Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Kau yang terlalu sensitif


__ADS_3

"Kenapa pergi?"


"Harus menghindar, daripada mendapatkan rasa sakit yang lebih dalam. Bukankah, harusnya begitu?"


"Tapi bukan begini caranya, Dita."


"Lantas, bagaimana? Setidaknya aku lega, ketika Abi sudah melepasku."


"Apa kau juga lega, menghindari semua kenyataan yang ada? Come on, Dita. Abi saja sudah berusaha berdamai dengan semua keadaan. Ingat, berdamai. Bukan melupakan atau pun meninggalkan seperti yang kita ajarkan padanya. Dia lebih tenang sekarang,"


"Alex.... Apa mau mu padaku? Kenapa menghampiri, dan megingatkan, justru ketika aku ingin pergi?"


Alex memijat dahinya sejenak. Meringankan semua beban fikiran dan rasa lelahnya. Ia bahkan baru saja tiba dari luar kota, dan langsung menghampiri Dita dirumahnya.


"Aku hanya ingin, kau berdamai dengan keadaan."


"Keadaan yang mana? Keadaan bahwa, kesetiaan ku selama ini, tak berguna?"

__ADS_1


"Siapa bilang?" Alex mendekatkan dirinya pada Dita. Tatapan yang diberikan begitu tulus, dan penuh rasa sayang melebihi seorang sahabat.


"Abi..." tutur Dita, masih menyimpan rasa kecewa dihatinya. "Abi bahkan tak mencegahku pergi, Lex. Dia membiarkan aku keluar dari perusahaan itu."


Alex menghela nafas dengan begitu panjang. Rahangnya menegang, sembari mencerna segala ucapan yang Dita utarakan. Ia tahu jika sebenarnya Dita tahu dan faham. Tapi kenapa, semua seolah memperbodoh dan mempersempit fikiran gadis itu hanya karena sebuah rasa cemburu.


"Bahkan Mama... Mama memintaku menjauh, Lex. Aku harus bagaimana? Sakit Lex," tangis Dita, mengingat ucapan Mam Sofi padanya.


Alex meraih tubuh Dita, dan memeluknya dengan begitu erat.


"Mama tak bilang kau harus pergi. Mama bilang, kau harus jaga jarak. Hanya itu. Kenapa sangat sensitif?" ucap Alex, seolah ingin mengikuti alur tangisan Dita.


"Sudah lah... Kau yang terlalu sensitif. Lebih baik, kau tenangkan dirimu dulu. Berfikirlah dengan jernih. Masalah kau resign, anggap saja kau hanya ingin liburan melepas penat. Aku akan menggantikan posisi mu sementara ini."


"Iya," angguk Dita, mengusap air matanya.


Tak begitu lama. Alex langsung pamit dan segera pulang ke Apartementnya. Ia mengistirahatkan diri sejenak, dan mempersiapkan diri membahas jadwalnya bersama Abi via video call. Ia harus mempersiapkan diri, menerima berbagai tambahan pekerjaan kali ini. Demi dua sahabatnya itu.

__ADS_1


"Sambil mikir, bagaimana cara nya bisa balik akur lagi." pijatnya, dipelipis.


*


Dua insan yang telah di mabuk asmara itu, baru saja menyudahi penyatuan mereka. Saling membersihkan diri masing-masing, dan bersiap menghampiri sang Mama di ruang makan.


"Hay, Ma..." sapa Abi, dengan wajahnya yang tampak cerah. Disusul Nisa yang datang dari belakang dengan rambutnya yang basah.


Mama paham, bahwa Nisa mengulang aktifitas mandinya barusan. Karena sore tadi, Nisa pun keluar dengan rambutnya yang basah. Ketiga nya mulai untuk ritual makan malam yang nikmat.


"Sayang?"


"Ya, Ma?" jawab kedua insan itu dengan kompak pada sang Mama.


"Ehmmm, menurut Mama... Menurut Mama tap, ya? Eeeeehmmm... Kalian mulai harus pindah rumah deh. Abi, kan udah punya rumah sendiri." ucap Sang Mama, membuat keduanya lantas mendelik heran.


"Mamaaaa... Mama ngusir Nisa? Kenapa? Nisa kurang rajin, bangun kesiangan? Atau...."

__ADS_1


"Engga, sayang.... Engga sama sekali. Maaf kalau sedikit tersinggung, tapi... Mama hanya ingin, kalian fokus berdua. Ngga usah terlalu mikirin Mama. Mama baik sama Bik Nik, disini. Kalian, fokus aja berdua. Pacaran, bahagia, fokus buatin Mama cucu. Mama udah pengen,"


Tatapan Mama sofi, menunjukkan kejujuran dari setiap keinginan nya. Tatapan penuh harap, dari lubuk hatinya paling dalam.


__ADS_2