Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Bagiamana itu lelah?


__ADS_3

"Mas?"


"Hmmm?"


"Ke Rumah sakit, bentar aja." pinta Nisa, meski tak merengek seperti biasanya..


"Kalau ngga bisa antar, Nisa pakai taxi aja ngga papa. Nisa janji, ngga ngapa-ngapain. Sampai, ngobrol sama Nenek, dan..."


Abi hanya diam, memberikan kunci mobilnya untuk Nisa bawa.


"Kau dalam pengawasanku," ucapnya, dengan lirikan matanya yang indah.


"Iya," angguk Nisa yang menerima kunci itu. Apalagi, Abi sudah memberikan izin. Hingga Ia tak perlu menyangkal apapun lagi darinya.


Usai dengan makan siangnya, Abi mengantarkan Nisa ke mobilnya. Di bukakan nya pintu dengan menjaga ujung kepala Nisa hingga masuk kedalam di depan setirnya. Nisa pun meraih tangan Abi, mencium punggung dan telapak tangannya beberapa kali.


"Banyak sekali?" tanya Abi.

__ADS_1


"Pengennya cium pipi, atau cium bibir. Tapi pasti banyak alasan," cemberutnya kesal. Entah, mood nya seperti sedang jelek saat ini.


Abi melepas tangan kiri dari kantong celananya. Ia kemudian berbungkuk, dengan tangan terlipat di jendela mobil menatap tajam sang istri. Nisa hanya diam, tak terlalu menghiraukannya. Hingga Abi, menunjuk pipinya beberapa kali dan mengarahkan nya pada Nisa.


Senyumpun hadir dengan begitu indah, bagaikan mentari yang menyinari dunia. Nisa pun tak menyiakan kesempatan itu, lalu mengecup pipi Abi bertubi-tubi. Bahkan seolah tak ingin melepasnya sama sekali.


"Udah," tegur Abi dengan beberapa bekas lipstik di pipinya. Untungnya, Nisa menyediakan tisu basah di tas hitamnya.


"Maaf, gemes..." ucapnya, mengelap bekas kecupan yang Ia buat di pipi Abi. Pria itu tak menjawab, hanya menghela nafas dengan mata melirik pada sang istri.


"Nisa pamit, ya? Nisa hati-hati, kok. Janji,"


"He'em," angguk Nisa. Lalu, pergi menyetir mobilnya, sesuai dengan arah yang Ia tuju. Bahkan sesekali, Ia memeriksa badan mobil, bahkan cincin pernikahan yang Ia pakai.


"Kali aja, ada alat pelacaknya. Macam di novel-novel. Canggih bener," gumannya, sepanjang perjalanan.


Tiba di Rumah sakit. Nisa memarkirkan mobilnya dengan rapi. Jelas, Ia mejaga mobil itu karena mobil kesayangan Abi. Entah, ada campur tangan mendiang Rere atau tidak, Nisa sudah tak perduli. Yang jelas, Abi miliknya sekarang.

__ADS_1


Ia pun masuk, dan langsung menuju ruangan sang Nenek. Disana, Nenek Nisa tengan di bersihkan, dan diperiksa dengan tanda tanda vitalnya. Nisa duduk, menunggu semuanya hingga selesai bertugas.


"Mba Nisa, udah datang?" sapa seorang perawat. Dan jujur, itu adalah teman seangkatan Nisa ketika kuliah dulu. Laila namanya.


"La, makasih, ya, udah bantu urus Nenek. Pasti repot."


"Engga lah, Mba. Kami yang urus Nenek disini, dapet bonus dari suami Mba. Jadi, setimpal sama kerjaan kami. Apalagi, macam Laila yang hanya ngandelin dana bantuan cair."


"Ah, begitu?"


"Iya, suami Mba itu baik banget. Beruntung, Mba dapet beliau. Mana ganteng. Eh, maaf."


"Iya, ngga papa." ucap Nisa. Emang lakik gue ganteng.


Laila pun pamit pergi, setelah melaporkan hasil pemeriksaan barusan. Tampak semua membaik, meski keadaan nya pun masiklh stuck dikeadaan biasanya.


Nisa menyeret kursinya, dan duduk menggenggam tangan sang nenek. Ia bahkan mencium tangan penuh kerut itu hingga beberapa kali, dengan segala rasa rindu yang ada dihatinya.

__ADS_1


"Andai Nenek bisa bangun, sebentar aja. Nisa pengen curhat, Nek. Pengen cerita, apa yang Nisa rasakan sekarang. Menceritakan tentang semua rasa yang tumbuh secara perlahan, meski begitu banyak pertentangan yang ada." tangisnya, dengan rasa yang begitu lelah.


Entah, apa lelah itu baginya. Padahal, semua telah cukup bahkan lebih. Hidupnya semua telah ada ditangan Abi, yang tampaknya sedikit luluh padanya.


__ADS_2