
"Su-sudah, terimakasih..." ucap Abi. Nisa bergegas meninggalkannya dan berlari masuk ke kamar mandi.
"Kenapa?" tanya Abi dalam hati. Menggenggam dadanya dengan gemuruh yang sulit Ia kendalikan sendiri.
"Mas pergi aja duluan buat sarapan. Nanti Nisa nyusul kebawah," ucap Nisa, dari dalam bilik kamar mandinya. Seketika membuat Abi terbayang tubuuhnya yang indah, seperti saat Ia pernah melihatnya kala itu.
"Haish, apa-apaan?" tolak Abi, pada fikirannya sendiri. Ia pun keluar, meninggalkan jasnya untuk dibawa oleh Nisa, nanti.
"Pagi, Ma...."
"Pagi, sayang. Bagaimana keadaan kamu?" sambut Mama Sofi, yang sudah duduk di meja makannya. Ia pun segera melayani Abi dengan segala menu favoritnya.
"Nisa mana? Tumben telat."
"Sedang bersiap. Dia ikut Abi ke kantor," jawabnya, berusaha meraih sendok agar dapat makan sendiri tanpa menunggu Nisa menyuapinya. Namun, ketika menggerakkan tangan kanan, tangan Kiri Abi memberi respon nyeri.
"Aaaaaakhhhh!" Abi kembali merintih. Menundukkan kepala dan memijat dahinya.
"Mas, kenapa?" tanya Nisa, yang berari turun dari lantai atas.
"Sakit sekali. Yang sakit kiri, kenapa sulit menggerakkan tangan kanan juga?" keluh Abi.
Nisa mengambil piring, dan mulai nenyuapi sang suami dengan sarapannya. Abi menerima, meski masih sedikit frustasi dengan segala sakitnya.
"Ngga usah kekantor dulu, kalau sakit." lirih Nisa padanya.
__ADS_1
"Kau juga sarapan,"
"Udah kesiangan,"
"Ku tunggu, Lima belas menit..."
"Iya," angguk Nisa, yang dengan cepat meraih sarapannya. Bahkan, Ia menggukan piring bekas sang suami, untuk mempersingkat waktu.
"Kenapa ngga minta Alex yang antar jemput? Nisa kecapean, nanti." tegur Mama Sofi.
"Alex sangat sibuk. Ngga sempat lagi mengurusi Abi."
"Tapi...."
"Udah, Ma... Ngga papa, Nisa bisa kok. Lagian, Nisa juga bosen kalau dirumah terus," sahut Nisa, menyelesaikan sarapannya. Ia pun mempersiapkan dan membantu Abi dengan obatnya, kemudian mengajaknya untuk segera berangkat.
"Menurutmu?"
"Nanya aja," Nisa memanyunkan bibirnya sembari terus menyetir.
Tiba di kantor. Nisa membuka kan pintu untuk suaminya, dan membawakan beberapa perlengkapannya masuk. Tak ingin Nisa tampak seperti Asisten, Abi langsung menggenggam tangan Sang istri hingga tiba di ruangannya.
"Selamat pagi, Pak..." sapa para karyawan.
"Pagi," angguk Nisa, begitu ramah mewakili suaminya yang hanya mengedipkan mata.
__ADS_1
Melihat tangan Abi yang terbungkus sarung tangan hitam senada dengan jasnya. Sontak muncul berbagai pertanyaan dari mereka semua.
"Nanti saja, tanya Bu Dita. Kalau engga, pas Nisa keluar." ucap Manda pada semua rekannya. Mereka meng'iyakan, dan duduk kembali dengan tugas mereka.
Nisa menyalakan laptop Abi, dan merapikan mejanya agar lebih nyaman untuk tangannya yang sakit. Nisa kemudian duduk di sofa, sembari memainkan Hpnya. Sesekali, membaca majalah yang ada disana.
"Permisi, Pak..." ketuk salah seorang Ob.
"Ya, masuk..."
Ob itu pun masuk, dengan sebuah kursi besar di tangannya. Meletakkan kursi itu disebelah Abi. Ya, tepat di sebelahnya.
"Terimakasih,"ucap Abi. Ob itu pun keluar dari ruangannya.
" Itu, kursi buat siapa?" tanya Nisa.
" Buatmu... Sini," panggil Abi, meminta Nisa duduk di sebelahnya.
Nisa menghampiri meski ragu. Duduk perlahan dikursi barunya, yang terasa sangat nyaman.
" Kenapa harus duduk disini?"
"Mau di pangkuanku?"
"Eng-engga... Disini aja, cukup." ucap Nisa.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan, Abi meminta nya duduk di sebelahnya. Ia harus memeriksa beberapa dokumen, dengan terus memainkan laptopnya. Disana lah, peran untuk Nisa membantunya.
Disisi lain, hanya ingin dekat dan menjaga fikirannya agar tak pernah kosong lagi.