Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Tolong, jangan persulit hidup saya.


__ADS_3

"What?" Nisa terbelalak, dan spontan melirik kanan kiri untuk mencari yang lain. Namun, hanya dia lah yang berasa disana, tepat dimana Abi menunjuk dirinya.


"Aaaaaah, calon Mantu Mama. Sini sayang, sini." sambut Mama Sofi, dengan suaranya yang serak-serak basah.


Mama Sofi langsung beranjak, memberikan senyum seluas samudera untuk Nisa. Menghampiri nya lalu meraih tangan Nisa dengan penuh kelembutan, lalu membawanya duduk bersama di sofa dengan Abi yang tengah memijat kepalanya.


" Aish, sudah! Kenapa salah ucap, aku? Bodoh!" gerutunya, untuk diri sendiri.


Nisa hanya melempar senyum bodohnya. Berusaha menghargai perhatian Mama Sofi, meski Ia bingung harus ikut permainan atau menjelaskan semuanya. Hanya tak ingin, salah faham terus bergulir seperti bola salju nantinya.


"Sini, Nak. Duduk sama Mama." ajak Mama Sofi dengan begitu mesra.


Nisa pun duduk, sesekali melirik tajam pada Abi yang tampak pasrah di sebelah sana.


"Namanya siapa, sayang?"


"Ni-nisa, Tante."


"Loh, kok tante? Mama dong. Kan calon istrinya Abi." usap lembut Mama sofi di ranbut panjang Nisa.

__ADS_1


"Ca-calon istri?" lirik Nisa ke Abi. Abi hanya mengedipkan mata, meminta Nisa menurutinya kali ini.


"Abi punya kekasih, kenapa ngga bilang Mama? Kenapa buat Mama selalu khawatir dan..."


"Ma, yang penting udah ada, ya? Abi mohon." potong Abi.


Mama Sofi memenuhi janjinya. Ia tak terlalu banyak bertanya mengenai Nisa. Ia juga tampak langsung cocok dengan gadis itu. Meski tak terlalu cantik, dan terawat seperti gadis yang selama ini Mama Sofi jodohkan untuk anaknya.


Ya, Nisa hanya gadis biasa. Wajah yang biasa, tak modis, tak terlalu pintar dalam bergaya. Bukan tak bisa, tapi tak mampu. Ia hanya memikirkan neneknya dan kehidupan masa depan nya yang pas-pasan selama ini.


"Tak apa. Nanti, kita perawatan. Kamu cantik, dengan menjadi diri kamu sendiri." Mama Sofi, tak henti-hentinya memuji calon mantu dadakan nya itu.


" Ma, bisakah Abi dan Nisa kembali ke kantor? Kami, banyak pekerjaan." tanya Abi.


"Oh, Nisa juga kerja di kantor Abi? Ya ampun, Mami bener-bener ngga perhatian. Baiklah, pulang ke kantor, dan selesaikan pekerjaan. Nanti, mampir kesini lagi, ya?" pinta Mam Sofi.


"Iya, tan. Eh, Ma." angguk Nisa.


Abi beranjak, dan meraih tangan Nisa setelah mencium tangan sang Mama. Ia pun dengan cepat menggandeng Nisa keluar.

__ADS_1


"Lepasin, Pak. Lepas!" bentak Nisa.


"Masuk dulu. Kita bicarakan semuanya di dalam mobil." ucap Abi. Namun, Nisa justru diam dan berdiri dengan menyilangkan kedua tangan nya di dada..


"Apalagi? Masuk!" perintah Abi. Nisa pun mencebik kesal, lalu mengikuti perintah Bosnya itu.


Mobil berjalan. Abi membuka percapan menegangkan diantara mereka.


"Maaf," sesal Abi.


"Bapak udah bicara sembarangan. Mama nya Bapak udah salah sangka sama saya. Buat apa sih, Bapak ngomong begitu?"


"Saya, hanya mau Mama saya tenang. Sebentar."


"Itu ngga sebentar, Bapak. Itu si Mama, udah naruh harapan banyak ke saya. Please deh, Pak. Hidup saya udah ribet, jangan di tambah ribet. Sulit, Pak."


"Tidak akan berlanjut. Besok, akan saya jelas kan ke Mama. Kau akan kembali tenang." jawab Abi.


Nisa hanya menghela nafas kasar. Begitu dalam dengan segala rasa kesalnya. Apalagi, cacing di perutnya kembali bergerilya dengan begitu bebasnya di dalam sana. Terdengar hingga ke telinga Abi.

__ADS_1


" Itu, coklat yang tadi. Kau makan saja. Lumayan, untuk mengganjal perutmu." ucap Abi. Menunjuk kotak coklat yang tadi mereka ributkan di kantornya.


__ADS_2