
"Sayang, bagaimana reuni tadi malam?" tanya Abi, yang telah rapi dengan jasnya. Hanya tinggal memakai dasi, dan menunggu Nisa melakukan nya.
"Ehmm, aman. Semua berjalan dengan baik, kok. Ngga papa," jawab Nisa. Abi menangkap sesuatu yang ganjal dalam ucapan itu. Ia meraih dagu Nisa, dan menatapnya dengan tajam.
Nisa tak mampu mengelak lagi, tapi berusaha mencairkan rada curiga itu. Ia tak mau, jika akan terjadi sesuatu yang lebih parah jika Abi tahu, Ia telah di lecehkan malam tadi.
"Are You Sure?"
"Iya, Nisa ngga papa. Cuma, Nisa ketemu Bu Dita disana. Nisa lupa, itu Cafe langganan kalian bertiga," senyumnya dengan ceria.
"Dita?" Abi mengerutkan dahinya.
"He'em... Dia antar Nisa pulang semalam. Meski cuma sampai depan."
"Ya, baiklah..." angguk Abi. Ia yang telah rampung dengan seragamnya, kemudian turun menghampiri Alex. Ia telah duduk di meja makan, dan menatap sarapan itu dengan begitu lapar.
"Kenapa tak sarapan?" tanya Abi, duduk tepat di hadapannya.
"Menunggu tuan rumah. Setidaknya, aku punya sopan santun," jawab Alex, tanpa menoleh manatap sahabatnya itu.
__ADS_1
"Oh... Makanlah, aku mengizinkan" balasnya.
Alex seketika semangat, dan langsung mengambil semua yang Ia inginkan. Sudah begitu lapar agaknya. Sedangkan Abi, setia menunggu sang istri turun, meski Ia pun telah menyajikan semua untuknya di depan mata. Alex hanya menggeleng menatap kebucinan itu. Padahal, dengan Rere pun tak sampai begitu.
"Mas, kok belum sarapan?" Nisa turun, dan langsung menghampirinya.
"Dia nunggu kamu, Nis. Mana mau dia duluan. Lebay, emang." cibir Alex, mengundang reaksi datar dari Abi.
Hari ini, Nisa memilih tak ikut ke kantor. Ia ingin diam dirumah dan membereskan beberapa perabotan. Bahkan, Abi pun sudah mengizinkan nya untuk berbelanja beberapa keperluan yang Ia ingin kan.
"Nisa, mau minta sesuatu, boleh?"
"Nisa bilang, dan minta agar Bu Dita balik jadi...."
Uhuuukk! Uhuuukkkk! Abi tersedak, karena ucapan itu. Nisa seketika memberinya minum untuk meredakan batuknya.
"Mas?"
"Kenapa bahas Dia? Dia mengatakan ingin pergi. Jadi, biarkan Dia pergi."
__ADS_1
"Mas, Nisa ngga mau, kalau Mas sama sekretaris lain. Ngga rela. Dan bagi Nisa, yang bisa jagain Mas di luar, hanya Bu Dita. Titik..."
"Hey, Sayang... Jangan seperti itu." bujuk Abi, pada istrinya yang langsung ngambek.
Nisa pun langsung diam, memainkan makanannya tanpa mau melahapnya. Ego nya sedikit tinggi kali ini. Ia benar-benar tak ingin, jika posisi sekretaris itu diambil oleh orang lain. Apalagi Feby. Yang meskipun dekat dengannya, tapi Ia merasa aneh dengan gelagat nya ketika menatap suaminya itu.
Benar, hanya Dita, yang meski galak, tapi Ia jujur dengan semua yang Ia ucap. Dan perkara cinta itu, Dita tampak tak perduli lagi meski masih kesal dengan Nisa, dan bahkan mungkin seumur hidupnya.
"Kenapa kau yang ngambek? Harusnya aku, karena Kau meminta Dita tanpa izinku."
"Au ah..." Nisa berdiri, dan berlari naik menuju kamarnya.
"Lah?" heran Abi. Alex hanya mengedik kan bahunya, tak mau ikut campur lebih dalam soal rumah tangga mereka. Urusan kantor dan hotel saja, membuatnya begitu pening saat ini. Untung saja, napsu makan nya tak hilang karena semuanya.
"Yok, berangkat." ajak Abi, yang telah usai dengan sarapannya. Tiba-tiba, Nisa turun dengan pakaian rapi dan tas selempangnya. Tak lupa, sedikit berdandan agar semakin menarik.
"Heh?" Abi menoleh, sampai menelengkan kepalanya menatap sang istri. "Katamu tak ikut?"
Tapi Nisa hanya diam. Menggandeng tangan Abi dan mengajak nya keluar segera menuju mobil mereka.
__ADS_1
"Yaaaaah... Tetap bergandengan tangan, meski sedang ambekan." ucap Alex, menggeleng gelengkan kepalanya.