Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Alex ganjen


__ADS_3

Penerbangan cukup singkat. Hanya Empat puluh Lima menit, dan Abi mendarat dengan selamat. Bukan kecelakaan, tapi bayangan yang menghantui ketika dirinya sunyi. Dian Ia lega, ketika turun dari pesawat dan Ia masih baik-baik saja tanpa ada nya rasa perih atau kesedihan dalam hatinya.


"Kau dimana?" tanya Alex, yang rupanya sudah menunggu di Bandara.


"Baru turun,"


"Baiklah, aku menunggu."


"Ya," ucap Abi. Ia membuka Hpnya kembali, dan mencoba menghubungi Nisa. Namun, belum ada jawaban.


"Sesibuk kau, sampai mengabaikan ku?" gerutunya, yang mulai posesif. Ia pun kembali berjalan, dengan menyeret koper yang ada di tangannya.


"Abi!" pekik dan lambai Alex dari kejauhan. Abi mengangguk kan kepala dan segera menghampirinya.


"Are you okey?"


"Yes, Iam okey."


"Baiklah... Ayo segera ke mobil, dan kita istirahat." rangkul Alex dengan mesra.


"Langsung saja. Lebih cepat selesai, lebih baik. Aku tak bisa terlalu lama." sergah Abi.


"Ya elah, bentaran doang. Refreshing bro."

__ADS_1


"Sesuai tujuan, Alex." jawab Abi, dengan terus berjalan di iringi Alex yang selalu disamping nya.


Alex membawanga ke mobil, dan berjalan menuju tempat tinggalnya sementara di sana. Sepanjang jalan, Abi disuguhi pemandangan indah dengan pantai di tepi jalan. Dengan pohon pinus yang hijau dan menyegarkan. Serta di sisi lain, adalah hotelnya yang sebentar lagi akan selesai.


"Nisa akan suka ini," kagumnya, dengan spot yang memang memanjakan mata.


"Bagian Pak Jay sebelah mana?" tanya Abi pada Alex, yang tengah fokus menyetir.a


"Hanya bagian ujung, yang akan kita pakai untuk taman. Disana, rencananya akan buat tongkrongan juga untuk anak-anak sekitar, hingga warga bisa berjualan. Mereka yang akan kelola semuanya."


"Bagus, pertemukan kami sebentar lagi."


"B-baiklah," angguk Alex. Tanpa sadar keringat dingin nya keluar, membayangkan Abi akan menyelesaikan semuanya. "Semoga tak ada yang aneh hari ini," harapnya, cemas.


Mereka tiba di kontrakan Alex. Meski hotel sudah ada beberapa tempat yang bisa di tinggali, tapi Alex lebih nyaman disana.


"Ada tukang beberes, disini." tukas Alex, menyiapkan tempat Abi istirahat. Abi hanya mengangguk, dan duduk di kursi meja kerja Alex..


"Istirahat lah dulu. Nisa bilang, kau jangan terlalu lelah..."


"Kau menggubunginya?" Abi mengerenyitkan dahi. "Lancang, padahal aku sejak tadi tak bisa menelponnya."


Abi langsung meraih Hp, dan berusaha lagi menhubungi Nisa beberapa kali. Namun tetap tak bisa.

__ADS_1


"Dia yang menghubungiku, bukan aku yang menghubungi dia. Dasar!" tukas Alex, mulai kesal dengan tingkah Abi. Apalagi, dengan tatapan yang Abi berikan padanya.


"Kenapa seperti itu? Sebelum kau menikah dengan nya, aku mengenalnya duluan. Mau apa kau?"


"Awas kau!" cebik Abi.


Ia terus berusaha menghubungi Nisa, hingga akhirnya wanita itu mengangkatnya. Helaan nafas lega, tampak di wajah Abi yang semula menegang.


"Kau dimana?" ketus Abi..


"Tadi diajak Mama ke pasar. Maaf, Hpnya ketinggalan."


"Bahkan kau sempat menghubungi Alex," tukas Abi.


"Haish, anak ini! Kenapa itu yang kau bahas?" cebik Alex, yang stay di tempatnya.


"Nisa cuma kasih tahu, apa aja yang Mas Abi butuh kan, nanti. Kali aja, ada mimpi buruk, atau apapun. Jadi selama Nisa tak ada, Mas Alex bisa menggantikan." jelas nya dengan santai.


"Jika aku menangis, kau pasti akan memeluk ku, dan itu menenangkan. Tapi.... Jika Alex?" Abi memicingkan mata, dan menatap lekat sahabatnya itu.


Alex pun menggodanya, dengan memberikan posisi yang manis. Meletak kan kaki kanan diatas kaki kiri, dengan kedipan mata nakalnya.


"Aku, yang akan memelukmu. Muaaach! " kecupnya dari kejauhan.

__ADS_1


Abi hanya menatapnya takut, sembari menelan salivannya dalam-dalam.


"Kau, Gila!" ucap Abi datar, tapi Alex hanya tersenyum sembari terus menggodanya.


__ADS_2