
"Bi, kenapa kau gelisah?"
"Ah, aku? A-aku tak gelisah." sanggahnya. Tapi Alex begitu mengenal sahabat karibnya itu.
"Bagaimana, Nenek Nisa?" Abi mengalihkan perhatian.
"Beliau? Ya... Kondisinya stuck di situ saja. Perubahan yang di alami, hanya sekedarnya saja. Setelah itu, akan dengan gampang nya drop kembali. Itu saja, yang sering di lontarkan dokternya." jelas Alex, begitu sesuai dengan apa yang di utarskan sang dokter padanya.
Abi hanya mengangguk, sembari menghela nafas nya dengan kuat. Mencoba membuat dirinya semakin tenang dengan segala bayangan Nisa.
"Bagaimana, Bi?" tatap Alex, sedikit aneh dengan beberapa kedipan dimatanya.
"Apanya? Kenapa kau genit?"
"Aku bertanya, tapi kau tak tahu maksudnya." kesal Alex.
"Kau mau tanya apa? Tanyakan saja. Asal, jangan yang macam-macam."
"Tidak, tak jadi." ambeknya. Dengan memanyunkan bibir di depan Abi. Mengingatkan nya kembali pada Nisa.
__ADS_1
"Ingin ku kuncir bibirmu, rasanya."
"Hummm, silahkan kalau bisa." tantang Alex, menyodorkan bibirnya pada Abi. "Ayo, kuncirlah."
"Hey, hentikan! Kau bisa membuat orang lain salah sangka, nantinya."
"Kau yang menantngku, ayoooo,"
"Ish, menjijikan!" pekik Abi, mendorong wajah Alex yang begitu dekat di hadapannya. Meski sulit tertawa, tapi Abi tampak sedikit ceria disana. Sedikit sekali.
"Selamat siang, Pak... Abi," Feby masuk. Dan langsung menemukan sosok Abi yang lain yang langsung membuat hatinya meleleh. Ketika Ia selalu terpukau melihat segala keseriusan Abi, baru kali ini Ia melihat Abi dengan senyumnya yang membuat pria itu semakin mempesona. Lutut Faby rasanya tremor berat, ingin ambruk di hadapan kedua pria itu.
"Ya, Feby. Ada apa?" tanya Alex, menggantikan Abi yang tengah merapikan jasnya.
"Ya, nanti saya periksa." jawab Abi, kembali pada mode datarnya.
"Siap, Pak. Permisi," pamit Feby, keluar dari ruangan itu. Ia menutup pintu dengan begitu perlahan, sembari mengatur nafas dan irama jantungnya yang berantakan.
"Kenapa, kamu?" tanya Dita yang datang. Cukup mengagetkan, dan membuat Feby syok.
__ADS_1
"Ngga papa, Bu."
"Jangan mikir macem-macem. Bos yang kamu kagumi itu, udah punya istri."
"Siapa yang macem-macem." balas Feby. Menegapkan tubuhnya dan berjalan kembali ke ruangannya.
"Padahal, dia yang masih ngarep jadi istri pak Abi." ledek nya dalam hati.
Dita masuk dan menemui keduanya. Wajahnya tampak masam, serasa tak berselesa meski hanya untuk berbicara pada kedua sahabatnya itu. Entah, kenapa dengannya. Bahkan Alex tak berani mengganggunya ketika Ia dalam mode itu.
**
" Ma, sakit." keluh Nisa, merasakan perih di bekas waxingnya.
"Ngga papa, nanti sembuh. Ini tinggal langkah terakhir, abis itu kita pulang." Mama sofi berusaha menenangkan, di sela kegiatan mereka yang sedang perawatan rambut. Ya, Mama sofi mengecat rambut nya agar tampak lebih fresh.
"Biar makin tampak muda. Biar nanti kalau punya cucu, jadi berasa nenek muda."
"Hah, cucu?"
__ADS_1
"Ya iya kan? Kalian udah menikah. Jadi, tinggal tunggu masa nya Mama punya cucu. Tenang, ngga perlu buru-buru. Kalian nikmatin aja dulu, kebersamaan kalian. Pacaran sepuasnya," bisik sang Mama. Nisa hanya bisa mengangguk, dan meg'iyakan semuanya.
"Aku bahkan ngga berani, cerita yang sebenarnya sama Mama. Yaudah deh, iyain aja dulu. Sembari terus berusaha," harap Nisa, meski kadang Ia malas karena Abi yang selalu membuatnya kesal.