
"Bagaimana? Saya sudah terlanjur mengeluarkan budget begitu banyak untuk proyek kita. Semua sudah di setting sedemikian rupa. Kenapa bisa batal?"
"Pak, Maaf. Tapi...."
"Mereka tak mau menjual tanah itu," potong Abi, pada ucapan Alex.
"Kalian janji, akan memperjuang kan nya. Kalian tidak konsisten!" Pak Rafael, bahkan sampai menggebrak meja nya.
Abi terkaget, tapi Ia berusaha tetap tenang. Ia tahu, ini resiko terbesar yang telah Ia ambil.
"Akan saya cari, lokasi barunya. Meski, tak sebagus daerah itu. Saya janji," ucap Abi, datar.
Alex hanya menatapnya, dengan segala ketegangan yang ada. Ia bahkan gemetar saat ini. Mengingat, semua jumlah yang di gelontorkan itu berjumlah sangat fantastis.
" Saya tunggu Satu minggu. Jika tidak, semua perjanjian kita, batal. Dan jangan harap, saya akan kembali lagi pada kalian."
__ADS_1
"Baik," angguk Abi.
Pak Rafael pun akhirnya keluar, meski Ia masih tampak begitu geram. Berjalan tegap lurus kedepan, tanpa menoleh lagi pada Abi. Padahal, Abi salah satu yang dapat diandalkan saat ini untuk proyeknya. Apalagi, Pak Rafael adalah termasuk orang yang menggandeng Abi dengan baik, ketika Ia terpuruk di masa lalunya.
"Bagaimana caranya? Kenapa kau terlalu yakin?"
"Aku sedang berfikir, Alex." timpal Abi, yang mengerutkan dahinya berfikir begitu berat saat ini.
Alex tak pernah ingin menyalahkan siapapun dan apapun. Ia faham cinta Abi pada Nisa, yang bahkan rela melepas semuanya demi Nisa. Ia pun tak ingin membahas lagi tentang semua yang telah terlanjur. Meski Ia harus ikut sakit kepala dengan semuanya.
Untungnya, Hotel yang jaug di sana pun sedang tak bermasalah. Pak Jay sudah tak pernah datang lagi sejak Abi bicara padanya kala itu. Hingga semua aman terkendali. Hanya tinggal membereskan, hingga waktunya meresmikan semuanya.
***
Nisa kelelahan. Ia duduk sejenak, sekaligus memijat kaki nya di sofa. Ia hanya membereskan rumah, dan menata semua barang sesuai maunya. Itu hak dari Abi untuknya saat ini. Mengingat, design yang dibuat itu adalah sebagaian kenangan dari masa lalunya.
__ADS_1
Ketika Abi bertanya mengenai rumah yang lain, Nisa hanya menggeleng. Ia siap menempati rumah itu, dengan segala kenangan yang ada. Hanya design, bukan peninggalan mendiang Rere disana.
"Ini, Non, Tehnya." Mba Asih datang dengan secangkir teh manis di tangannya. Nisa menyambutnya dengan senyum, apalagi ketika Mba Asih meraih kaki Nisa untuk Ia pijat.
Mba Asih bukan orang lain. Ia masih keponakan Bik Nik, hingga sudah sedikit paham dengan keluarga itu. Apalagi, sudah mendapat mandat dari Mama untuk mengurus menantu kesayangan nya disana.
Ting! Hp Nisa bergetar. Mendadak sebuah pesan datang padanya. Dari sahabat lama, dan mereka ingin mengajak Nisa untuk reuni bersama di salah satu Cafe di kota itu.
"Lah, kok mendadak? Nisa belum izin sama suami loh." ucap Nisa, yang balik menelpon teman nya itu.
Hanya alasan, karena Ia juga malas sebenarnya. Mengingat, Ia bukanlah Alumni. Hanya mahasiswa yang berhenti ditengah jalan, dan se angkatan dengan mereka.
" Lah, Nis. Masa iya, reuni aja ngga boleh? Segitunya suami mu. Mana, nikah juga ngga undang-undang," Dia lah Maya. Teman yang paling dekat dengan Nisa kala itu. Hanya dia, yang mau berteman dengan Nisa. Sedangkan yang lain tidak.
Nisa banyak berhutang budi padanya. Karena dulu, Maya sering mentraktirnya jajan dan memberi bekal. Tak jarang, Maya menalangi ketika Nisa harus Iuran pindah ruangan ketika magang..
__ADS_1