama cuma minta kamu buat bangkit, melupakan masa lalu dan terima orang baru. Itu aja. Buang segala trauma, dan...."
"Mama maunya Abi nikah? Nikah sama siapa? Yang Mama jodohin, semua ngga ada yang tulus sama Abi. Apalagi dengan sakit nya Abi." tanya nya dengan begitu lembut dan mesra.
"Pokoknya Mama pasrah. Abi cari sendiri calon Abi. Mama akan restuin tanpa kebanyakan menilai. Silahkan, Mama pasrah. Asal Abi nikah ya Nak, ya?" mohon Mami Sofi.
Abi duduk sebentar. Dilantai, yang hanya beralaskan karpet bergambar macan tersebut. Ia menggauruki kepalanya, tanpa sadar menatap Nisa yang masih begitu tenang di tempatnya.
"Ma, Abi bawa calon istri buat Mama. Mau kenal?" tanya Abi, tanpa berfikir panjang demi kebahagiaan sang Mama.
Hah, mana sayang? Mana? Mama mau ketemu, Nak. Kenapa ngga bilang daritadi?" wajah Mama sofi, berbalik begitu ceria, dan langsung mengusap air matanya. Ia menatap Abi dengan penuh harap, dengan apa yang Ia katakan.
"I-itu, disana," tunjuk Abi pada Nisa.
"What?" Nisa terbelalak, dan spontan melirik kanan kiri untuk mencari yang lain. Namun, hanya dia lah yang berasa disana, tepat dimana Abi menunjuk dirinya.
__ADS_1