Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Astaga, Mas Abi!


__ADS_3

"Siang, dok..." sapa Abi, pada dokternya.


"Hey, Pak Abi. Sudah lama tak Bertemu. Mari, masuk," ajak sang dokter dengan ramah. Mereka berbincang sejenak mengenai kabar keduanya. Dan membahas kondisi Abi yang tampak membaik. Apalagi, dengan kabar pernikahannya yang serasa mengguncang dunia.


"Ya, saya sudah menikah. Dengan gadis, yang Neneknya juga dirawat diini."


"Oh, Iya, lupa. Yang di VVIP itu, kan?"


"Ya," angguk Abi.


Obrolan terhenti, ketika Abi mulai membicarakan sakitnya. Sakit fisik, bukan yang sering Ia periksakan.


"Flu? Baiklah, saya akan resepkan obatnya. Sebentar,"


Abi seolah tak sabar, menunggu sang dokter selesai dengan resepnya. Entah, fikirannya hanya tertuju pada Nisa. Apalagi, disana ada Adhim, teman lamanya. Dan kebetulan, perawat yang ditunjuk untuk merawat sang Nenek.


"Dia yang sering berbalas Wa denganmu," fikiran Abi berkecamuk.


"Ini, Pak. Dan saya ingin tanya, boleh?"


"Apa?" tanya Abi, datar.


"Bapak masih meminum obat penenang? Karena, maaf. Obat itu pun tak baik untuk kesehatan. Lebih baik....."


"Saya sudah melepaskannya perlahan. Doakan saja, agar berhenti."

__ADS_1


"Baiklah, semoga." angguk Sang dokter padanya.


Abi pun permisi keluar. Ia menyusuri lorong, menuruti ingatannya pada langkah Nisa.


**


"Nisa?" sapa seorang pria. Nisa tahu benar siapa itu, dan segera menoleh padanya.


"Kak Adhim? Dinas pagi?"


"Bukan pagi. Sebenarnya dinas siang. Tapi, berhubung jadi penanggung jawab Nenek, jadinya datang lebih cepat, pulang lebih lambat." jujurnya.


"Maaf, Nisa ngerepotin. Pasti capek, harus kontrol Nenek dan selalu laporan khusus."


Adhim pun memulai tindakannya. Memeriksa semua tanda vital Nenek, dan mencatat nya dengan detail. Tak diam, Ia pun mejelaskan kondisi Nenek dengan segala pengobatan yang telah dilakukan. Nisa memperhatikannya, dengan segala keterampialan yang Adhim lakukan.


"Masih hebat, seperti biasa. Pantas saja, mendapat predikat perawat terbaik." kagumnya, pada pria itu.


"Nisa, kesini bareng siapa?" tanya Adhim, membereskan semua alatnya.


"Hah, Nisa? Nisa... Sama Mas Suami."


"Oh, dimana?"


"Lagi cek, soalnya flu lumayan berat." jawab Nisa.

__ADS_1


Jadwal besukan sudah lewat. Adhim dengan begitu sopan, meminta Nisa agar menunggu diluar demi istirahat sang Nenek.


"Iya, ngga papa. Nisa ngerti kok," jawab Nisa, lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


Hanya berbatas dinding kaca, disana lah ruangan khusus Adhim menunggu Nenek. Dan disana juga, Alex kadang menggantikan nya. Atau sekedar membesuk untuk mengontrol kabar Nenek Nisa.


"Mengenai Pak Alex...."


"Ya, kenapa?"


"Dia, sering datang?" tanya Nisa. Mereka duduk berdua diruangan itu, kembali mengobrol dan mempertanyakan semua yang mengganjal di hati Nisa.


"Satu minggu, Dua kali. Kadang menginap, kadang hanya datang membesuk. Beliau tampak sangat sibuk," jelas Adhim.


"Ya, Nisa tahu. Dia, selalu mewakili Mas Abi diluar kota. Tangan kanannya,"


"Oh, pantaslah. Semua Beliau yang urus. Biaya, dan semuanya. Atas nama suamimu."


Nisa hanya mengangguk, sembari menerima sebotol air yang Adhim berikan padanya. Percakapan semakin akrab, apalagi mereka memang sudah dekat sejak awal. Tak ada sungkan, dengan segala canda tawa yang ada.


Namun, canda tawa itu seketika pudar. Tatapan Nisa tertuju pada Abi yang berdiri tegap diluar sana. Ya, berdiri dalam diam, menatapnya dengan tajam. Sangat tajam, terfokus pada Satu titik, yaitu dirinya. Seperti anak panah yang langsung tepat mengenai jantungnya.


"Astaga, Mas Abi...." kagetnya, dan langsung tampak pucat dengan kakinya yang bergetar.


"Keluar...." ucap Abi, dengan begitu dingin, datar dan membekukan.

__ADS_1


__ADS_2