
"Kenapa keluar?"
"Darimana? Perawat?"
"Ya..."
"Biaya," jawab Nisa. Sepanjang perjalanan pulang, tak hentinya memegangi lengan Abi dan meniup lukanya. Meski terpasang perban dengan rapat.
"Aku lupa bilang, kalau Nisa masuk dengan ijazah SMK nya. Tapi, dia bagus. Hingga aku menerimanya dalam pengawasan."
"Nisa ngga pernah bohong, kan? Mas juga ngga nanya, pendidikan Nisa apa..." tatap Nisa padanya. Abi masih saja menatapnya dengan dengan dingin, dengan segala tindakan yang Ia lakukan pada lukanya.
"Kau bertanggung jawab padaku, sampai luka ini sembuh."
"Iya, Nisa tahu. Nisa akan tanggung jawab,"
"Kau pun harus menemaniku ke kantor."
"Lah, kan ada aku yang antar jem..... Baik lah," jawab Alex, yang ucapannya terpotong dengan sebuah tatapan yang Abi berikan padanya.
Nisa mengangguk, dan menyanggupi permintaan Abi. Berusaha bertanggung jawab dengan apa yang sebenarnya tak Ia lakukan dengan sengaja.
" Jika ini adalah salah satu cara mendekatkan diri padamu. Baiklah," pasrah Nisa, dalam hati.
__ADS_1
Mobil pun berhenti. Mama Sofi tampak berlari dan menghampiri mereka dengan cemas.
"Ada yang beritahu Mama?" tanya Abi. Namun, kedua nya menggelengkan kepala bersamaan.
"Ya, Dita...." jawabnya sendiri.
"Abi, ya Allah. Ini bagaimana begini, Sayang? Parah sepertinya..." Mama Sofi mengusap luka sang putra dengan segala cemasnya. Ia pun menggandeng Abi masuk dan membawa nya duduk di sofa untuk mulai di cecar dengan segala pertanyaan yang muncul di benaknya.
" Tak sengaja... Abi hanya menghalangi Nisa pulang sendirian. Itu saja." jawab Abi dengan tenang.
Nisa turun dari atas. Pakaiannya telah berganti dengan piyama. Ia pun segera menyiapkan beberapa perlengkapan untuk mulai menyuntikkan obat pada suaminya itu. Dan menghampirinya untuk memulai tindakan.
"Nisa mau apa?" tanya Mama sofi, menatap segala alat yang tersusun rapi.
"Kamu, nyuntik?" Mama Sofi tampak meragukan. Namun, Abi mengulurkan tangan agar sang Mama tak terlalu banyak bicara. Agar Nisa, bisa fokus dengan pekerjaannya.
"Alex," panggil Abi dengan lirih.
"Ya?" Alex pun langsung menghampiri. Ia meraih kepala Abi, dan menenggelamkan nya ke dalam pelukannya.
"Hah?" Nisa memiringkan kepala, menatap kelakuan mereka berdua.
"Takut suntik," ucap Alex. Hanya menggerakkan bibirnya tanpa suara.
__ADS_1
"Haiiiih," Nisa memutarkan bola matanya.
Tangan kiri Abi yang sakit, di amankan dengan segala cara. Agar tak terkena benturan atau bahkan yang lain. Semua saling menjaga, agar Abi tak bergerak selama proses pengobatannya. Meski, tampak begitu sangat tegang. Apalagi ketika Nisa mulai memasukkan jarum ke lengannya.
"Udah," ucap Nisa. Abi melepaskan kepalanya dari dekapan Alex, menatap lengannya yang baru saja diberi suntikan.
"Cepet?"
"Ya cepet. Mau apa lagi? Suntikan kecil begini," Nisa menunjuk kan jarumnya pada Abi. Membuatnya seketika menutup mata.
"Abi tidur, Mama temenin ke kamar." ajak sang Mama, dengan menggandeng tangan kanannya. Sementara Nisa merapikan alatnya.
"Dita cerita apa?"
"Kenapa?"
"Mama seperti, baru saja mendapat kabar tak baik. Dia membicarakan Nisa?"
"Kenapa Nisa ambekan? Seperti anak kecil. Dan memang seperti itulah, yang sering Mama lihat." jawab Mama sofi, membantu Abi mengganti pakaiannya.
"Kami hanya belum sempat menyesuaikan diri. Nisa bahkan tak sempat, mencari tahu bagaimana Abu dan semua yang ada disekitarnya. Mama kan, yang ingin kami segera menikah?"
"Ya, Maaf. Mama yang salah."
__ADS_1
"Mama ku, bukan lah orang yang gampang terprofokasi dengan apa kata orang. Itu yang Abi tahu," ucap Abi. Menyentuh dan mengusap lembut pipi keriput sang Mama.