
Nisa menyuruk kan wajahnya di punggung Abi. Tangannya gelisah memainkan tangan Abi yang masih Ia gandeng daritadi.
"Jangan dibahas terus, malu." bisik Nisa pada suaminya.
"Nisa," tegur dan lirik Dita padanya. Nisa pun akhirnya membenarkan posisi duduknya, meski semua orang masih membicarakan tingkahnya. Terutama Abi.
"Ya, untung istri, Pak. Kalau engga...." ucap Abi, terpotong.
"Namanya istri. Mau bagaimana pun, tetep sayang. Ya kan, Pak Abi?" tanya Tuan Rafael. Abi hanya tersenyum mengangguk kan kepalanya.
Nisa yang menatapnya, hanya bisa tersenyum sendiri dengan rasa girang dalam hatinya. "Sayang? Aaaaaah, beneran, sayang?"
Dita pun mengalihkan perhatian dari semua obrolan itu. Mulai membuka file dari map dan laptop yang Ia bawa.
Suasana canda dan tawa, berubah menjadi serius dan fokus dengan seketika. Nisa pun diam, karena tak terlalu memahami apa yang sedang di bahas disana. Bahkan, tanpa sadar memejamkan matanya di bahu Abi.
"Astaga, Nisa!" geram Dita.
"Udah, biarin." Abi meraih tubuh Nisa, dan membawanya berbaring di pahanya. Meski sulit, karena hanya bergerak dengan satu tangan menopang tubuh istrinya itu.
"Maaf, Tuan. Mari, kita teruskan rapatnya." ajak Abi, kembali pada mode seriusnya.
Untung saja Nisa tertidur. Saat itu, yang mereka sempat membahas mengenai Aprtemen yang akan mereka bangun bersama. Dan kendalanya masih sama, yaitu dengan warga yang masih tak mau memberikan lahannya.
__ADS_1
" Apakah, ada sesuatu yang bisa dilakukan? Saya tahu, Pak Abi kuat." tanya Pak Frans. Yang adalah rekan Tuan Rafael.
Abi seketika menurunkan pandangannya, pada Nisa di pangkuannya. "Nanti, akan saya urus." ucapnya.
Semua mengangguk, menaruh kepercayaan tinggi pada Abi.
Rapat berlangsung singkat. Hanya Satu setengah jam, dan mereka semua pamit untuk menghadiri secedule lainnya.
"Kita tak pergi?" tanya Dita. Karena jadwal masih ada, tapi masih beberapa jam lagi..
"Kau akan pergi? Pergilah lebih dulu. Aku, masih menunggunya bangun."
"Bangunkan, Abi.... Kalau ditunggu begitu, Ia tak akan bangun. Nyenyak banget, itu." tegur Dita. Ia menghampiri, namun tangannya di cegah oleh Abi.
Dita hanya memutar bola matanya. Ia pun mencebik kesal, dan meraih tasnya untuk pergi. Kenapa harus ikut menunggu orang tidur disana. Ia lebih baik pergi, dan makan siang diluar. Mesku masih dalam lingkungan Restaurant hotel itu. Setidaknya, tak harus menunggui mereka berdua yang tak jelas.
Nisa memang begitu nyenyak. Ia merasa tengah tidur diatas kasur dengan bantalnya yang empuk saat ini. Beberapa kali menggeliat, hingga Abi langsung spontan menghindarkan tangan yang sakit darinya.
Ia yang awalnya membelakangi Abi, kini justru memutar badan dan wajahnya tepat ada di depan perut Abi. Ya, tanpa dijelaskan, bagaimana arahnya. Pasti sudah tahu bagaimana bentuknya. Membuat Abi menelan salivanya dalam-dalam.
"Kau tak bangun?" tanya Abi.
"Emang udah jam berapa?" tanya Nisa, tanpa membuka matanya.
__ADS_1
"Sudah lewat, jam makan siangmu. Bukankah, kau punya magh?" tanya Abi, meregangkan sedikit dasinya.
Nisa membuka mata. Ia pun mendongakkan kepala. Tangan kirinya meraih pundak Abi dengan mesra, meski hanya bagian telapak tangan yang bisa meraihnya.
"Kenapa?" Abi balik menatapnya.
"Tapi masih nyaman begini. Ngga pengen pergi, gimana?" lagi-lagi, Nisa berusaha menggoda.
"Tak lapar kah? Biasanya sudah merengek minta makan."
Nisa lalu mengangkat tubuhnya, dengan sungut kesal dimatanya. Begitu sulit rasanya, hanya untuk menggoda suaminya sendiri.
"Apalagi?"
"Ngga papa. Mana, makanannya?"
"Belum ku pesan. Mana ku tahu, mau makan apa."
"Hisssh, menyebalkan."
"Menggerutu lagi, ku sentil bibirnya." ancam Abi. Namun, Nisa justru memanyunkan bibir menantangnya.
"Siapa tahu, dicium lagi...." tawanya dalam hati.
__ADS_1