
"Bik, kami pulang," panggil Mama sofi pada Bik Nik. Dan Ia pun langsung menghampiri keduanya di ruang tamu.
"Eh, Nyonya. Mba Nisa..." sapa nya dengan ramah. Nisa hanya tersenyum, masih menahan perih ditubuh nya akibat waxing dan semua perawatan aneh yang di berikan padanya.
"Ada kiriman gaun, buat Mba Nisa. Dari Mba Dita," ucap Bibik.
"Iya? Dimana gaunnya? Nisa pengen lihat."
"Bibik taruh di kamar, tergantung di dalam lemari.""
"Makasih, Bibik..." ucap Nisa dengan ceria, seolah semua rasa sakit nya hilang seketika. Ia pun naik, dan langsung mencari gaun itu dilemari kamarnya.
"Wow!" kagumnya, dengan sebuah gaun indah berwarna ungu, dengan hiasan mutiara di beberapa sudutnya. Meski berlengan rendah, tapi Ia suka.
"Mahal nih," gumamnya, berusaha mencari label harga disana. Namun, Ia tak berhasil menemukannya.
"Hanya Bu Dita yang tahu," gerutunya. Ia pun meletakkan kembali gaun itu di lemarinya, dan mengganti pakaian nya yang kotor. Ia masih seperti itu, ketika Abi menghubunginya via video call.
"Ya, Mas?" sapa Nisa, dengan tubuh yang hanya berbalut dengan pakaian dalam. Abi seketika mematung, dan tak berkata apapun padanya, sampai acara ganti bajunya selesai.
__ADS_1
"Mas? Hallo..." Nisa melambai-lambaikan tangannya, membuat Abi seketika berkedip kaget.
"Kenapa, kau...."
"Ya, Nisa ganti baju. Panas banget. Lagian, masih pakai pakaian dalem, ngga papa 'kan?"
"Eng-... Ya, tak apa. Kau baru pulang?"
"Iya, baru aja sampai. Kenapa?
" Tidak, hanya bertanya. Kalau begitu, aku tutup teleponnya...." ucap Abi.
"Hey, aku banyak pekerjaan. Kenapa melihatku begitu?"
"Udah lah, matiin aja!" kesal Nisa, mematikan hp nya duluan.
Abi terperanjat kaget. Menatap wajah Nisa sudah hilang dari layar hpnya. Hanya kembali diam dan berfikir, apakah Ia salah lagi? Padahal Ia hanya ingin tahu kabar Nisa disana.
"Entahlah, aku bingung." ucapnya, kembali pada pekerjaan.
__ADS_1
*
Gaun telah di pakai. Nisa tampak cantik menatap dirinya sendiri di kaca. Dan memang baru kali ini, Ia memakai gaun begitu indah, selain dipesta pernikahan dadakannya kala itu. Rambutnya di buat tergerai, dengan jepit senada dengan warna gaun ungu nya.
Abi datang dengan senyum indahnya yang menawan. Mengulurkan tangan dengan sedikit menekuk lututnya, bagai tengah menyambut seorang ratu. Nisa pun menyambutnya dengan penuh bahagia. Hingga Abi membawanya keluar dengan mobil mewahnya menuju pesta.
"Wah, mewah..." kagum Nisa pada suasana pesta itu.
Genggaman tangan Abi pun diganti, dengan gandengan mesra Nisa, untuk memasuki aula pestanya. Semua orang menyambut dengan ramah, dengan sorak sorai penuh rasa bahagia.
"Selamat datang, Nyonya Abi..." sambut sang pelayan yang ramah.
Nisa hanya bisa mengangguk senyum. Tak bisa berkata apa-apa, sangking bahagia hatinya. Apalagi, dengan Abi yang selalu tersenyum. Membuat hatinya berbunga-bunga, hingga terbang bermekaran.
"Dansa?" ajak Abi, kembali mengulurkan tangan nya dengan mesra. Dengan sigap, Nisa mengangguk dan berdiri menerima ajakan itu. Meski, Ia tak tahu bagaimana caranya.
Keduanya pun berdanda, dengan begitu mesra di panggung istimewa. Dengan alunan musik super romantis. Apalagi, dengan semua orang yang juga menatapnya bahagia. Namun, terjadi insiden diputaran terakhir. Hak sepatu Nisa patah, membuatnya terkilir jatuh.
Buughhh! Nisa jatuh dari ranjangnya.
__ADS_1
"Aaaakkh... Sakit," rengeknya, dengan memegangi pinggangnya. Dan alangkah terkejutnya Ia, ketika rupanya Abi ada di depan mata. Menatapnya aneh, dalam segala diamnya.