Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Dia istriku, Re.


__ADS_3

Hp Abi bergetar, ditengah kehangatan keduanya. Abi pun meminta Nisa untuk segera mengangkat telepon dari Mama nya itu.


"Assalamualaikum, Ma?"


"Waalaikumsalam, Nisa. Abi mana?"


"Disamping Nisa, Lagi kerja. Kenapa?"


Abi pun meraih Hp itu, dan menghidupkan laundspeakernya.


"Ya, Ma?" tanya Abi.


"Mama mau ikut Bibik pulang kampung. Katanya anaknya sakit, jadi Mama mau bantu urusin. Ngga papa, ya, Kalian dirumah berdua."


"Kok mendadak?"


"Namanya sakit, sayang. Mana ada yang di rencanakan," jawab sang Mama, membuat Nisa seketika tertawa dengan semua kekonyolan yang ada.


Tatapan Abi, kembali menghentikan tawanya.


"Pergi berapa hari?"


"Bentar, cuma Tiga harian."


"Baiklah, jangan terlalu lama. Kasihan Nisa. Mengurus Abi sendirian,"


"Ouuuwh, to twiiiit..." tatap Nisa gemas pada suaminya itu. Yang meski diam, tetap selalu memberikan perhatian padanya.

__ADS_1


Mama Sofi memg'iyakan. Ia pun menutup teleponnya untuk segera bersiap pergi. Sebenarnya, Abi merasa aneh dengan kepergian sang Mama. Terasa seperti sebuah kesengajaan. Namun Ia berusaha untuk tak berfikiran buruk tentang itu semua.


Sementara itu, Nisa meletakkan dagunya di meja. Tampak begitu lemas dan tak bergairah seperti biasanya.


"Kenapa?"


"Kenapa Mama pergi?"


"Mama ada urusan. Sesedih itu kah?"


"Sedih... Biasanya, Mama selalu jadi temen cerita, bercanda dan tertawa. Tapi, Mama pergi membuat rumah sepi kosong..." sesalnya.


"Kau kira, aku apa?"


"Hhhhhhhhhhhh," Nisa menghela nafas panjang. Membayangkan, betapa hampa hidupnya tanpa sang Mama mertua. Hanya ditemani seonggok kanelbo kering, yang begitu sulit di lumpuhkan.


***


"Yakin, mau pergi?" tanya Bik Nik, yang sudah masuk ke dalam taxi yang sudah di pesan.


"Sebenarnya, kasihan sama Nisa. Mana Abi cidera. Belum lagi, kalau traumanya kambuh. Pasti repot,"


"Lah, kenapa ditinggal?"


"Ngga papa. Membuat mereka, belajar saling membutuhkan satu sama lain, Bik."


"Baiklah, jika itu keputusannya. Mari, kita berangkat." ajak Bik Nik. Mereka berdua meninggalkan rumah. Tak untuk merawat, seperti yang dikatakan. Melainkan, pergi liburan dikampung Bibik. Meninggalkan sepasang pengantin baru yang tengah hangat itu, untuk menghabiskan waktunya bersama.

__ADS_1


*


" Kan, sepi...." ucap Nisa. Melangkahkan kakinya dengan begitu malas, ketika memasuki rumah besar itu.


Abi cuek. Meninggalkan nya dibawah dan segera naik keatas. Rasanya begitu gerah, hingga Ia ingin berendam kali ini. Sedangkan Nisa, lansung mengambil alih dapur untuk mempersiapkan makan malam keduanya.


"Mas mau makan apa?" tanya Nisa pada sang suami.


"Apa saja yang kau masak, aku akan makan. Aku... Mau mandi sebentar."


"Baiklah," jawab Nisa, dengan memakai celemeknya.


Abi melepas pakaiannya. Ia berjalan menuju kamar mandi, dan masuk ke dalam bathupnya. Ia sangat jarang menggunakan bathup itu. Lebih nyaman mengguyur tubuhnya dengan kucuran air yang kuat memberi relaksasi ditubuhnya.


Tapi, kali ini serasa berbeda. Ia duduk di dalam sana. Dengan kepaIa sandarkan dengan tangan kanannya. Terasa begitu berat, hingga terasa sulit untuk membuka mata. Akhirnya, Ia terpejam kembali di dalam rendaman air yang menutupi hingga dadanya itu.


Sebuah tangan lembut, kembali mengusap punggung hingga bahunya. Naik, hingga melingkarkan pelukan ke lehernya. Dengan hembusan nafas yang begitu hangat.


"Abi... Kau mulai membuka hatimu untuk dia," bisiknya, dengan begitu lembut dan nada nya yang merdu.


"Dia istriku, Re...."


"Harusnya itu aku, Bi. Aku yang harusnya bersamamu, dan menemanimu. Harusnya aku, Abi." suara merdu itu terdengar melengking.


Telinga Abi pun serasa sakit dibuatnya. Hanya saja, satu tangan yang mampu menutup sebelah telinganya. Sedangkan telinga yang lain, masih bisa mendengar lengkingan suara itu dengan begitu jelas.


" Aku mohon, jangan seperti ini..." nafas Abi terasa begitu sesak, air matanya pun keluar tanpa dapat Ia kontrol.

__ADS_1


"Aku tak akan pernah rela, Abi." ucap Rere, dengan tangannya yang merayap meraih dagu Abi. Ia pun mendekatkan wajah itu padanya, berusaha mengusap apa yang telah Abi berikan untuk Nisa siang tadi.


__ADS_2