Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Pawangnya dateng


__ADS_3

Abi hanya menggerakkan kepalanya ketika meminta Nisa keluar. Ia bahkan sesekali menyipitkan matanya, untuk memberi peringatan keras bagi Nisa. Gadis itu pun akhirnya pamit pada Adhim, untuk segera keluar dari ruangan itu.


"Kak, Maaf..."


"Iya, ngga papa. Pawangnya dateng, samperin." ledek Adhim, dengan senyumnya uang khas.


Nisa berjalan keluar, dan langsung menghampiri Abi ditempatnya.


"Mas, udah periksanya?" tanya Nisa, tampak gugup dan langsung meraih tangan Abi. Ia menelusupkan jari jemarinya, dan menggenggam nya dengan erat.


"Sudah?" tanya Abi, menunduk menatap sang Istri yang tampak gugup.


"Udah," Nisa mengulurkan senyum manisnya. Berusaha melebur amarah Abi dengan mengusap dadanya. Entah, marah, atau sekedar tak senang Ia berduaan dengan Adhim di dalam sana.


Abi tak berucap sepatah kata pun. Ia membalik badan dan langsung berjalan dengan Nisa terus menggandengnya hingga keluar dari lingkungan Rumah sakit itu.


"Mas,"


"Hmmm?"


"Mas, kalau di panggil itu noleh..."


"Kenapa?"


"Laper," rengek Nisa, mengelus perutnya yang rata.

__ADS_1


"Tak jauh dari sini, ada cafe. Kita makan disana. Tapi...."


"Apa?"


"Jangan pesan es lagi."


"Biar flunya sembuh?" goda Nisa, dengan mengedipkan kelopak matanya.


Abi tak menjawab lagi. Hanya membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Nisa segera menyusul, dan masuk ke kursi setirnya. Dengan begitu semangat, Nisa mulai menyetir menuju tempat terdekat agar segera bisa makan siang. Perutnya sudah sangat lapar, ditambah segala rasa tegang yang diberikan Abi padanya.


"Disini?" tanya Nisa, mulai membelok kan mobilnya memasuki halaman parkir cafe itu.


"Ya," jawab Abi, tampak fokus dengan Hpnya. Dita mulai menghubungi, namun Abi enggan menjawab dan justru menyimpan kembali hp itu.


Kini gantian Nisa yang mengambil Hp dari tasnya. Memeriksa pesan yang mungkin masuk disana. Abi langsung merebut Hp itu, dan memasuk kan nya ke dalam saku jasnya.


"Mas, kok gitu? Nisa cuma mau lihat pesan masuk. Kenapa diambil?" omelnya mengejar Abi. Pria itu masih diam, menggandeng tangan Nisa untuk masuk bersama kedalam cafe itu.


"Diamlah, aku hanya ingin bersamamu. Berdua, tanpa ada gangguan."


Nisa hanya memutar bola matanya. Kesal, namun tetap mengikuti langkah Abi untuk masuk ke dalam. Memesan makanan dan bersikap tenang selama makan siang keduanya.


"Kenapa ngga dibales?"


"Apanya?"

__ADS_1


"Pertanyaan Nisa... Kenapa rebut Hp?"


"Kau menghubungi siapa?" tanya Abi, kembali merogoh Hp Nisa, dan memeriksa semua pesan di dalamnya.


"Siapa loh, Mas? Nisa itu ngga ada temen. Apa yang mau Mas periksa?"


"Ini?" Abi membuka semua pesan Nisa pada Adhim. Seluruh percakpan mereka, yang diselingi senda gurau.


"Mas....." sergah Nisa, yang tampak frustasi dengan posesifnya sang suami.


Abi hanya kembali fokus dengan makan siangnya. Sembari sesekali menyuapi Nisa yang masih ngambek dengan kelakuanya.


"Jangan sakit, aku masih butuh perhatian." ucapnya datar.


Di satu sisi, Nisa sedikit senang ketika. Abi cemburu. Ya, meski cemburu atau hanya tak suka ketika miliknya bersama yang lain.


"Setidaknya, ada satu bagian lagi yang menandakan, jika Aku adalah milikmu. Kau akan menjagaku dari orang lain. Meski, caramu menyebalkan." cebiknya dalam hati.


Abi mengeluarkan obat flunya. Nisa mengambil dan mengeluarkan obat itu satu prsatu, dan Abi berguyur meminumnya.


"Kau juga,"


"Nanti aja... Nisa masih mau nyetir, nanti ngantuk."


"Baiklah," meletakkan gelasnya yang telah tandas. Ia pun segera berdiri, dan membayar semua makanan mereka. Nisa meraih Hpnya yang ditinggalkan di meja, dan mengecek semua nomor di Hpnya.

__ADS_1


"Cuma periksa aja, ngga sampai dihapus. Syukurlah," Helaan nafasnya begitu lega.


__ADS_2