Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Orang baru, tanpa banyak tahu


__ADS_3

"Abi yang mengigau lagi, semalam. Nisa dengar, lalu datang membantu." bela Abi, sebelum Nisa sempat menjelaskan apapun.


"Nisa, cuma bantu kasih obat, Ma. Tapi Mas Abi tahan buat pergi, jadi Nisa tinggal." imbuhnya.


Mama Nisa hanya mengangguk. Rasanya, Ia ingin mempercepat pernikahan mereka. Bila perlu, hari ini dan sekarang juga.


"Aku terlalu bahagia, ketika Abi mulai memerlukan bantuan dari orang lain." gumam Mama dalam hati.


"Gaun pengantin kalian, bagaimana?" tanya Mama pada keduanya.


"Sudah di tangani Dita," jawab Abi, datar.


Mama mendelik pada putranya, tak menyangka jika Ia justru meminta Dita yang memilihkan gaun pengantin untuk mereka berdua.


"Kamu ngga ada alternatif lain, Bi? Kenapa suruh Dita?"


"Kenapa? Dita sekretaris Abi, dan pandai dalam memilih gaun. Apa salahnya?" tukasnya.

__ADS_1


"Kamu ngga peka, Abi. Kamu ngga mikir, bagaimana perasaan Dia. Dia akan..."


"Kalau dia ngga suka, atau ngga setuju. Maka dia akan bilang terus terang. Dia bukan tipe yang akan diam saja, ketika diminta melakukan hal yang ngga dia sukai, Ma."


"Tapi ini beda, Abi!"


"Ma! Abi sudah menuruti maunya Mama. Okey? Jangan sampai Abi batalkan semuanya, hanya karena argumen kita yang berbeda. Abi, sudah banyak mengalah disini." sergah Abi. Ia pun menyelesaikan sarapan, membersihkan mulutnya dan berdiri untuk pergi.


"Aku berangkat. Jika kau bosan, kau boleh bermain. Asal beri tahu aku dulu, mau kemana." tatap Abi pada Nisa seperti biasa. Dingin.


"Iya, Mas." angguk Nisa. Bingung akan menjawab apa. Apalagi, Ia hanya bisa diam dan tak mengerti dengan perdebatan mereka barusan.


"Cium tangan?" pinta Nisa, dengan mengulurkan tangan nya terlebih dahulu.


Abi pun memberikan tangan kanannya, dan Nisa menciumnya dengan lembut meski Abi masih memalingkan muka padanya. Terasa sedikit getaran di hati Abi kala itu. Tapi, Ia tak ingin terlalu memikirkan nya.


"A-aku pergi," pamitnya sekali lagi.

__ADS_1


Nisa kembali pada Mama sofi. Wajahnya masih begitu sedih, karena putranya sudah mulai berani berontak padanya.


"Mama, mungkin terlalu memaksakan kehendak, Nis. Abi itu sudah tertekan, tapi Mama selalu saja meminta nya sempurna." sedihnya. Nisa berpindah tempat, untuk mencoba menghiburnya.


"Jujur, Ma. Nisa itu ngga tahu apa-apa. Apalagi, tentang semua perdebatan kalian. Nisa cuma bisa diam. Ngga tahu, mana yang salah dan benar." ucapnya.


Entah kenapa, Nisa membawa nya kedalam sebuah rasa tenang. Ucapannya, simpatinya, dan genggaman tangan yang Ia berikan. Begitu hangat rasanya, untuk jiwa yang tengah dingin.


" Mama berharap, sifat baik kamu bisa memberikan kehangatan, untuk dingin nya Abi, sayang. Kamu harapan Mama."


Jantung Nisa berdegup dengan kencang. Ia seolah tengah di berikan sebuah tantangan kali ini. Tantangan, yang Ia sendiri belum faham akan apa yang Ia hadapi setelah ini. Bahkan, untuk mempertanyakan keadaan Abi saja, Ia urung.


"Aku harus mencari tahu pada siapa lagi, tentang Mas Abi? Aku belum bisa kemana-mana sekarang," bingungnya. Tapi Ia yakin, lambat laun pasti Ia akan tahu kondisi Abi sebenarnya.


Mama sofi mengusap air matanya. Ia merubahnya dengan senyum yang ceria untuk sang calon menantu. Teringat janji, untuk mengajaknya belanja hari ini.


" Ayo, siap-siap. Kamu boleh beli, apapun yang kamu butuhkan. Skincare, baju, dan semuanya. Kamu akan jadi istri Abi. Meski kamu sudah sempurna, tapi kamu harus lebih dari ini. Kamu akan menjadi pusat perhatian beberapa hari ini."

__ADS_1


" Iya, Ma." angguk Nisa, yang lalu bergegas dengan cepat di kamarnya.


__ADS_2