Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Manisnya Abi untuk Feby


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang, tepat ketika suster masuk dan akan memberi sebuah suntikan ke selang infus Nisa. Abi terbangun segera melepas pelukan sang istri padanya dan membangun kan nya dengan lembut. Tapi, Suster itu membiarkan nya untuk tetap nyenyak seperti itu saja.


"Biarkan saja, memang butuh banyak istirahat." Senyum suster itu padanya.


Abi hanya mengangguk dan mengucek matanya, sembari mencari keberadaan Alex di ruangan itu. Ya, Alex ditemukan terkapar telungkup di sofa, persis seperti orang yang baru saja mabuk berat. Seperti anak yang tak terurus oleh kedua orang tuanya dan berjuang sendiri untuk hidupnya.


Abi melangkah dan meraih paper bag itu dari genggaman Alex. Sudah semalaman Ia meremas ujung paper Bag itu dengan begitu kuat hingga nyaris koyak.


"Kau apakan ini? Dasar!" gerutu Abi, menatap pria itu dengan sengit. Ia segera membawanya masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan dirinya. Setelah semalam bertahan dengan panas dan pengapnya demi yang tercinta.


Tubuhnya yang telah segar pun membawa suasana yang begitu nyaman. Ia tak langsung kembali pada Nisa, melainkan menghubungi Dita di pagi buta ini.


"Ya, ada apa?" tanya Dita, tanpa basa basi semanis madu.

__ADS_1


"Kau urus Nisa pagi ini, Aku ke kantor."


"Kau mengaturku? Mana bisa aku mengurus anak kecil itu!"


"Dia istriku,"


"Tanpa pernah kau ucap, aku tahu dia istrimu. Tapi dia.... Aaaah, kau ini membuat ku emosi pagi-pagi."


"Senam jantung untuk mu," balas Abi, dengan nada datar nya seperti biasa. Ia pun tak lupa menanyakan dimana Dita meletak kan surat tanah itu, karena akan Ia berikan pada Pak Rafael. Karena tanpa sadar, ini adalah hari terakhir kesempatan dari nya untuk Abi.


"Alex, bangunlah..." pinta Abi sembari memakai jam tangannya. Pria itu menggeliat melemaskan otot, lalu duduk dan tampak begitu lemas.


"Mandi, dan ke kantor sekarang." imbuh Abi, dengan tatapan nya tampak begitu serius.

__ADS_1


"Mas, Nisa sama siapa? Katanya mau tunggu, sampai Nisa pulang." Abi segera menghampirinya, dan mendekap hangat tubuhnya.


"Suster akan menjagamu. Dan Dita, akan kemari mengurus kepulanganmu kerumah. Urusan ini, tak dapat ditunda lagi." Nisa hanya mengangguk, dan menuruti Abi. Toh, dia juga sudah tak merasa sakit atau pun sesak lagi. Selang oksigen juga sudah terlepas dari hidungnya saat ini.


***


Abi dan Alex telah tiba di kantor. Mereka mempersiapkan sebuah pertemuan penting dengan Pak Rafael. Apalagi Alex, yang harus kembali mengatur semua jadwalnya agar semakin sempurna dan tak bertabrakan dengan yang lain. Begitu repot, Ia harus mondar mandir mengurusi semuanya. Hanya sesekali meminta bantuan dari Manda, dan itu semampu Manda.


"Pagi, Pak..." sapa Feby, masuk dengan beberapa file di dalam dekapannya.


"Ya, Feby?"  sapa Abi. Ia pun tersenyum dengan begitu ramah, menyambut Feby yang makin dekat menghampirinya. Gadis itu lantas tersipu malu, dengan pipi merah merona bagai tomat yang kematangan. Makin dekat dengan Abi, yang semakin menunjuk kan pesona ketampanan nya yang membuat jiwa Feby meronta-ronta.


"Bapak, sendirian?" tanya Feby dengan lembut.

__ADS_1


"Ya, kau lihat aku sendirian. Nisa, tak bisa menemaniku karena...."


"Bu Nisa, sudah membaik?" pertanyaan Feby, seketika membuat Abi mengerenyitkan dahinya.


__ADS_2