
Nisa nyaris saja berlari mengejar David. Untung saja, tangan panjang Abi segera meraih kerah leher hingga Ia tertahan.
"Kemana? Kenapa dikejar?"
"Itu, nagih utang..."
"Ikhlasin..."
"Mana bisa? Lima ratus ribu, lumayan. Susah loh, Nisa....." ucapan terhenti, ketika Abi mengeluarkan yang lebih banyak dari dompetnya.
"Kau milik ku, uang ku semua milikmu." jawab Abi, seketika membuat Nisa diam seribu bahasa.
Abi segera merangkul kepala Nisa, dan mendekapnya di ketiak. Menyeret dan membawanya pergi dari mall itu. Sepanjang jalan, Nisa hanya menghitung uang yang diberikan Abi padanya. Tampak begitu bahagia.
"Seperti tak pernah ku beri uang. Padahal, Credit card no limit." lirik Abi.
"Beda, Mas. Credit card dan ATMĀ hanya transefer, keuangan yang melakukannya."
"Bedanya?"
"Ini dari Mas sendiri." balas nya dengan menggoyangkan badan. "Beda rasanya."
"Ish," Abi mencebik pada istrinya.
Hari memang semakin sore. Mereka menurut perintah Mama sofi kali ini. Meski Nisa masih penasaran dengan satu hal.
"Kenapa ngga boleh pulang malem?"
"Takut?"
__ADS_1
"Takut hantu?" Nisa menelengkan kepalanya menatap Abi.
"Jangan nekat, untuk yang satu itu. Jika kau tak mau...."
"Apa?"
"Aku jadi pasien Rumah sakit jiwa, lagi." jawab Abi, menatap kosong ke depan. Berusaha tak lagi mengingat kenangan buruknya.
"Ya, aku pernah mendengarnya," gumam Nisa dalam hati. Ia akan fokus menyembuhkan bagian yang lain dulu saat ini. Bertahap, dan tak akan pernah bisa di paksakan. Harus dari Abi sendiri yang merelakan nya.
"Sampaiiii!" girang Nisa. Yang kemudian keluar seorang diri dan meninggalkan suaminya untuk masuk ke dalam.
"Nisa, Abi mana?"
"I-ni.... Loh, mana?"
"Kenapa masih disana?" Nisa langsung menggampiri dan membuka pintu Abi. Tampak wajah pria itu begitu dingin dan datar. Tapi, Nisa sudah terbiasa dan tak lagi kesal.
"Kenapa selalu meninggalkan ku?"
"Iiih, kayak bocah!" cibir Nisa.
"Kau bilang aku bocah?" tatap Abi, tajam. Nisa meneguk ludahnya kasar, perlahan mundur dan berlari.
"Mamaaaaaa!" teriaknya, kembali masuk dan berlindung dibelakang Mama sofi.
"Eh, apa-apaan?"
"Ada Om-om galak!" tunjuk Nisa, pada Abi yang menghampirinya dengan lirikan penuh kebencian.
__ADS_1
"Tadi kau bilang bocil, sekarang kau bilang Om. Kenapa selalu mencibirku? Awas kau!" raih Abi pada Nisa. Namun, Mama sofi jusru menepuk tangannya.
"Aaakhhh!" pekik Abi. Melirik sang Mama dengan tatapan tak percaya. Rela menepuk anak kandung sendiri demi menantunya.
Nisa hanya membalas, dengan menjulurkan lidahnya.
"Awas kau," lirih Abi, mengancam.
Mama sofi tampak kesal, melerai meski tak terlalu banyak mengucapkan kata-kata. Karena dalam relung hati yang terdalam, Ia begitu bahagia melihat keduanya seperti itu. Tak apa, jika Nisa sering dikatakan persis anak kecil. Tapi Ia lah pengisi hidup Abi saat ini.
Tingkahnya, konyolnya, tawanya. Semuanya. Bahkan sudah bisa membuat Abi tersenyum meski masih tipis diujung bibirnya.
"Tatapan mu, sayang. Tatapan itu, Mama suka." tangis Mama dalam hati.
***
Abi telah memejamkan matanya. Berbarinh tepat di sebelah Nisa. Entah kenapa, Nisa justru tak dapat memejamkan matanya saat ini. Ia malah memiringkan tubuhnya, dan memainkan alis, hidung dan bibir Abi dengan gemas..
" Kenapa?" Abi menangkap tangan Nisa, dan bertanya tanpa membuka matanya.
"Ng-ngga papa..."
"Apanya?"
"Ngga papa, serius," Nisa berusaha mengambil tangan nya kembali. Namun, Abi justru menariknya agar lebih dekat. Lalu membawa Nisa tidur dalam peluk hangatnya.
"Begini?"
"Iya, begini," angguk Nisa, terasa begitu nyaman dan hangat.
__ADS_1