Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Mantan calon perawat


__ADS_3

Sepanjang jalan, Abi hanya diam. Kepalanya bersandar di bahu kursi mobilnya. Sementara itu, Nisa begitu cemas. Meniupi dan mengelus bagian yang bisa Ia sentuh.


"Yang sakit, yang di dalam. Untuk apa disana kau usap dan kau hembus?"


"Ya... Ya, setidaknya Nisa berusaha meringan kan rasa sakitnya."


"Berusaha bertanggung jawab, atas apa yang kau buat. Begitu?


"Iya, maaf... Nisa udah ngaku salah," tukasnya, dengan dahi yang berkerut. Dan tangan nya tak henti terus mengusap tangan Abi, tanpa berani menatap matanya sedikitpun.


"Tegakkan kepala, tatap aku..." pinta Abi. Perlahan, Nisa menurutinya. Meski begitu ngeri membayangkan, tatapan bagaimana yang akan diberikan sang suami.


Tuuuuk! Abi rupanya menyentil kening Nisa. Membuatnya sedikit kesakitan. "Aakh, jahat!"


Alex hanya tertawa dalam hati, menatap tingkah mereka berdua dibelakang sana.


Ketiganya tiba di Rumah sakit. Masuk ke ruangan IGD dengan berjalan seperti biasanya, meski para perwat telah menyambutnya dengan brankar.

__ADS_1


"Loh, pasiennya mana?"


"Pasien jalan duluan, di depan..." tunjuk Nisa, yang setengah berlari mengikuti langkah Abi.


Beberapa perawat menghampiri, mulai untuk melakukan tindakan dengan membuka selendang yang melilit tangannya. Barulah, Abi meringis dengan segala rasa sakitnya. Sakit sekali sepertinya, membuat Nisa semakin merasa bersalah dengan tingkahnya.


"Ortopedy. Kita ke rontgent dulu, Pak. Saya takut, ada beberapa jari yang patah. Semoga saja tak terlalu parah."


"Patah?" Nisa terkaget.


"Ya, lihat saja.... Bentuknya seperti ini. Sudah tak wajar, jika dikatakan tak apa-apa."


"Yasudah, saya akan temani." balas Nisa.


"Ya, itu tugasmu..."tukas Abi, tampak tengah begitu jengah kali ini. Bahkan, Ia tak dapat menggerakkan jemari tangan kirinya, dan harus dibuat mode lurus dengan gips di telapak tangan nya.


Perawat membawakan kursi roda. Dan kali ini Abi tak dapat menolaknya. Rasa sakit itu menjalar keseluruh tubuh, bahkan belum mendapat obat sama sekali dari perawat disana. Mereka berjalan untuk rontgent darurat, agar dapat mengetahui dan menangani dengan cepat cidera yang Abi derita.

__ADS_1


"Dislokasi. Ini, lihat saja." tunjuk petugas yang tengah menangani Abi. Nisa melihatnya dengan seksama, di layar yang ada. Dan benar saja, ada beberapa pergeseran di Tiga jari tengah Abi.


"Lalu, bagaimana? Haruskah dirawat, atau di operasi?" tanya Nisa.


"Tidak... Tak perlu di operasi. Namun, perawatannnya harus benar-benar maksimal. Kami gips seluruh telapak tangan dan tak boleh terguncang sedikitpun. Mungkin, Satu bulan akan sembuh."


"Hah, Ssss-satu bulan?" kaget Nisa dan Alex bersamaan.


Abi dibawa kembali ke ruang IGD. Segala alat dan proses pengobatan di lakukan. Bahkan, mereka memberi Nisa beberapa obat dalam bentuk oral dan suntikkan.


"Siapa yang akan menyuntikkan obat itu?" tanya Abi..


"Nisa... Dia bisa kan? Tak lupa?" tanya Sang perwaat. Dan rupanya, Nisa adalah mantan anak didiknya disana ketika magang dulu.


"Nisa, pernah kuliah perawat. Tapi keluar. Ngga kuat biayanya," jawabnya canggung.


"Wow, hebat. Kau mendapat perawat pribadi, Abi." tepuk tangan Alex, untuk sang sahabat. Meski, Nisa tak boleh melakukan banyak tindakkan karena terkekang kode etik. Dan Ia tak lulus pendidikan.

__ADS_1


Abi hanya mendelik, menoleh dan menatap Nisa sepeerti biasa.


"Pantas saja, sangat faham menanganiku. Begitu nyaman dengan segala yang Ia berikan. Semuanya tepat," kagum Abi. Tanpa sadar memuji istrinya.


__ADS_2