
"Nisa mau tanya tentang apa?" tanya Alex, yang mematikan mesin mobilnya.
"Tapi janji, harus dijawab jujur."
"Ya, ku usahakan." jawab Alex.
Dan kerena waktu Nisa tak banyak, Ia pun segera melancarkan pertanyaan yang telah Ia pendam selama ini. Ia pun menghela nafas sekali panjang, hingga akhirnya bicara.
"Rere?"
"Mantan kekasih Abi, dan sudah mendiang. Kecelakaan ketika Abi ingin melamarnya disuatu malam. Tapi, justru tertabrak mobil dan meninggal, tepat di depan matanya."
Deg! Jantung dan tubuh Nisa bergetar dengan hebat, mendengar cerita itu. Serasa tak ingin melanjutkan lagi, karena rasanya ingin menangis seketika. Namun, Ia harus tahu semuanya demi pengobatannya untuk Abi.
" Traumanya..." Nisa, dengan bibirnya yang bergetar.
__ADS_1
"Abi begitu trauma. Ya, siapa yang tak trauma dengan kejadian seperti itu. Tapi, kejadian lainnya. Ia selalu di persalahkan oleh lingkungan sekitar. Andai Abi menjemputnya di kantor, andai Abi segera berlari menolong Rere. Andai... Andai Abi tak membiarkan Rere menghampirinya. Pasti, setidaknya Rere masih ada. Itu, yang sering mereka katakan. Bayangkan, rasanya jadi Abi, Nisa." Alex berkaca-kaca, menceritakan bagian ini.
" Ia yang baru saja ingin bangkit dari keterpurukan, justru malah dijatuhkan sejatuh-jatuhnya. Dan... Dia bahkan sempat dirawat di Rumah sakit jiwa, dengan segala penjagaan ketat disana."
" Ya Allah, Mas..." Nisa membekap bibirnya sendiri. Tak menyangka, seperih itu yang Abi alami.
Alex pun menghadap Nisa, tak segan menggenggam tangannya. Menatapnya dengan penuh antusias.
"Nisa... Abi ngga gila. Abi hanya terkekang dalam segala traumanya. Abi butuh sembuh. Obat bahkan tak mampu menyembuhkannya, hanya membuatnya tidur. Itupun, hanya sementara. Lima tahun, Abi tenggelam dalam rasa itu."
"Sejak bersama kamu, Abi mulai bisa senyum. Meskipun, senyumnya masih sangat tipis. Tapi, itu kemajuan yang luar biasa bagi kami. Aku, dan Mama. Termasuk Dita. Segala pengobatan, Abi jalani. Aku saksinya, bahwa dia juga berjuang untuk sembuh. Ikhlas, tak segampang ucapannya." terang Alex.
Nisa merasa tak mampu menahan air matanya. Tapi, Hpnya kemudian berdering. Abi sudah memanggilnya.
"Mas Abi..." lirihnya.
__ADS_1
"Ngga usah dijawab. Segeralah pergi, dan hampiri dia, Nis. Tak apa, jika semua orang melihatmu yang mengejarnya. Tak apa. Aku mendukungmu. Aku akan selalu dibelakangmu."
Nisa mengangguk. Dua pertanyaan, sudah dijawab dan di jelaskan dengan panjang lebar oleh Alex. Hanya tinggal Satu, tapi Nisa pun perlahan telah mempelajarinya. Yaitu, tentang apa saja yang bisa membuat Abi kembali syok dan membutuhkan terapinya.
Gadis itu keluar dari mobil Alex. Mengusap air matanya dengan cepat, dan berusaha seolah tak terjadi apapun. Ia pun melangkah dengan ceria, menghampiri Abi yang sedang menebus obatnya.
"Maassss!" panggil Nisa pada suaminya. Dengan senyumnya yang begitu luas menghampiri Abi yang bersandar dan memainkan Hpnya di dinding dana. Nisa segera berlari, dan seketika memeluknya erat.
Pluukkk! Tubuhnya terjatuh dalam pelukan dingin pria itu. Ya, dingin. Karena Abi hanya tertunduk menatapnya, tanpa membalas pelukan itu.
"Ini, disini banyak orang..." ucap Abi gugup.
Nisa pun mendongakkan kepalanya, menatap tampan sang suami.
"Orang kan, bukan hantu?" jawabnya, begitu santai dengan menaik turunkan matanya.
__ADS_1
"Kenapa bawa-bawa hantu?" Abi mengerenyitkan dahinya, serasa ingin menyentil kening berponi itu.