
Semua kembali bersorak. Memanaskan suasana agar Abi melakukan kemauan mereka. Abi merasa terprovokasi dengan semua itu. Apalagi, wartawan telah menanti nya dengan penuh harap. Foto itu mungkin akan mejeng di sampul majalah dan menjadi berita terhangat sepekan ini.
Tangan Abi seketika mempererat genggamannya di pinggul Nisa, dan menariknya. Mengikis jarak diantara keduanya. Nisa tegang, gugup dan sesekali melirik kan matanya pada pria yang sudah resmi menyandang gelar suami untuknya. Apalagi, ketika Abi semakin mendekat, dan memberikan sebuah kecupan lembut di pipinya.
Gleeeek! Jantungnya pun semakin berdebar dengan begitu cepat, mengalahkan ritme tertinggi yang seharusnya dimiliki.
"Senyum dong, angkat buku nikahnya." Sang fotografer kembali mengarahkan. Dan mereka menurutinya dengan baik, dengan senyum tergambar di bibir masing-masing.
"Ayo, lebih mesra lagi. Hidungnya tempelin," mata Nisa langsung melotot mendengarnya.
"Ikuti," bisik Abi. Dibalas anggukan Nisa pada akhirnya.
Pose demi pose dilakukan dengan baik oleh keduanya. Benar-benar pemain sadiwara yang hebat, mampu menutupi ego masing-masing.
Keduanya di bawa masuk setelah acara selesai. Nisa dibantu melepas riasan dari ujung kepala sampai ujung kaki oleh periasnya. Sedangkan Abi keluar, menemui orang yang telat datang.
__ADS_1
"Wah, auranya pengantin baru. Bahagia bener menjelang malam ini,"
"Iya, udah malam. Ngga kerasa," angguk Nisa, yang memang tampak begitu lelah.
"Mba, ini seprainya aku lepas, ya? Takut kena noda," ucap salah seorang diantara mereka.
"Noda? Ileran? Nisa ngga ileran kok," jawabnya polos. Kedua anggota itu langsung terkekeh, melihat kelakuan client nya yang satu ini.
"Ngga papa, kali aja nanti kalian makan bareng di sana. Jadi kena noda,"
"Mba Nisa, udah ya? Semuanya juga udah beres. Tinggal mandi, terus istirahat. Besok kami datang lagi, buat beresin bagian depan." pamit keduanya.
"Iya, makasih, ya." balas Nisa dengan ramah.
Nisa merebahkan dirinya sejenak, melemaskan otot kaki dan bahunya. Hampir seharian ini, Ia berdiri dan menyalami semua tamunya. Polesan make up pun telah Ia bersihkan, dan kini wajahnya kembali polos seperti biasa.
__ADS_1
Abi masuk, Ia pun melepas jas dan kemejanya. Meraih sebuah kaos oblong untuk Ia pakai sendiri. Bunyi yang dikeluar kan dari lemari, membuat Dita membuka matanya.
"Ooops!" kaget Nisa, melihat Abi yang berdiri tegap tanpa sehelai baju di hadapannya. Otot dada dan perutnya yang begitu mempesonaa, apalagi dengan bahunya yang seluas samudera. Begitu indah pundak dan punggungnya, ketika Ia berbalik membelakangi Nisa.
"Kau sengaja?" tanya Abi, tanpa menoleh pada Nisa.
"Kelihatan, orang di depan mata. Lagian, sebesar itu masa ngga kelihatan." manyun Nisa. Tubuhnya masih terbungkus oleh selimutnya.
"Apanya yang besar? Kau membayangkan apa? Dasar mesuum."
"Enak aja ngomongin orang mesuum." cebik Nisa, berdiri dari ranjang nya dan segera berjalan menuju kamar mandi. Kakinya Ia hentakkan dengan kasar, melewati Abi dan sesekali menujulurkan lidahnya.
Nisa terlebelalak melihat kamar mandinya. Semua normal, tapi hanya satu yang menjadi pusat perhatian untuknya. Yaitu, ketika Ia hendak mencari baju tidurnya. Lemari itu kosong, justru berubah isi dengan pakaian wanita yang begitu terbuka.
"Ieeewh, ini baju apaan? Kenapa begini sih, bentuknya?" heran Nisa, membuka satu persatu pakaian halal yang tersedia disana. Begitu minim, dan semua terlihat transparan menembus batas auroranya.
__ADS_1
*2bab dulu ya gaes, nanti sambung lagi. Happy Idul Adha🙏🙏😍