Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Mengajakmu bermain.


__ADS_3

Aura wajah Nisa tampak begitu bahagia. Pipinya merona dan senyumnya terkembang dengan indah. Ia pun meraih pakaian yang lebih santai di lemari. Yang membuatnya nyaman dan menjadi dirinya sendiri. Setelan kemeja lengan pendek dan hotpants kesayangan nya. Tak lupa dengan sepatu kets putihnya.


"Begitu?" lirik Abi, yang memang terbiasa formal dalam segala hal.


"Iya, gini aja. Mau jalan-jalan, kan? Kencan? Ngga usah pakai dress, ribet..." Nisa mengikat rambutnya ala buntut kuda, memperlihatkna leher dan tengkuknya yang indah.


"Urai saja," ucap Abi, melepas ikatan rambut itu dan menggelangkan nya di tangan.


"Ish, ribetlah..." ketus Nisa. Abi hanya mengusap rambutnya, dan berjalan keluar dari kamar.


"Abi mau kemana?" sang Mama menghampiri.


"Mau, ajak Nisa main, Ma."


"Main?"


"Maaassssss!" pekik Nisa, berlari dari ruang atas mengejar suaminya.


Mama sofi hanya mendelik, memberi tatapan khawatir pada mantu kesayangannya itu. Takut jatuh, hingga akhirnya terluka. Tapi Ia lupa, jika mantu nya itu memang gadis yang Hyperaktif.


"Ya?" tatap Abi padanya.


"Ayok," gandeng Nisa dengan erat di lengannya.

__ADS_1


"Sayangku, semuanya. Pulang jangan kemalaman ya, sayang? Denger kata Mama."


"Iya, Ma," Nisa melambaikan tangan, lalu pergi dengan suaminya. Nama sofi menatap keduanya dengan begitu bahagia. Terasa lega dalam hatinya. Apalagi, melihat Abi yang makin lama makin tak tampak dengan segala traumanya.


"Kemana?" tanya Abi, yang mulai menghidupkan mobilnya.


"Ke-"


"Jangan bilang terserah,"


"Belum selesai ngomong," sergah Nisa. "Ke Mall, jajan."


"Jajan terus," tukas Abi. Nisa hanya memberikan senyumnya.


"Sibuk?" Abi akhirnya membuka percakapan.


"Eng-engga," geleng Nisa, lalu memasuk kan Hpnya. Ia tampak nya memang tak bisa diam dengan tingkahnya. Memencet dan menghidupkan musik di mobil itu.


"Nah, ini dia..." bahagianya, ketika lagu kesukaannya terputar disana.


"Nisa?" panggil Abi, dengan suara seraknya. Maklum, baru saja menangis meluapkan emosinya.


"Ya?"

__ADS_1


"Ayahmu?"


"Hah, Ayah? Kenapa, tumben nanya?"


"Ayahmu, belum meninggal. Tapi kau anggap sudah mati."


"Kok tahu? Tapi, udah lah. Males bahasnya. Andaikan bisa, maunya ngga disebut pas ijab qabul. Tapi, ya gimana lagi."


"Aku yang ditinggal, dengan susah payah mengikhlaskan. Kau sendiri, justru menganggapnya sudah meninggal."


"Mas lah, udah ih. Males bahas dia." kesal Nisa, menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Maaf," sesal Abi, yang telah mengganggu mood istrinya. Padahal, baru saja ingin membuat nya ceria hari ini.


Untung saja perjalanan begitu cepat. Mereka telah sampai di sebuah mall besar di kota itu. Abi segera memarkirkan mobilnya, dan turun membuka kan pintu untuk sang istri.


"Disini, kan?" tanya Abi, dijawab anggukan senang dari Nisa.


"Week end, pantes ramai banget. Tapi ngga papa," ucap Nisa.


Abi menggenggam tangan istrinya, dan berjalan berdua masuk ke mall itu. Setelah sekian lama, akhirnya Abi keluar, berbaur dengan keramaian. Meski bising, dan terasa mengganggu seluruh fokusnya. Tapi Nisa tak melepas genggaman nya dari Abi. Justru menaikkan dekapan ke lengannya yang berisi.


Tempat pertama yang Nisa temukan, adalah stand makanan. Bayangkan saja, bagaimana bahagianya Nisa menemukan syurga cemilan untuknya. Ice cream, sosis, dan semuanya yang memang begitu tampak menggiurkan.

__ADS_1


"Mau...." larinya, bagai anak kecil dengan segala tingkah lucunya...


__ADS_2