Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Berapa banyak pacarmu?


__ADS_3

"Kau pulang?" tanya Dita pada Alex, yang duduk di sampingnya secara tiba-tiba. Bahkan sangat dekat dan membuatnya gerah.


"Ya iyalah, aku pulang. Jika aku tak pulang, kau rindu, bagaimana?" Alex mencolek dagu Dita, untuk sekedar menggodanya.


"Eh, apaan sih, Lex. Minta ditabok, kamu tuh."


"Hey, sudahlah. Mana laporan kalian? Aku akan membaca dan mencocok kan data lapangan dan laporan yang ada." pinta Abi, mengulurkan tangan nya.


Keduanya pun memberikan laporan masing-masing. Abi mengulurkan tangan untuk menerimanya. Dengan sigap, Dita langsung mendekat untuk membantunya meneliti semua laporan itu.


"Pak Jayadi, Beliau pemilik separuh lahan disana. Beliau meminta agar pembayaran di naikkan." lapor Alex.


"Kenapa begitu? Bukan nya semua sudah sepakat? Dia tak bisa seenaknya seperti ini. Apalagi, proyek sudah setengah jalan." tukas Abi.


"Aku rasa, ada provokator. Besok ku perdalam akar masalahnya."


"Ya... Panggil aku jika ada sesuatu." Abi menimpali, dengan terus fokus pada dokumen nya.


"Kau mau pergi? Ajak Nisa? Sekalian bulan madu?" goda Alex, dengan mengedipkan matanya genit.


"Uhuuuukk! Uhuuuuukk!" Dita tersedak, hingga rasanya ingin muntah dan perih di dadanya.


"Kau kenapa?" tanya Abi, langsung memberikan segelas air meski tanpa menoleh padanya.

__ADS_1


"Kau tersedak lalat?" cibir Alex. Dita pun melempar sebuah kertas ke wajahnya, tanpa sepatah katapun.


Proyek yang mereka bangun memang lah sebuah proyek pariwisata. Sebuah hotel di tepi pantai yang ada di sebuah kota kecil. Tapi, jika di kelola dengan baik, maka akan menjadi tempat wisata yang apik dan indah. Wajar, jika Alex membahas bulan madu pada pengantin baru itu.


Abi menepuk-nepuk bahu Dita, hingga terasa lega di tenggorokannya.


"Terimakasih," ucap Dita. Walau Abi masih fokus pada dokumen, dan hanya tangan kanan yang menghampirinya. Sangat beda, seperti ketika bersama Nisa. Semua dunia akan seketika teralihkan pada wanita itu.


"Tumben, Dia tak ikut?" tanya Dita.


"Nisa?"


"Ya, siapa lagi? Dia yang selalu mengintili mu."


"Bukan Dia, tapi aku. Aku yang serasa tak bisa jauh. Entah, aku pun bingung. Apa magnetnya untuk ku," jawabnya, datar.


"Nisa sedang Haid. Begitu sakit, bahkan semalaman merintih memegangi perutnya. Kau pernah?" tatap Abi pada Dita.


"Tidak... Haidku normal, jarang sakit." jawab Dita.


"Salah satu pacarku, pernah merasakan itu. Hindarkan saja makanan pedas dan es. Meski tak sembuh total, setidaknya memperingan derita." sahut Alex.


"Berapa banyak pacarmu!" sergah Dita, membulatkan mata nya kesal.

__ADS_1


Alex diam, seketika menyebutkan beberapa nama dan menghitung jarinya.


"Tak banyak, hanya Lima."


"Haish, menjijikkan. Dasar playboy cap pisang!"


"Apa maksudmu cap pisang? Kau bilang aku loyo!"


"Nyatanya! Kau hanya bisa memacari, tapi belum sanggup menikahi. Pemberi harapan palsu pada semua gadismu. Pria apaan?" jengah Dita.


"Aku akan setia pada waktunya. Ketika hari dan wanita yang tepat itu datang, maka tak ada yang bisa membuatku menoleh pada siapapun lagi." tukas Alex.


Dita hanya mencebik kesal. Menatap Alex dengan menyipitkan matanya. Sedangkan Abi, hanya menatap mereka dalam diam.


" Sudah?" tanya Abi.


"Sudah..." jawab keduanya kompak.


"Jadwal apalagi hari ini, Dita?"


"Hanya survei, ke beberapa tempat baru. Untuk pembangunan ruko."


"Baiklah... Kita jalan," ajak Abi. Berdiri, dan merapikan jasnya.

__ADS_1


Ia terbiasa dengan poninya. Ingin Ia sibakkan, namun lupa jika Nisa telah merapikan nya dengan pomade.


"Hhhh, dasar." senyumnya.


__ADS_2